PKP

Ikan Langka Arapaima Gigas di Kawasan Hutan Konservasi Matakucing Ditemukan Mati
Oleh : Hendra Mahyudi
Rabu | 09-01-2019 | 16:52 WIB
penguburan-ikan-paima1.jpg honda-batam
Proses penguburan ikan langka Giant Arapaima di Kawasan Hutan Matakucing. (Foto: Hendra)

BATAMTODAY.COM, Batam - Ikan raksasa Arapaima gigas, yang juga merupakan hewan warisan jaman purba yang tidak mengalami evolusi, yang ada di kolam kawasan Hutan Konservasi Lubuk Matakucing, ditemukan mati terapung, Rabu (9/1/2019) pagi ini.

Kematian ikan Arapaima yang merupakan satu keluarga (familia) dengan ikan Arwana, yakni famili Osteoglossidae (ikan berlidah tulang), ini meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam bagi Netty Herawati, konservator hutan dan pengelola Kawasan Lubuk Matakucing, beserta karyawan lainnya di kawasan tersebut.

Bagaimana tidak, ikan langka sungai Amazon dengan nama lain Pirarucu (Brazil), Paiche (Peru) atau Arapaima Gigas ini merupakan jenis ikan air tawar terbesar di dunia, yang berasal dari perairan daerah tropis, Amazon, Amerika Selatan.

Diketahui ikan tersebut memiliki bobot kurang lebih 160 kilogram, berumur sekitar 15-20 tahun dan ditemukan mati oleh salah seorang karyawannya yang sedang membersihkan kolam tersebut.

"Tiap hari saya berteman dengan mereka (ikan), tiap hari saya bertemu dengan mereka. Bagaimana saya nggak sedih. Tapi saya percaya pasti Tuhan punya rencana lain," ujar Netty.

Netty mengungkapkan bahwa ikan Arapaima itu sudah dirawatnya dari sepanjang 40 cm. Hingga menjadi ikan yang sudah sangat jinak hampir dengan seluruh karyawan di kawasan hutan konservasi Lubuk Matakucing.

"Kami biasanya manggil Paima. Cukup dengan menyentak-nyentakkan kaki, dia langsung datang," ujarnya lagi.

Karena kejadian ini, Netty sangat merasa terpukul. Baginya Paima sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan sebelum Paima ditemukan mati, Netty mengatakan dia sendiri sempat mengalami sakit. Yang mana hal tersebut memang sering dia alami ketika ada hewan peliharaannya yang mau mati.

"Saya memang begitu, kalau ada hewan peliharaan saya yang mau mati, saya pasti sakit dulu. Kemaren itu saya sakit, tidur aja seharian di kamar," tutur Netty.

Rasa sedih mendalam tidak hanya dialami oleh Netty, hal serupa juga dialami oleh karyawan lainnya, seperti Suci yang sangat merasa terpukul dengan kematian Paima.

Saat kejadian tersebut terjadi, Suci Triana Sitepu mengakui sedang berlibur. Namun karena mendengar kabar itu, diapun langsung menuju lokasi Lubuk Matakucing.

"Saya dapat kabar pagi, padahal saya lagi libur. Saya langsung ke sini," ucap Suci.

Suci juga mengatakan, di matanya Paima adalah ikan yang sangat memiliki empaty menyerupai manusia. Kendati hidupnya berdampingan dengan ikan lain, Paima tidak pernah memakan ikan lainnya itu, meski dikenal sebagai predator sesama ikan.

"Bahkan kalau kita lagi ngasih makan ikan yang lain, dia itu mundur, mengalah. Dia nggak mau ganggu yang lain," tutur Suci.

Oleh pihak konservator Lubuk Matakucing, Paima dimakamkan layaknya manusia. Dimandikan, dikafani dan dikuburkan serta didoakan. Selamat jalan Paima.

Editor: Yudha