Sabar Sinaga Dilaporkan Hilang, Istri Butuh Kepastian Hukum‎ dari Polisi
Oleh : Gokli
Senin | 28-09-2015 | 16:12 WIB
mayang-nainggolan.jpg
Mayang Lumban Tungkup, terus mencari tahu keberadaan Sabar Sinaga, suaminya, yang menghilang sejak 31 Juli 2015.

BATAMTODAY.COM, Batam - Sabar Sinaga, kapten kapal Tugboat Bina Marine 81 yang dilaporkan hilang sejak 31 Juli 2015 lalu ke Polresta Barelang, sampai saat ini belum ditemukan. Bahkan, kepastian hukum soal laporan kehilangan itu belum juga didapat pihak keluarga.

Mayang Lumban Tungkup, istri korban, didampingi penasehat hukumnya Nixon Situmorang, menyampaikan, sampai saat ini pihak keluarga belum mendapat kepastian hukum atas hilangnya suaminya. Padahal, rentang waktu dilaporkan hilang dengan komunikasi terakhir antara korban dan pihak keluarga hanya berselang satu hari.

"30 Juli 2015, suami saya masih transfer uang Rp 4,5 juta. Saat itu, dia (Sabar) mengaku dalam perjalanan dari Singapura menuju perairan Kabil membawa tugboat bersama enam orang ‎kru kapal lainnya," kata Mayang di Batam Center, Senin (28/9/2015) siang.

Ironisnya, sambung wanita asal Sumatera Utara itu, Surat ‎Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) yang diberikan Polisi, tidak menjelaskan sejauh mana penyelidikan yang dilakukan penyidik. Padahal, tujuh kru kapal yang ada di tugboat tersebut sudah diperiksa, tetapi lagi-lagi disebut tidak ada petunjuk.

"Saya tak tahu harus mengadu kemana lagi. Sangat tidak mungkin enam kru kapal itu tak tahu kemana suami saya. Tak mungkin juga kapal tugboat itu bisa berlayar dari Singapura sampai ke Kabil, kalau kaptennya tidak ada. Saya merasa semua ini sangat janggal," ungkapnya.

‎Sementara itu, Nixon Situmorang menambahkan, selain janggal, dalam SP2HP yang diberikan polisi, penyidik menemukan tulisan di ruang kapten berbunyi "MAAF ATAS KEBODOHAN SAYA". Tulisan itu, kata Nixon, harusnya menjadi petunjuk bagi penyidik untuk mendalami hilangnya korban.

"Dalam SP2HP ini juga tidak dijelaskan apa keterangan dari kru kapal itu. Kami juga mempertanyakan, kenapa kapal yang sempat ditahan itu dilepas, sementara proses penyelidikan masih berlangsung," katanya.

Masih kata Nixon, keluarga korban berharap agar polisi lebih serius mendalami kasus ini. Selain berharap kepastian hukum, pihaknya juga menilai banyak kejanggalan soal hilangnya Sabar Sinaga ini.

Sabar, kata Nixon, diketahui mulai bekerja di PT Bina Marine 81 sejak bulan Oktober 2014. Saat itu, korban belum menduduki posisi kapten, masih crew biasa.

Seiring waktu, sekitar Maret 2015, pihak perusahaan menyekolahkan korban agar bisa menduduki level kapten. Setelah menjadi kapten, lanjutnya, korban diketahui selalu bekerja dengan baik dan juga pulang ke rumah saat kapal yang dia kemudikan bersandar di wilayah Indonesia.

"Persoalan rumah tangga, saya rasa tak ada masalah. Kita berharap polisi mendalami motif-motif lain. Kasus ini perlu diusut tuntas," tutup dia.

Editor: Dodo