Petugas Ditpam BP Batam Diprotes

Calon TKI Tujuan Malaysia Ricuh di Pelabuhan Batam Center
Oleh : Gokli
Sabtu | 19-09-2015 | 18:03 WIB
ricuh-pbc.jpg
Kericuhan di Pelabuhan Batam Center saat ratusan calon TKI tujuan Malaysia dilarang mengambil boarding pass oleh petugas.

BATAMTODAY.COM, Batam - ‎Ratusan calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) tujuan Malaysia sempat ricuh di Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center, Sabtu (19/9/2015) sore.

Kericuhan terjadi karena petugas Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam di pelabuhan tersebut melarang para CTKI tujuan Malaysia melakukan boarding pass, sebelum melengkapi dokumen dari BP3TKI. Larangan yang diterapkan petugas Ditpam BP Batam tersebut diprotes para calon TKI, berikut tekong-tekongnya.

Kericuhan itu pelan-pelan berangsur pulih, petugas Ditpam BP Batam akhirnya mengizinkan para CTKI melakukan boarding pass.

Kasubdit Pengamanan Aset Ditpam BP Batam, Irzal, membenarkan para CTKI itu sempat ditolak untuk boarding pass. Menurut dia, sesuai perintah dari Kepala BNP2TKI, untuk menertibkan para TKI Ilegal.

"Kami ada MoU dengan BP3TKI Kepri di Tanjungpinang. Petugas Ditpam BP Batam diminta bantuan untuk menertibkan pengiriman TKI ilegal. Kami hanya menjalankan perintah," kata dia usai para CTKI lolos menyeberang ke Malaysia.

Irzal berujar, penertiban itu mereka lakukan sejak tadi pagi. Bahkan, sambungnya, CTKI yang tidak bisa melengkapi dokumen dari BP3TKI, sejak pagi sudah disuruh untuk pulang, hanya saja mereka tetap bertahan dan ngotot untuk menyeberang ke negeri jiran.

"Kami hanya menertibkan CTKI yang tidak melengkapi dokumen keimigrasian, seperti passing, permit dan paspor baru. Kalau semua dokumennya lengkap, kami tidak melarang," jelasnya.

‎Disinggung kenapa Ditpam BP Batam akhirnya membiarkan para CTKI itu menyeberang ke Malaysia, kendati jelas-jelas banyak yang tidak melengkapi dokumen, Irzal berdalih terpaksa membuat kebijakan menjaga agar kericuhan tidak meluas dan menimbulkan kerusakan.

"Kondisinya sudah tidak kondusif, saya akhirnya membuat kebijakan, dengan harapan masih ada Petugas Imigrasi menjadi filter terakhir," katanya.

Senada, Koordintor Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center, Gendu menyampaikan pihaknya sudah berkoordinasi dengan BP3TKI soal kebijakan melepas para CTKI tersebut. Hanya saja, kata dia, koordinasi itu dilakukan melalui sambungan telepon.

"Kami sudah hubungi BP3TKI koordinasi soal kebijakan ini. Tapi saat kami hubungi melalui sambungan telepon tidak diangkat. Mungkin BP3TKI lagi istirahat karena kecapekan," katanya.

Di sisi lain, para CTKI yang sempat ditolak untuk boarding pass, menilai hal itu bukan semata-mata soal kelengkapan dokumen. Menurut mereka, penolakan itu karena adanya kecemburuan sosial antara pihak berwenang di Batam dan pihak Imigrasi Malaysia.

"Kan di Malaysia, biar kita bisa aman masuk harus selipkan 150 ringgit saat cap‎ paspor. Kalau di sini, bayarnya sama tekong di luar, mungkin yang di pelabuhan tak kebagian, makanya marah," kata seorang CTKI, yang sempat ditolak di pintu boarding pass.

CTKI wanita ini juga mengaku masuk ke Batam hanya untuk passing, karena permit untuk tinggal di Malaysia sudah habis. Ia mengatakan baru pertama sekali terkendala di pelabuhan, biasanya berjalan mulus.

"Biasanya mulus aja, gak ada diperiksa seperti ini," ujarnya.

Editor: Dodo