Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Begini Cara Menyaring Informasi di Medsos
Oleh : Redaksi
Rabu | 27-02-2019 | 17:16 WIB
ilustrasi-it-anti-hoax.jpg Honda-Batam
Ilustrasi IT anti hoax. (Foto: Ist)

Oleh Akhmad Rezky P

TAHUN 2019 adalah tahun politik, tahun dimana menggebu-gebunya informasi terhadap masing-masing paslon. Banyak orang mencari informasi, semakin banyak pula yang memberikan informasi abal-abal. Dalam kurun waktu bulan september sampai desember 2018 didapatkan 51 konten hoaks yang berjejaring di media sosial populer seperti whatsapp, facebook, instagram dan twitter.

Dari 51 konten tersebut yang dilaporkan Kementerian Informasi dan Komunikasi berisi isu pesta demokrasi, Pilpres 2019.

Gawai berupa smartphone merupakan alat yang sudah menjadi kebutuhan penuh bagi beberapa orang utamanya kaum milenial saat ini. Maka tak bisa dipungkiri bahwa media sosial merupakan sumber rujukan para milenial untuk mendapatkan informasi.

PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017) mendapatkan data mengenai media sosial berperan penting dalam penyebaran paham radikal. Dalam hasil risetnya pada 34 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial sebagai sumber rujukan terbesar pertama yang mempercepat masuknya paham radikalisasi dengan persentase 50,89% (Api dalam Sekam, PPIM, 2017). Persentase tersebut bukanlah persentase yang rendah.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun melaporkan 49,52% pengguna internet di Tanah Air berusia 19-34 tahun, sebanyak 29,55% berusia 33-54 tahun, kemudian 16,68% berusia 13-18 tahun, dan 4,24% yang berusia diatas 54 tahun (Kompas, 2018). Dari data diatas populasi pengguna internet didominasi oleh anak muda. Maka dari itu, pentingnya pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk bertanggung jawab besar dalam mengelola dan memanfatkan dunia maya.

Tidak ada cara yang jitu untuk menolak datangnya berita hoaks, propaganda dan sebagainya. Karena semua orang berhak untuk berpendapat. Tugas kita hanya menyaring informasi tersebut sebelum kita membagikannya ke orang lain.

Nah melalui tulisan ini, saya akan memberikan tips bagaimana bersikap secara bijak terhadap sebuah informasi demi Indonesia yang lebih damai dan Pemilu 2019 yang berkualitas dan bermatabat.

Tapi sebelum itu, sejatinya ada minimal 3 pertanyaan yang kita pertanyakan sendiri sebelum menyebarkan sebuah informasi yang kita dapatkan. Apakah pasti benar? Jika tidak yakin benar jangan sebar!

Terkadang, ketika kita menerima broadcast massage, tanpa berpikir panjang kita secara cepat menyebarkan kembali ke semua kontak yang ada di gawai kita. Padahal kita belum sama sekali ngecek apakah informasi tersebut benar. Nah berikut kiat-kiatnya;

Pertama, Cek Sumbernya. Apakah ada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan? Jika tidak ada sumber yang jelas, jangan sebar! Jika web/media massa, cek kredibilitas medianya. Bukan web atau blog abal-abal.

Kedua, Cek tanggal pemuatannya. Seringkali berita yang sudah tidak relevan disebar ulang padahal sudah beda konteksnya. Jika tidak ada keterangan waktu, jangan sebar!

Ketiga, Cek kredibiltas penulis, narasumber, referensi datanya. Sebuah berita atau informasi sebaiknya memiliki kutipan narasumber, minimal sebagai bahan rujukan referensi data.

Keempat, Cek berita atau informasi pembanding. Terakhir kita diharuskan mencari informasi pembanding dari sumber terpercaya. Misalkan berita Hoaks baru-baru ini mengenai Najwa Shihab yang katanya mendukung penuh Prabowo-Sandi sebagai kepala negara. Disini tugas kita cek terlebih dahulu dan mencari minimal di akun official Najwa Shihab sebagai informasi pembanding.

Jika benar, apakah baik? Jika belum tentu baik jangan sebar!

Setelah kita ngecek kebenaran informasi tersebut, sebaiknya kita telaah lagi apakah berita itu baik untuk dikonsumsi banyak orang? Apakah ada orang tersakiti dengan berita ini? Jika baik, apakah bermanfaat? Jika tidak bermanfaat jangan sebar!

Informasinya benar? Sudah baik? Nah pertanyaan selanjutnya apakah beritanya bermanfaat?. Itu juga merupakan pertanyaan yang amat penting untuk kita telaah. Telaah sebuah informasi berhubungan langsung dengan sebuah prasangka. Prasangka muncul dari cara kita merespon terhadap suatu realitas atau suatu informasi. Kita secara tidak sadar mencampurkan penilaian subjektif dengan penggambaran objektif akibatnya kita menganggap semua berita sangatlah bermanfaat untuk di konsumsi.

Nah, di tahapan terakhir ini, sangat berhubungan dengan penggambaran bagian otak dan pemikiran kita. Kenapa? Di tahapan ini memiliki pertanyaan sangat besar, "Apakah berita tersebut memberikan manfaat atau menyulut sebuah permusuhan?".

Sejatinya seorang manusia sangat perlu menerapkan sistem Neo-cortex Brain dalam mengolah suatu informasi. Karena bagian otak satu ini memiliki banyak pertimbangan dalam menyaring sebuah informasi yang kita dapatkan. Boleh saja memakai Reptilian Brain tetapi dalam situasi seperti ini sangat dianjurkan memakai Neo-cortex Brain.

Teman muda sangat perlu melihat video dibawah ini sebagai panduan mengolah informasi:

Sudah ditautkan juga dilaman http://bit.ly/mengolahinformasi

Teman muda, itulah tadi beberapa tahapan dan kiat-kiat yang harus kita lakukan ketika kita mendapatkan sebuah informasi. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran bahwa sebagai warga negara, kita memiliki peranan penting untuk mewujudkan pilpres yang damai, berkualitas dan bermartabat bukan malahan sebaliknya. Allah melaknat siapapun yang menjadi pemecah suatu bangsa loh! Menjadi pemecah hubungan aja Allah melaknat apalagi urusan banyak orang hehehe. *

Penulis adalah Pemerhati IT