Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dukungan Tokoh Masyarakat Papua Pada Perpanjangan Otsus
Oleh : Opini
Jum\'at | 23-10-2020 | 14:20 WIB
otsus-papua21.png Honda-Batam
Ilustrasi Otonomi Khusus Papua. (Foto: Ist)

Oleh Rebecca Marian

JELANG perpanjangan otonomi khusus tahun 2021 mendatang, warga asli Papua menunggu dengan hati gembira. Mereka telah merasakan manfaat program ini dan membutuhkanya lagi, agar Bumi Cenderawasih lebih maju. Para tokoh masyarakat juga sejalan dengan rakyatnya, dan mendukung penuh perpanjangan otonomi khusus di Papua.

Perpanjangan otonomi khusus menjadi jadwal penting tahun 2021. Presiden Jokowi sudah menyiapkan prosedurnya sejak awal 2020, agar program ini juga mengulang keberhasilan otsus jilid 1. Selain meningkatkan dana otsus, maka sosialisasi melalui dunia maya dan dunia nyata juga jadi cara agar prosesnya berlangsung dengan mulus.

Setelah 20 tahun memiliki keistimewaan dalam Otsus, maka warga Papua tidak menolak perpanjangan program ini. Mereka sudah menikmati berbagai infrastruktur yang dibangun dengan dana otsus, seperti jalan Trans Papua dan Bandara Internasional Sentani. Jadi diharap dalam otsus jilid 2 ada peningkatan lagi dalam kehidupan warga Bumi Cendrawasih.

Para tokoh masyarakat Papua setuju akan perpanjangan otsus. Ondoafi Enggros Tobati Kota Jayapura Herman Hamadi menyatakan bahwa perpanjangan otonomi khusus wajib didukung, karena terbukti mensejahterakan rakyat Papua. Program ini juga berguna agar pembangunan di Bumi Cendrawasih makin maju.

Sementara Tokoh Adat Kampung Bagia Pir 3 Kabupaten Keerom, Fransiskus Keerom berpedapat bahwa perpanjangan otonomi khusus jangan ditolak oleh warga Papua. Karena program ini mendongkrak kemajuan masyarakat. Juga termasuk kepedulian pemerintah pusat terhadap Bumi Cendrawasih.

Para tokoh adat mendukung otsus karena mereka melihatnya sebagai perhatian dari pemerintah pusat. Karena sejak Indonesia merdeka, pembangunan baru dilakukan di Indonesia bagian barat. Setelah adanya program otonomi khusus, maka Papua sebagai bagian timur Indonesia juga dibangun besar-besaran, agar makin maju infrastrukturnya dan cerdas rakyatnya.

Meskipun otsus banyak didukung, namun tetap butuh evaluasi. Tujuannya agar program ini disempurnakan, agar dananya bisa terserap langsung ke masyarakat. Jadi tidak ada lagi cerita suatu daerah di Papua yang rakyatnya kelaparan saat gagal panen. Karena dana otsus diberikan tak hanya untuk pembangunan, tapi juga pendidikan agriculture kepada petani.

Menurut Tokoh Adat Kampung Skori Kabupaten Jayapura Demianus Kedubrung, evaluasi program otsus wajib dilakukan agar berjalan dengan maksimal. Sehingga ada pengawasan yang ketat, yang menjamin bahwa dananya diberikan tepat sasaran. Selama ini, ia setuju jika otsus bermanfaat, karena berguna untuk bidang kesehatan dan pendidikan di Papua.

Pengawasan ketat diperlukan agar tidak ada penyelewengan anggaran. Karena dana program otsus sangat besar, sampai milyaran rupiah, sehingga jika ada oknum nakal bisa rawan dikorupsi.

Segenap pihak mulai dari kepolisian sampai KPK juga wajib bekerja sama mengawal otsus agar berjalan lancar, tanpa ada kasus kebocoran anggaran.
Selain evaluasi dan pengawasan, maka perlu diadakan program pendampingan, agar otsus jilid 2 berhasil.

Untuk bidang pendidikan, bisa didatangkan tenaga ahli untuk membuat sekolah yang tak hanya bagus secara fisik, tapi juga punya kurikulum yang bagus. Sehingga anak-anak Papua bisa belajar dengan nyaman dan proses pengajarannya menyenangkan.

Anak-anak Papua juga mendapat jaminan untuk sekolah dan kuliah, bahkan sampai Kampus di luar negeri. Beasiswa dari dana otsus membantu mereka mencapai cita-cita setinggi langit. Saat ini alumni beasiswa otsus adalah Billy Mambrasar yang sukses menjadi Staf Khusus Presiden Jokowi dari kalangan milenial.

Dalam proses menuju otsus jilid 2, semua tokoh masyarakat di Papua menyetujuinya. Mereka sudah merasakan manfaat dana otsus di bidang pendidikan dan lain-lain. Walau otsus jilid 1 berhasil, namun pada perode selanjutnya wajib ada pengawasan dan evaluasi. Agar program ini bisa berjalan lebih baik lagi.*

Penulis adalah Mahasiswi Papua tinggal di Yogyakarta