Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Karawang Tolak Film Arwah Goyang Karawang
Oleh : Tunggul Naibaho
Kamis | 17-02-2011 | 17:15 WIB
agk.jpg honda-batam

Karawang, batamtoday - Pemerintah, DPRD, seniman, dan kalangan LSM menuntut penarikan film 'Arwah Goyang Kawarang' (AGK) dari peredaran, dan secara tegas menolak peredaranya di wilayah kabupaten Karawang karena dinilai telah mencemarkan nama baik Karawang dan telah mencederai seni jaipong karawang yang penuh seni dan dimanipulir dengan gerakan penuh erotisme dan menampilkan kesan mesum.

Ketua LSM Lodaya Karawang, Nace Permana, film AGK yang dirilis pada 10 Februari 2011 itu merupakan bentuk dari pelecehan terhadap Karawang. Sebab, judul film tersebut menggunakan nama "Karawang", tanpa ada izin atau pemberitahuan terlebih dahulu ke pemerintah daerah.

"Penggunaan judul film itu jauh menyimpang dari nilai-nilai budaya Karawang. Begitu juga dalam cerita, hanya mengenai konflik, tarian erotis, dan lain-lain. Film tersebut juga menggiring asumsi bahwa Karawang sebagai daerah 'mesum'," cetus Nace ketika melakukan unjuk rasa di Kantor Kabupaten Karawang, Kamis 17 Februari 2011, yang menuntut Bupati agar mengambil tindakan tegas untuk melarang peredaran AGK di Karawang.

Suwanda, salah seorang seniman tari Karawang mengaku sakit hati atas pencatutan nama tari Jaipong pada film Arwah Goyang Karawang yang dibintangi Dewi Perssik dan Julia Perez.

"Itu bukan tari Jaipong. Hanya pencatutan nama tari Jaipong," kata Suwanda.

Menurut dia, tari jaipong yang sebenarnya bukanlah tarian dengan gerakan erotis dan vulgar, seperti yang ditayangkan pada film Arwah Goyang Karawang. Tapi, ada nilai-nilai keindahan pada seni tari Jaipong. Pakaian yang dikenakan penari Jaipong juga tidak vulgar.

"Kalau dilihat yang sebenarnya, pakaian yang dikenakan penari Jaipong itu tertutup, ada konde dan cukup bagus. Tidak seperti yang dikenakan pemeran pada film Arwah Goyang Karawang. Jadi, saya menilai dalam film itu bukan tari Jaipong. Hanya pencatutan nama tari Jaipong," kata Suwanda.

Penasihat Komunitas Peduli Jaipong Jawa Barat, Mas Nanu Muda, menyesalkan film yang telah mencatut nama tari Jaipong. Sebab, tari Jaipong yang sebenarnya bukanlah tarian erotis. Ada nilai-nilai kesantunan dan estetika pada tarian itu.

"Yang ada pada tari jaipong itu ialah nilai estetika, bukan eksploitasi seperti yang ditayangkan dalam film itu," kata dia. Munculnya film Arwah Goyang Karawang akan menimbulkan citra negatif terhadap tari Jaipong.

Sebab, yang ditampilkan dalam film tersebut tidak mengandung unsur tari Jaipong. Atas hal tersebut, pihaknya mendukung upaya berbagai pihak serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang yang menolak peredaran film tersebut.

Kalangan DPRD Karawang juga mengecam keras fil AGK tersebut.

"Apapun alasannya, film itu tidak boleh tayang, karena telah meresahkan masyarakat Karawang secara umum," kata Wakil Ketua III DPRD setempat Budiwanto.

Politisi dari PKS tersebut mengaku mendukung aksi penolakan peredaran film Arwah Goyang Karawang, karena sudah dinilai berbagai pihak "mencatut" nama Karawang dan tari jaipong.

"Dalam film itu bukan menonjolkan tari jaipong sebagai seni dan budaya lokal, tetapi hanya mengekploitasi syahwat saja" kata Budiwanto.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, Acep Jamhuri, menanggapi penlokan atas film AGK menyatakan akan memastikan film itu tidak akan beredar di Karawang. Sedangkan untuk mengatasi VCD bajakan film itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk menarik kepingan VCD film itu.

"Kami sudah koordinasi kepada pengelola bioskop di Karawang. Jadi, film itu dipastikan tidak akan beredar di Karawang," kata Acep.