PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BMKG Sebut Langit Memerah di Jambi Akibat Asap Tebal Karhutla
Oleh : Redaksi
Minggu | 22-09-2019 | 15:05 WIB
langit_merah_jambi.jpg honda-batam
Fenomena langit memerah di Muaro Jambi akibat kabut asap karhutla

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Beberapa hari terakhir, beredar viral di masyarakat gambar langit di Muaro Jambi berwarna merah yang akibat sinar matahari tertutup asap tebal. Menurut satelit Himawari, fenomena tersebut diakibatkan oleh banyaknya titik panas (hotspot) dan sebaran asap tebal.

"Hasil analisis citra satelit Himawari-8 tanggal 21 September di sekitar Muaro Jambi, tampak terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal," kata Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Akhmad Taufan Maulana, Minggu (22/9/2019).

Ia menjelaskan, asap dari kebakaran hutan dan lahan ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran. Wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal.

"Hal ini dimungkinkan karena kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut," ujarnya.

Ia menambahkan, tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran

Sementara itu Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto menambahkan, jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol) yang dikenal dengan istilah hamburan mie atau mie scattering.

Ia menjelaskan, mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak visible matahari. Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer.

"Dari data BMKG kita mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran

Selain konsentrasi tinggi, dia melanjutkan, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah.

Disinggung mengapa dikatakan ukuran partikel bisa lebih dari 0.7 mikrometer, Siswanto menjelaskan ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektum visibel (0.4-0.7 mikrometer).

Sumber: Republika.co.id

Editor: Surya