Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mengenang Rencana Pembangunan Kota Air di Lahan 1.400 Hektar
Oleh : Nando Sirait
Sabtu | 09-02-2019 | 11:52 WIB
kota-air.jpg Honda-Batam
Peta Pulau Batam. (bpbatam.go.id)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pembangunan Mega Proyek Marina Bay, yang direncanakan berdiri di atas Teluk Tering, Batam Center, saat ini menjadi polemik, karena dianggap sarat akan kepentingan terutama kepentingan politik dari partai pengusung Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Kecurigaan ini sendiri berawal dari informasi mengenai PT Kencana Investindo Nugraha akan membangun sebuah megaproyek dengan mereklamasi laut Teluk Tering, mirip dengan proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Dari data yang berhasil dihimpun, diketahui perusahaan tersebut, dimiliki oleh dua orang anggota Dewan Pertimbangan Partai NasDem, Andri Boenjamin (anak Karli Boenjamin, pengusaha kelapa sawit yang juga sebagai angggota Dewan Pertimbangan Partai NasDem) menguasai 51 persen.

Sisanya, 49 persen diduga dimiliki putri Maxi Gunawan bernama Tathya Sarasmi Astungkara yang juga angggota Dewan Pertimbangan Partai NasDem.

Perusahaan tersebut juga diketahui telah berkirim surat nomor 003/KIN/I/2018 tanggal 12 Januari 2018 kepada Wali Kota Batam. Mengenai rencana investasi pengembangan Kawasan Integrated Central Business District (ICBD) di pesisir dan perairan Teluk Tering Batam Center.

Yangmana Pemerintah Kota Batam mengabulkan permohonan PT Kencana Investindo Nugraha tersebut. Dan Pemko Batam akhirnya menerbitkan surat nomor: 35/050/III/2018 tanggal 9 Maret 2018, tentang Rekomendasi Pemanfaatan Ruang Laut dan Rencana Pengembangan Kawasan Batam Marina Bay oleh PT Kencana Investindo Nugraha.

Baca:

Mengingat wacana pembangunan ICBD di kawasan Teluk Tering, hal ini tentunya mengingatkan masyarakat Batam mengenai rencana jangka panjang 15-20 tahun, yang sebelumnya pernah disusun oleh jajaran kepemimpinan Lukita Dinarsyah Tuwo, sewaktu menjabat sebagai Kepala BP Batam. Di mana rencana induk ini, diharapkan memberikan kepastian pembangunan Batam ke depannya.

Hal ini sendiri pernah disampaikan oleh Lukita Dinarsyah Tuwo, Jumat (29/07/2018) lalu setelah melakukan pertemuan dengan Presiden RI, Joko Widodo. Bahkan dia mengaku rencana pembangunan jangka panjang ini, juga telah dipresentasikan dan nantinya akan menggunakan Anggaran Pendapataan dan Belanja Negara (APBN), untuk kemudian dilakukan lelang secara terbuka untuk para investor lokal maupun asing.

Dalam masa kepemimpinannya, Lukita Dinarsyah Tuwo rencana pembangunan tersebut harus menjadi kesepakatan bersama yang juga mendapatkan pengesahan dari Presiden Republik Indonesia. Sehingga ke depannya, tidak ada perubahan arah pembangunan walaupun telah ada penggantian pimpinan di lembaga terbsebut.

"Kalaupun ada perubahan bukan di intinya, melainkan hanya bersifat penambahan saja yang juga tidak telalu signifikan. Sehingga hal itu tentunya tidak terlalu menganggu rencana induk pembangunan jangka panjang, yang disiapkan untuk 15-20 tahun mendatang," ujarnya, kala itu.

Menurut Lukita, dengan adanya rencana induk ini tentu akan mengeliminasi adanya perubahan secara cepat dan mendadak yang akan menurunkan kepercayaan investor di Kota Batam, terutama yang menanamkan modal besar untuk jangka panjang.

"Ini sudah dipaparkan kepada Pak Gubernur Kepri dan Pak Menko Perekonomian dan Menko Kemaritiman," jelasnya.

Bahkan kedua Menteri Koordinator meminta BP Batam menyusun detail rencana pembangunan yang akan dimasukan dalam rencana induk pembangunan. Dalam hal ini, pihaknya diberi waktu tiga bulan untuk menyampaikan detail rencana tersebut.

"Secara khusus BP Batam juga bertemu dengan Bapak BJ Habibie dan beliau meminta rencana induk pembangunan yang disusun harus sebagaimana rencana induk saat Batam dibentuk pertama kalinya. Beliau bahkan meminta kami untuk melakukan presentasi tersebut langsung ke Presiden Joko Widodo," kata Lukita.

Pembangunan jangka panjang yang akan masuk dalam rencana tersebut adalah pembangunan 'Kota Air' di atas lahan reklamasi seluas 1.400 Hektar. Dalam rencana besarnya, 'Kota Air' akan menjadi Central Bussiness District (CBD) baru di Kota Batam. Saat itu, BP Batam tengah merampungkan desain pembangunan kawasan tersebut.

Lokasi 'Kota Air' sendiri berada di Batam Centre, tepat di belakang Kantor BP Batam. Sementara Pelabuhan Internasional Batam Centre nanti akan dipindah ke depan 'Kota Air', sehingga kedalaman lautnya lebih memadai untuk dilabuhi kapal pesiar. Kota Air diharapkan juga bisa menjadi destinasi wisata baru bagi wisatawan.

Kemudian proyek strategis lain adalah mengembangkan Tanjungpinggir sebagai kawasan terpadu, di mana BP Batam sendiri sebelumnya juga sudah menggandeng investor yang pernah membangun patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Kawasan Tanjungpinggir juga akan dibangun ikon besar berupa patung elang laut oleh seniman I Nyoman Nuarta.

Selanjutnya adalah membangun pusat bisnis baru di Kawasan Baloi Kolam, letaknya kawasan yang sangat strategis di tengah Kota Batam itu dinilai sangat tepat untuk dikembangkan menjadi sebuah kota baru.

Lukita mengaku juga sudah menyusun konsep untuk membangun waduk di Baloi Kolam tersebut.

Kemudian pembangunan wilayah Tanjungsauh, Lukita mengakui bahwa kawasan tersebut saat ini memang tidak masuk dalam wilayah kerja pembangunan yang di lakukan BP Batam. Hanya saja apabila kawasan tersebut sudah dibangun, ada beberapa titik di sekitar kawasan tersebut yang juga perlu dikembangkan untuk mendukung kawasan baru Tanjungsauh tersebut.

Satu lagi proyek yang telah dipaparkan di depan Presiden Joko Widodo adalah pembangunan waduk air. Di mana untuk menjadi sebuah kota yang maju air bersih dinilai menjadi bagian yang sangat penting. BP Batam sendiri akan mencari kawasan-kawasan pulau di sekitar Barelang yang bisa dijadikan sebagi daerah penampungan air seperti Waduk Duriangkang saat ini.

Editor: Gokli