Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Komisi II DPRD Kepri Minta Pengelola Kapal Feri Batam-Singapura Turunkan Harga Tiket
Oleh : Aldy
Rabu | 06-07-2022 | 11:24 WIB
RDP-tiket-kapal.jpg Honda-Batam

PKP Developer

Komisi II DPRD Kepri saat RDP bersama pengelola kapal feri Batam-Singapura di Graha Kepri, Batam Center, Kota Batam, Selasa (5/7/2022). (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pemerintah (eksekutif dan legistaltif) sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kembali dunia pariwisata di Provinsi Kepri. Berbagai skema telah dilakukan, mulai dari awal pembukaan pintu masuk bagi wisatawan mancanegara lewat Travel Bubble hingga pembebasan asuransi bagi Wisman yang berkunjung ke Kepri.

Sejatinya, kebangkitan kembali dunia pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, akan tetapi peran para pelaku usaha juga sangatlah menentukan.

Mulai dari pelaku UMKM, perhotelan, kuliner serta berbagai usaha pendukung pariwisata lainnya. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah, dukungan penuh dari operator kapal feri, sebagai lokomotif bagi wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Provinsi Kepri, khususnya ke Kota Batam.

Anggota Komisi ll DPRD Provinsi Kepri, Sahat Sianturi mengatakan, perjuangan Pemprov Kepri berkolaborasi dengan DPRD Kepri untuk menghidupkan kembali dunia pariwisata, khususnya di Kota Batam, tidak lah mudah, selain sejumlah skema yang telah diupayakan, pemberian vaksin kepada hampir semua pelaku pariwisata pun dilakukan.

Akan tetapi, masyarakat dan pelaku usaha pariwisata mengeluhkan tingginya harga tiket kapal feri khususnya Batam tujuan Singapura. Tidak hanya pemilik travel, warga Singapura yang biasa berkunjung ke Batam juga sama, tingginya harga tiket merupakan satu pertimbangan bagi mereka untuk selalu berkunjung ke Batam.

"Perjuangan ini sudah sangat luar biasa, sebagian orang hanya melihat hasilnya, akan tetapi proses ini sangat panjang, pendekatan kepada semua stakeholder hingga ke tingkat kementerian pun sudah dilakoni Pemprov Kepri. Hal seperti ini yang harus kita dukung," ujar Sahat Sianturi, saat mengikuti RDP dengan sejumlah agen kapal feri di Gedung Graha Kepri, Batam Center, Kota Batam, Selasa (5/7/2022).

Politisi PDI Perjuangan ini melanjutkan, pariwisata merupakan salah satu tumpuan penerimaan asli daerah (PAD) pascapandemi Covid-19. Apabila pariwasata Kepri maju, secara langsung akan berdampak positif kepada para usaha UMKM sebagai pendukung pariwisata.

"Di sini kami minta dukungan penuh dari agen kapal feri, sebagai pengangkut Wisman, tidak perlu kembali ke harga semula, Rp 280 - 350 ribu (PP) sebelum pandemi. Namun, ada harga sikoligis, Rp 700 ribu (PP) itu masih sangat tinggi, di sini kita minta penjelasan yang konkrit kepada para agen kapal feri," kata Sahat Sianturi.

Senada, anggota Komisi ll DPRD Provinsi Kepri lainya, Rudy Chua, mengatakan disaat operator kapal melakukan kenaikan dan menetapkan harga tiket dengan seragam, hal ini bisa dikatakan ada kartel.

"Ini indikasinya sangat tinggi, kalau hal ini mengarah ke kartel, kita tidak menuduh, akan tetapi indikasinya mengarah ke sana," ucap Rudy Chua.

Rudi Chua menjelaskan, sesuai dengan Undang Undang nomor 5 tahun 1999 tentang Monopoli, ada beberapa hal yang dilarang, salah satunya adalah kartel dan penetapan harga.

"Kalau kita lihat, penetapan harga Rp 700 ribu yang sebelumnya Rp 800 untuk PP Batam - Singapura itu dilakukan secara serentak dan seragam, oleh para operator dan agen kapal, sekali lagi itu indikasinya ke sana," jelasnya.

Salah satu operator kapal feri, Majestic Batam tujuan Singapura, Victor, mengatakan, kenaikan harga tiket itu, semata-mata untuk menutupi biaya operasional, terlebih pengisian BBM dilakukan di Singapura, dan harganya mahal, akan tetapi kwalitas dari BBM tersebut sesuai dengan standar mesin kapal mereka.

"Kami menggunakan BBM Singapura dengan standarisasi 10ppm Sulfur, kwalitas itu yang sesuai dengan mesin kami, harganya 1,7 dollar Singapura/liter, Pertamina hanya memiliki kwalitas 50ppm Sulfur, itu belum cocok dengan mesin kapal kami," terang Victor.

Memang saat ini cost terbilang sangat tinggi, sambung Victor, dari harga Rp 700 ribu itu, sudah termasuk seaport tax Batam dan Singapura, termasuk biaya pelabuhan, artinya dari harga itu pihaknya hanya mendapatkan Rp 500 ribu, atau Rp 250 ribu sekali jalan.

"Dari Rp 250 ribu sekali jalan itu yang kami dapat, nantinya ada biaya operasional, gaji ABK dengan standar gaji Singapura, sewa konter Batam dan Singapura, seperti itu yang bisa kami jelaskan," tutup Victor.

Editor: Gokli