PKP

Potret Mahasiswa Aktivis vs Mahasiswa Akademis
Oleh : Redaksi
Sabtu | 13-10-2018 | 17:28 WIB
demo-mahasiswa2.jpg honda-batam
Ilustrasi mahasiswa sedang demo. (Foto: Ist)

Oleh Erik Tambunan

AKTIVITAS dan demo, kedua kata ini memiliki keterkaitan dalam dunia mahasiswa yang memunculkan dua kubu dalam universitas yaitu mahasiswa akademis dan mahasiswa aktivis. Mahasiswa akademis berpedoman bahwa di Universitas tujuannya adalah belajar dan belajar menambah ilmu pengetahuan berfokus pada studi agar segera lulus dan bekerja.

Sedangkan mahasiswa aktiivis berpedoman bahwa seorang mahasiswa adalah dia yang tak hanya sekedar belajar di ruang kelas, namun dia yang berhasil menembus batas jendela-jendela kelas dan masuk ke dimensi lebih luas tentang arti dari sebuah tanggung jawab sosial yang melekat di dalam dirinya ketika berstatus sebagai seorang mahasiswa.

Namun, mahasiswa aktifis menjadi sebuah kontroversial karena aksi-aksi demo yang kerap dilakukan. Hal yang menjadi permasalahan adalah aksi demo ini kadang bersifat anarkis atau kasar dan tidak sesuai dengan UU yang telah ditentukan dalam pelaksanaan demo.

Mahasiswa aktivis ini merasa dirinya sebagai ujung tombak rakyat dalam memberikan aspirasi kepada pemerintahan dengan melakukan demonstrasi. Sayangnya, kerap kali tuntutan yang diberikan hanya sekedar tuntutan dan tidak memberikan apa solusi atau kajian yang pasti.

Seharusnya, mahasiswa menjadi mahasiswa aktivis akademis, karena dengan begini demo yang dilakukan memiliki dasar dan solusi kemudian dapat berkomunikasi baik dengan pemerintah. Seperti halnya yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Oktober 2018 yang berkomunikasi baik dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

HMI melalui Ketua Umum Pengurus Besar HMI, Respiratori Saddam Al-Jihad mengatakan Sembilan tuntutan rakyat Indonesia (Senturi) langsung dihadapan Presiden Jokowi, salah satunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan melibatkan stakeholder dan menekankan agar Indonesia tidak berutang kepada IMF dan World Bank.

HMI berkerjasama baik dengan Pemerintah dengan tujuan kemajuan rakyat Indonesia dan berharap adanya Pemerintahan Pemuda (youth government). Dengan ini,menjadi bukti bahwa mahasiswa dengan pemerintah dapat bersinergi. Sehingga, kedepannya mahasiswa benar-benar menjadi ujung tombak rakyat dalam memberikan aspirasinya dan pemerintah dengan memberikan solusi sesuai dengan kajian yang dilakukan oleh mahasiswa berbasis akademik yang jelas.

Hal tersebut, menjadi pintu bagi aktivis mahasiswa lainnya untuk dicontoh dan membuktikan bahwa pemerintah mampu dan telah berhubungan baik dengan aktivis mahasiswa HMI. Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI Ichya Halimudin menyampaikan bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia. Jelas HMI punya visi misi tentang kebangsaan, dan pihaknya memandang secara esensi memiliki kesamaan dengan visi misi Pak Jokowi dan mau bergabung serta menjadi Koordinator Nasional Komunitas Indonesia Cinta Jokowi (KITA Jokowi).

Mahasiswa Aktivis Akademis adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan aktivis di organisasi namun tidak melupakan kegiatan akademik dengan meningkatkan pengetahuan, kemudian pengetahuannya mampu digunakan saat melakukan kegiatan sebagai aktivis dengan memberikan saran dan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh negara.

Sehingga mampu berkerja sama dengan pemerintah dalam memajukan Indonesia dan pemerintah sangat terbuka dalam menerima saran dari mahasiswa. Sehingga, terjadi komunikasi baik antara mahasiswa dengan pemerintah seperti HMI dengan Presiden Joko Widodo.*

Penulis adalah Mahasiswa FISIP Universitas Negeri Jakarta