Potensi Turbulensi Ada di Kepri, Pilot Wajib Waspada!
Oleh : Hadli
Rabu | 11-05-2016 | 14:46 WIB
space_landed_tulsaworld.jpg

Ilustrasi. (Sumber foto: Tulsa World)

BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam mengimbau kepada pilot untuk mewaspadai terjadinya perubahan cuaca pada jalur penerbangan yang memicu terbentuknya turbulensi sehingga menyebabkan ancaman keselamatan penerbangan. 

"Potensi turbulensi di sekitar Kepri tetap ada. Tapi tidak sampai melukai penumpang seperti terjadi pada dua pesawat baru-baru ini," kata Kepala Stasiun BMKG Kelas 1 Hang Nadim Batam, Philip Mustamu, Rabu (11/5/2016).

Ia menjelaskan, turbulensi merupakan gerakan udara tidak beraturan atau berputar tidak beraturan akibat perbedaan tekanan atau temperatur yang terjadi disebabkan oleh angin, badai, jet stream, daerah dekat pegunungan dan faktor-faktor lainnya. Peristiwa ini tentu sangat mengganggu penerbangan.

Namun Ia mengatakan, kondisi wilayah udara Kepri saat ini tidak banyak terjadi pertumbuhan awan kumulonimbus, akan tetapi potensi terjadinya turbulensi tetap ada.

"Karena ada berbagai faktor, jadi kemungkinan itu ada. Makanya pilot harus memperhatikan cuaca sekitar rute yang dilewati agar terhindar dari turbulensi terlebih yang bisa menimbulkan cidera," ujarnya dia.

Ditambahkan Philip, angin yang mengalir pada pesawat yang sedang telintas diibaratkan seperti aliran sungai yang deras atau disebut dengan jet stream. Kemudian angin ini bercampur dengan udara yang bergerak lambat yang menyebabkan percampuran udara cepat dan lambat yang menimbulkan guncangan.

"Pada umumnya pilot mengetahui kondisi cuaca yang ada di jalur penerbangannya meski itu masih jauh di depan. Karena dibantu dengan laporan cuaca sebelum penerbangan, radar kokpit dan juga laporan dari pesawat lain yang melintasi daerah tersebut. Jadi bisa dihindari agar tidak terlalu keras guncangannya," kata Philip.

Turbulensi yang sulit diprediksi adalah saat cuaca cerah tanpa ada awan besar atau Clear Air Turbulence (CAT) atau yang dikenal dengan Jet Stream. CAT umumnya terjadi pada ketinggian sekitar 40.000 kaki di mana terbentuk jet stream yang banyak dimanfaatkan pesawat untuk efisiensi bahan bakar.

"Jika turbulensi lain bisa diprediksi dengan memperhatikan radar maupun melihat kondisi cuaca, CAT merupakan turbulensi yang terjadi di saat langit cerah tak ada awan sehingga radar cuaca tidak dapat memprediksi bahwa kondisi tersebut bisa memicu turbulensi," kata dia.

Editor: Dodo