PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Oleh : Redaksi
Sabtu | 09-11-2019 | 10:41 WIB
ILustrasi-maulid-nabi.jpg honda-batam
Ilustrasi. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Sejarah lahirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diperingati dengan menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini tak dikenal selama Rasulullah SAW masih hidup.

Dikutip dari islami.co, keinginan untuk merayakan hari lahir Muhammad SAW muncul pada masa khalifah Umar bin Khattab yakni sekitar tahun 22 atau 23 hijriyah (638-an Masehi). Namun ketika itu para sahabat kesulitan untuk menentukan tanggal dan hari pasti kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Terkait kelahiran Nabi Muhammad SAW sendiri memang ada dua pendapat. Pertama yang disepakati para ulama, Rasulullah diyakini lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Pendapat kedua disebut Nabi Muhammad lahir pada 9 Rabiul Awal Tahun Gajah.

Dosen sejarah peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zakaria M.Ag mengatakan, sejarah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diketahui muncul di masa Bani Fatimiyyah di Mesir. Dinasti Fatimiyyah didirikan oleh Sa'id bin Husain di Tunisia sekitar tahun 909 M dan berideologi Syiah.

Nama Fatimiyah diambil dari putri Rasulullah SAW yang juga istri Ali bin Abi Thalib. Sa'id bin Husain dan para pendiri Dinasti Fatimiyah mengklaim masih satu garis nasab atau keturunan dengan Fatimah.

Dinasti Fatimiyah runtuh pada tahun 1169 Masehi. Lahirlah kemudian Dinasti Ayyubiah pimpinan Salahudin Al Ayyubi. Ketika itu, menurut Zakaria, Shalahuddin al Ayyubi yang menaklukan Bani Fatimiyyah di Mesir melihat warga merayakan hari lahir Ali bin Abi Thalib sebagai wujud kecintaan mereka.

"Salahuddin al Ayyubi kemudian menggagas festival syair, yang kemudian muncul syair-syair besar di bidang cerita tentang Nabi yaitu ada Barzanji dan Ad Diba'I. Nah, dari sanalah muncul perayaan-perayaan maulid," kata Zakaria saat berbincang dengan detikcom, Jumat, 1 November 2019 pekan lalu.

"Jadi sebenarnya awalnya itu perayaan maulid untuk Ali bin Abi Thalib dan sekarang sudah menjadi tradisi maulid itu," imbuh dia.

Salahuddin al-Ayyubi melihat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa membangkitkan semangat juang umat Islam. Sehingga dia pun kemudian menginstruksikan perayaan Maulid Nabi setiap tahun di tanggal 12 Rabiul Awal. Perintah itu dia sampaikan pada musim haji tahun 579 hijriyah atau 1183 Masehi.

Mengenai dalil perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Zakaria menyebut ada beberapa hadits yang menjelaskan. Salah satunya ketika para sahabat bertanya alasan Rasulullah berpuasa di hari Senin dan Kamis. Kepada para sahabat, Rasulullah menjawab bahwa Beliau dilahirkan pada hari Senin dan diangkat menjadi Rasul di hari Kamis.

"Itu artinya Nabi memperingati hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Untuk generasi sekarang merayakan peringatan maulid dengan berpuasa di hari Senin dan membaca riwayatnya," kata Zakaria.

Menurut Zakaria, tak ada dalil yang melarang merayakan hari kelahrian. Bahkan di dalam Al Quran Surat Maryam ada ucapan selamat hari kelahiran Nabi Musa sampai dua kali. "Artinya Al Quran saja membolehkan orang merayakan hari kelahiran itu, apalagi kalau sekarang di dunia sudah memperingati maulid itu hal yang bagus," paparnya.

Editor: Chandra