Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kegelisahan Kolektif atas Kondisi Bangsa Indonesia saat ini

Fahri Sebut Lahirnya GARBI dari 'Jual Ide', bukan 'Jual Tokoh'
Oleh : Irawan
Rabu | 17-07-2019 | 13:40 WIB
fahri_garbi111.jpg Honda-Batam
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pernyataan salah satu kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga berprofesi sebagai pengamat politik, Ubedilah Badrun bahwa Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) yang akan bertransformasi menjadi partai politik, tak akan mampu menggembosi barisan pemilih PKS.


Menanggapi pernyataan tersebut, Fahri Hamzah selaku inisiator GARBI kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/7/2019), justru menilai kalau yang bersangkutan (Ubediah, red) baru menjadi kader PKS.

Fahri mengatakan kalau dirinya adalah salah satu pendiri PKS (sebelunya bernama Partai Keadilan), yang saat itu tanpa ada tokoh sama sekali. PKS berdiri pada 20 April 1998 yang berawal dari gerakan aktivitas dakwah Islam sejak 1980-an.

"Sebab dulu kami dirikan partai tanpa tokoh. Sehabis demo, saya langsung jadi deklarator. Jadi menjual ide itu yang penting. Nah, kita punya ide-nya. Buat apa tokoh tanpa ide?" cetusnya.

Menjawab pertanyaan soal keberadaan Ubedilah Badrun di PKS, sebagai pendatang baru? Fahri menjawab, "Kayaknya".

Terkait keberadaan GARBI, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah itu kembali mengungkapkan kemunculan GARBI di berbagai daerah merupakan bentuk kegelisahan kolektif atas kondisi bangsa Indonesia saat ini.

"Kegelisahan tersebut dalam hal krisis pemahaman konstitusi, demokrasi, dan reformasi. Selain itu, kegelisahan karena para pemimpin tidak memiliki pengetahuan yang cukup arti demokrasi dan transisi," sebut dia.

Selain itu, dia menilai krisis kepemimpinan nasional juga menjadi hal yang disoroti. Sebab, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan memadai bagi kebangkitan rakyat.

"Kita ingin Indonesia keluar dari transisi, terbang bagai rajawali melanglang buana mencakar bumi sehingga menjadi bangsa besar seperti negara lain yang pendapatan perkapitanya jauh dari kita," tegas Fahri Hamzah.

Dihubungi terpisah, Ketua Bidang Humas GARBI Provinsi Banten, Tommy melihat apa yang disampaikan kader PKS itu merupakan tantangan baru buat GARBI. GARBI hadir dan bermanuver diantara masyarakat yang sudah terbelah menjadi 01 dan 02.

"Nah, kami menawarkan ide arah baru dan keterbukaan. Pembentukan basis massa GARBI diuji dengan penerimaan masyarakat terhadap ide arah baru tersebut," kata Tony.

Sebelumnya Ubedilah Badrun mengatakan, ketokohan Fahri Hamzah dan eks Presiden PKS Anis Matta yang merupakan punggawa GARBI dinilai gagal menggerus barisan massa yang memilih PKS di Pileg 2019. Tokoh-tokoh yang tergabung di dalam GARBI, bukan merupakan politisi yang memiliki keuangan yang cukup besar.

"Bila Garbi hanya mengandalkan basis massa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), faksi Fahri Hamzah tak akan mampu meraih basis massa yang banyak. Sebab, di dalam KAMMI juga ada faksi lain yang memilih jalan akademik," kata Ubed.

Editor: Surya