PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menelaah Strategi Pemerintah Picu Perkembangan Ekonomi Nasional
Oleh : Opini
Selasa | 03-12-2019 | 12:53 WIB
pertumbuhan-ekonomiok.jpg honda-batam
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi nasional. (Foto: Ist)

Oleh Aldia Putra

PERKEMBANGAN ekonomi Indonesia terus mengalami tren positif selama era Presiden Joko Widodo. Bahkan, ekonomi Indonesia masuk dalam peringkat 3 di antara negara-negara G20. Hal itu patut diapresiasi ditengah gejolak ekonomi yang tengah melanda dunia.

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa kondisi Moneter fiskal Indonesia cukup baik. Ia juga berharap agar seluruh pihak dapat terus kompak agar ekonomi bisa terus positif.

Harapan tersebut ternyata terwujud, di depan para CEO dan pimpinan perusahaan, Jokowi mengucapkan rasa syukurnya karena Indonesia masih menduduki peringkat ke 3 di antara negara G20 lain dari sisi pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikan dalam pidatonya pada 28 November 2019 di Hotel Ritz Carlton.

Jokowi menuturkan bahwa Indonesia berada di bawah India dan China. Mantan Walikota Surakarta itupun mengungkapkan hal ini untuk membangkitkan rasa optimisme.

Negara G20 merupakan negara yang merepresentasikan 85 persen Produk domestik Bruto (PDB) global dan dua pertiga populasi dunia.

Anggota dari G20 terdiri dari Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris dan Uni Eropa.

Menurutnya, banyak negara tumbuh stagnan bahkan mengalami resesi akibat perang dagang, persaingan geopolitik, isu Brexit hingga gejolak di Amerika Latin. Namun, Indonesia dapat menghadapi hantaman tersebut dengan memperkuat fiskal serta menjaga konsumsi dalam negeri.

Dengan penuh rasa optimis, Jokowi memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini ada di kisaran 5.04-5,05 persen. Proyeksi tersebut meleset dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,3 persen.

Ia juga meyakini apabila pemerintah berkonsentrasi menghadapi masalah-masalah internal, Jokowi yakon pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin baik.

Jokowi juga telah menyampaikan hasil pertemuannya dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva yang berharap agar Indonesia dapat mengelola fiskal secara prudent atau lebih berhati-hati karena kondisi global yang belum jelas.

Jokowi pun mengaku setuju bahwa pengelolaan fiskal Indonesia harus Prudent. APBN menurutnya, hanya mempengaruhi kurang lebih 14 % terhadap ekonomi Indonesia. Sebagian besar lainnya, sekitar 86 % dipengaruhi oleh swasta dan BUMN.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Keuangan 2 Periode Sri Mulyani mengakui, Pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dalam mengadapi ketidakpastian ekonomi global yang terus meningkat. Pemerintah juga akan terus fokus memperbaiki daya kompetisi dan produktifitas ekonomi melalui kebijakan investasi, perdagangan dan pembangunan infrastruktur, serta perbaikan kualitas SDM.

Prestasi ini tentu patut kita banggakan, sekaligus menjadi optimisme bangsa ini untuk dapat bersaing di era globalisasi.

Atas prestasi ini tentu ada yang bertanya-tanya, mengapa Indonesia bisa masuk dalam Negara G20 dan dapat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT G20 yang pada tahun ini telah diselenggarakan di Osaka, Jepang.

Tentu kita semua tahu bahwa negara-negara yang tergabung dalam KTT G20 merupakan negara yang amat bergengsi.

Indonesia sendiri telah diberi kehormatan menjadi anggota G20 ini pada tahun 2008 dan sebagai satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20.

Sementara itu, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa forum G20 bukan hanya forum ekonomi, tetapi juga forum peradaban, karena beberapa negara anggotanya adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama muslim seperti Turki, Arab Saudi dan Indonesia.

Untuk menjawab kenapa Indonesia bisa bergabung dalam Forum G20. Hal tersebut salah satunya disebabkan bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang majemuk, bersuku-suku dan penganut agama-agama penting di dunia, juga bisa menjadi contoh negara lain tentang bagaimana masyarakat yang majemuk itu bisa hidup secara berdampingan.

Sementara itu, Indonesia juga memiliki potensi ekonomi yang tinggi, baik sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Bonus demograsfi yang dialami Indonesia dimana jumlah penduduk usia produktif tinggi dan kelas menengahnya mulai tumbuh pesat menunjukkan pada dunia begitu besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia.

Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar ke 4 di dunia setelah China, Amerika Serikat dan India. Jumlah Penduduk yang besar ini menunjukkan potensi pasar yang besar bagi produk-produk yang ada di dunia.

Prestasi ini tentu bukan sesuatu yang main-main, kita semua pun berharap agar Indonesia mampu menjadi jembatan peradaban dunia dengan segala potensi yang dimiliki baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.*

Penulis adalah pemerhati sosial ekonomi