Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia Serukan Jalan Damai Atasi Konflik Rusia-Ukraina
Oleh : Opini
Sabtu | 26-02-2022 | 09:04 WIB
A-PERANG-RUSIA-UKRAINA.jpg Honda-Batam
Serangan pasukan Rusia ke wilayah Ukraina. (Foto: Ist)

Oleh Deka Prawira

DUNIA Internasional tak bisa menutup mata bahwa invasi Rusia ke Ukraina merupakan serangan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Pemerintah Indonesia pun tak tinggal diam dan berupaya menyerukan jalan damai guna mengatasi konflik antara kedua negara tersebut yang berpotensi memberikan dampak langsung bagi pemulihan ekonomi dalam negeri.

Sebulan terakhir ini negara-negara barat termasuk Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) melaporkan tentang potensi serangan Rusia ke Ukraina. Agresi Rusia disebut akhirnya menjadi kenyataan.

Kementerian Pertahanan Rusia juga baru saja mengumumkan bahwa pihaknya telah menghancurkan pangkalan udara militar Ukraina. Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina.

Pemerintah Indonesia secara tegas mengatakan sejumlah hal terkait dengan serangan militer yang ada di Ukraina. Kementerian Luar Negeri Indonesia menuturkan pada laman reminya kemlu.go.id.

Pertama, Penghormatan terhadap tujuan dan prinsip piagam PBB dan hukum internasional, termasuk penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan, penting untuk terus dijalankan.

Kedua, Serangan militer di Ukraina tidak dapat diterima. Serangan juga sangat membahayakan keselamatan rakyat dan mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan dan dunia.

Ketiga, Indonesia meminta agar situasi ini dapat segera dihentikan dan semua pihak dapat menghentikan permusuhan serta mengutamakan penyelesaian secara damai melalui diplomasi.

Keempat, Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata guna mencegah memburuknya situasi.

Pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri, telah mempersiapkan rencana evakuasi WNI. Keselamatan WNI selalu menjadi prioritas pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi telah menelpon Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba. Secara terpisah Menlu Retno membicarakan berbagai isu termasuk perdamaian kedua negara menyusul ketegangan yang tengah berlangsung.

Retno juga menyampaikan pesan perdamaian kepada kedua Menlu. Retno menegaskan keduanya dapat menahan diri dari situasi yang tengah berkembang dan memberikan kesempatan bagi dialog dan diplomasi untuk bekerja dalam situasi sulit ini.

Dirinya mengatakan, semua negara bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan perdamaian. Sebab, konflik tidak ada manfaatnya dan energi dunia saat ini harus diarahkan untuk mengatasi pandemi dan pemulihan ekonomi dunia.

Sementara itu, Ukraina telah mengumumkan keadaan darurat mulai Rabu 23 Februari 2022 tengah malam untuk seluruh negara, kecuali wilayah Luhansk dan Donetsk yang dikuasai oleh separatis pro-Rusia. Parlemen telah menyetujui keamanan darurat yang akan berlangsung pada 30 hari.

Namun keadaan darurat bisa diperpanjang hingga 60 hari jika diperlukan, tergantung pada situasi di wilayah tersebut. Separatis di wilayah Donetsk dan Luhanks mengklaim telah memisahkan diri dari Ukraina. Mereka telah membentuk Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhanks dalam referendum tanggal 11 Mei 2014.

Pada tahun 2014, Moskow mulai mendukung pasukan separatis di Ukraina timur, setelah menginvasi Semenanjung Krimea Ukraina. Konflik tersebut telah merenggut lebih dari 13 ribu nyawa.

Pada kesempatan berbeda, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (UNPAD) Teuku Rezasyah mengatakan, Indonesia harus bisa menjadi negara yang berdiri di tengah Rusia dan Ukraina, yang 'kaya' akan ide-ide untuk mengakhiri peperangan antara Rusia dengan Ukraina.

Apalagi Indonesia memiliki hubungan kedekatan baik dengan Ukraina dan Rusia. Kedekatan tersebut terbentuk baik kaitannya dengan hubungan perdagangan hingga investasi. Dirinya juga mengatakan, perang antara Rusia dan Ukraina juga akan berdampak pada aliran pergerakan manusia di Ukraina dan sekitarnya.

Presiden RI Joko Widodo selaku Ketua G20 tentu saja harus bisa menggunakan pengaruhnya untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terjadinya krisis lanjutan Rusia serta terus mendorong upaya non kekerasan guna menghentikan invasi militer di Ukraina.

Dalam akun Twitternya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya angkat bicara mengenai konflik yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Jokowi pun merespon agar Rusia dan Ukraina agar menghentikan pertikaian antara keduanya. 'Setop perang'.

Jokowi mengatakan bahwa perang daoaty berdampak kepada seluruh umat manusia. Bahkan bisa menyengsarakan. Selain itu, Jokowi juga mengatakan perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia.

Invasi militer tentu saja berpotensi memunculkan bahaya yang lebih besar dan berkelanjutan. Sebagai negara super power Rusia tentu saja memiliki peran sangat penting dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan dunia.
Pemerintah Indonesia terus mengambil peran dengan mengimbau kedua belah pihak agar segera mengakhiri konflik.

Namun demikian, Indonesia tidak dapat sendirian karena diperlukan dukungan solid dari seluruh negara agar konflik Rusia-Ukraina segera berakhir.*

Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini Jakarta