PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Optimalisasi Perikanan Di Kepulauan Riau
Oleh : Opini
Rabu | 21-08-2019 | 18:52 WIB
zulfikar-halim1.jpg honda-batam
Zulfikar Halim Lumintang. (Foto: Istimewa)

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.

Ikan merupakan hewan yang banyak mengandung gizi, diantaranya protein. Protein yang terkandung di dalam ikan lebih tinggi daripada protein serealia yang terdapat pada kacang-kacangan, setara dengan daging, sedikit dibawah telur. Protein ikan sangat mudah dicerna, sehingga baik bagi balita yang sistem pencernaannya belum sesempurna orang dewasa. Asam amino juga terkandung pada protein ikan dengan bentuk yang mendekati asam amino di dalam tubuh manusia.

Komposisi asam amino protein ikan juga lebih lengkap dibanding dengan bahan makanan lain, salah satunya taurin, yang bertindak dalam menstimulasi sel-sel otak pada bayi. Selain protein, juga terdapat berbagai macam vitamin, diantaranya vitamin A yang berfungsi mencegah kebutaan pada anak, vitamin D yang berfungsi pada pertumbuhan dan kekuatan tulang, vitamin B6 yang berguna mencegah anemia dan kerusakan saraf, dan vitamin B12 yang bermanfaat dalam pembentukan sel darah merah.

Ikan juga menjadi hewan yang sangat spesial bagi umat Muslim, dimana bangkai ikan yang belum rusak masih halal untuk dimakan. Sedangkan bangkai hewan lain diharamkan untuk dimakan. Melihat begitu banyaknya kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh manusia, terutama bagi bayi. Maka sangat dianjurkan bagi orang tua untuk mengenalkan ikan pada anak-anak agar gemar mengkonsumsi ikan.

Berbicara mengenai ikan, ternyata ikan dapat memberikan kontribusi ekonomi yang cukup pada masyarakat di Indonesia. Utamanya masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan. Karena hampir bisa dipastikan bahwa masyarakat yang tinggal di kepulauan, menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan alias menjadi nelayan.
Contoh nyatanya adalah masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau. Kita mengetahui bahwa tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Riau tersebar pada pulau-pulau kecil. Hal tersebut menjadikan masyarakat di pesisir beradaptasi menjadi seorang nelayan.

Nilai ekonomis dari subsektor perikanan tercermin melalui peranannya pada sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Tercatat pada periode 2014-2018 subsektor perikanan selalu memiliki peranan lebih dari 60% terhadap PDRB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Pada tahun 2014 subsektor perikanan berkontribusi sebesar 65,43% terhadap PDRB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kemudian mengalami penurunan 0,19 poin pada tahun berikutnya menjadi 65,24%. Dan kembali merangkak naik menjadi 66,75% atau meningkat 1,51 poin pada tahun 2016.

Fluktuatifnya besarnya peranan subsektor perikanan kembali berlanjut pada tahun 2017. Tercatat peranan subsektor perikanan kembali turun di angka 65,07% atau turun 1,68 poin dari periode sebelumnya. Dan yang terakhir pada tahun 2018, ternyata siklus gergaji tidak berlanjut pada peranan subsektor perikanan. Peranan subsektor ini kembali turun hingga mencapai 63,22% atau turun 1,85 poin dari periode sebelumnya. Bisa dikatakan tahun 2018 menjadi tahun terburuk bagi subsektor perikanan semenjak tahun 2014. Mengingat pada periode sebelumnya, peranan subsektor perikanan terhadap sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan
mencapai lebih dari 65%.

Besarnya peranan subsektor perikanan yang hampir selalu lebih dari 65% terhadap sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan selama periode 2014 hingga 2018, ternyata hanya bersifat semu. Kenapa bisa demikian? Karena kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap PDRB Kepulauan Riau tidak pernah lebih dari 4%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya berada di posisi keempat terbesar diantara 17 sektor. Pada tahun 2014 kontribusinya mencapai 3,57%, setahun berselang turun 0,02 poin menjadi 3,55%. Kemudian mengalami kenaikan kembali menjadi 3,58% pada tahun 2016 atau meningkat 0,03 poin dari tahun sebelumnya. Kemudian pada dua tahun terakhir mengalami penurunan kembali hingga mencapai 3,25%.

PDRB Provinsi Kepulauan Riau memang masih didominasi oleh sektor Industri Pengolahan. Dimana selama periode 2014 hingga 2018 kontribusinya selalu melebihi 37%. Namun, Provinsi Kepulauan Riau juga sebaiknya juga tidak melupakan potensinya sebagai provinsi kepulauan. Subsektor perikanan harus mendapatkan perhatian lebih, agar terus menghasilkan nilai tambah yang signifikan dalam mendongkrak PDRB Provinsi Kepulauan Riau. Dimulai dari bantuan modal usaha yang ditujukan kepada nelayan miskin. Kemudian bantuan mengenai teknik pemasaran ikan agar bisa merambah pasar ekspor juga perlu digalakkan.

Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.