Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Penyelamat Satwa Chanee Curhat, Frustrasi Hadapi Karhutla Kalteng
Oleh : Redaksi
Jumat | 27-09-2019 | 15:04 WIB
brule-penyelamat-satwa.jpg Honda-Batam
Aurelien Francis Brule atau yang biasa disapa Chanee Kalaweit, penyelamat satwa di Kalimantan. (Foto: youtube.com)

 

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Aurelien Francis Brule atau yang biasa disapa Chanee Kalaweit mencerikatan rasa frustasinya mengenai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan melalui sebuah video. Chanee merupakan wildlife rescue atau penyelamat satwa liar di hutan Kalimantan.

 

"Saya merasa frustrasi, karena skenario 2015 terulang kembali, padahal kita bisa mengantisipasinya," ujar Chanee melalui sambungan telepon, Senin, 23 September 2019, ketika ditanya mengenai video yang diunggah dalam akun YouTube-nya yang menceritakan kekesalannya terhadap asap akibat karhutla.

Chanee adalah pria kelahiran Fayence, Distrik Var, Perancis Selatan. Dia datang ke Indonesia sejak berusia 18 tahun pada 1998 dengan misi penyelamatan satwa primata yaitu Owa. Owa merupakan primata dengan tangan panjang yang termasuk keluarga primata.

Chanee yang tinggal di daerah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah menceritakan kondisi daerah yang terdampak asap. Kondisi di wilayahnya sama seperti pada 2015, adanya kiriman asap dari Palangkaraya, yang paling banyak titik apinya.

"Mengingat itu saya sedih dan frustrasi, karena persis dengan 2015. Saat itu saya sendiri membuat video marah karena harus menyaksikan anak-anak saya sakit batuk. Dan skenario ini terulang kembali, padahal posisi saya tidak lagi di Palangkaraya tapi di Muara Teweh, sekitar 6 jam dari Palangkaraya," kata Chanee, menceritakan dalam video berdurasi 4 menit 36 detik.

Atas kecintaannya terhadap Indonesia, Chanee menjadi warga negara Indonesia pada 2012, dan mendirikan Yayasan Kalaweit, yayasan penyelamat satwa liar. Chanee tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan masyarakat Palangkaraya.

Menurutnya, ribuan orang di Palangkaraya susah bernapas akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Dan yang membuatnya sedih, bencana tersebut terulang kembali di 2019. Sebenarnya, kata Chanee, situasi tersebut bisa diantisipasi.

"Kalau sekarang kebetulan dua hari lalu sudah ada hujan dan tidak separah seminggu lalu. Saya tadi menyetir dari Kabupaten Buntok, Kalimantan Tengah, sekitar tiga jam naik mobil dari Palangkaraya," tutur Chanee. "Lahan gambur kebakaran di mana-mana kecuali perkebunan sawit, tapi di dekat kebunnya kok terbakar dan sama sekali tidak ada pemadam kebakaran di sana."

Sebelumnya, pada 2015, Chanee juga mengunggah video pesan tentang kebakaran hutan di Kalimantan Tengah di youtube. Chanee yang beristrikan wanita Dayak dengan dua anaknya, Andre dan Enzo memprotes pemerintah pusat atas lambannya penanganan kabut asap di Kalimantan Tengah yang berlangsung saat itu

Chanee juga memberikan saran untuk mengatasi kebakaran lahan yaitu harus adanya tindakan pencegahan, karena menurutnya, kebakaran hutan sulit untuk diredakan kalau tidak dilakukan pencegahan.

"Pencegahan itu harus diberlakukan larangan api saat musim kemarau dari tanggal tertentu. Setiap tahunnya akan berbeda, kalau el nino muncul otomatis larangannya akan lebih lama dibandingkan tahun biasa yang curah hujannya meningkat," ujar pria dengan dua orang anak ini.

Video yang diunggah Chanee pada 18 September 2019 dengan judul "Chanee membahas bencana asap." Hingga berita ini ditayangkan, video tersebut sudah ditonton lebih dari 3.000 kali, dengan 300 lebih yang menyukai dan mendapat lebih dari 50 komentar.

Sumber: Tempo.co
Editor: Dardani