Pertanian dan MBG Jaga Ekonomi RI di Tengah Perang Tarif
Oleh : Redaksi
Senin | 05-05-2025 | 19:04 WIB
MBG-Batam11.jpg
Program makan bergizi gratis (MBG) kunci untuk menjaga ekonomi Indonesia di tengah pelambatan ekonomi dunia akibat dinamika perang tarif. (Dok.BTD)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyatakan sektor pertanian dan program makan bergizi gratis (MBG) menjadi kunci untuk menjaga ekonomi Indonesia di tengah pelambatan ekonomi dunia akibat dinamika perang tarif.

"Kekuatan sektor ini sangat penting untuk Indonesia di tengah gejolak global yang terjadi. Ke depannya, kebijakan seperti makan bergizi gratis akan menjadi pendorong penting untuk sektor pertanian," kata dia di Jakarta, Senin (5/5/2025).

Menurutnya, pemerintah harus lebih lincah dalam melihat dinamika ekonomi global, serta memanfaatkan kesempatan dan potensi yang ada untuk penguatan ekonomi domestik.

Dirinya berargumen, pada kuartal kedua nanti akan menjadi momen penting untuk mengakselerasi belanja negara melalui program penguatan pertanian, dan MBG agar dapat menjadi bantalan dari gejolak ekonomi global.

Lebih lanjut, selain menyebut sektor pertanian dan program MBG yang bisa menjadi bantalan ekonomi di tengah dinamika perang tarif, dirinya turut menyoroti beberapa sektor yang mengalami kemajuan, seperti manufaktur yang tumbuh 4,55 persen, sektor perdagangan 5,03 persen, dan sektor informasi, serta komunikasi yang tumbuh tinggi sebesar 7,72 persen secara tahunan.

Menurutnya, dengan tumbuhnya berbagai sektor di tanah air, menjadi sinyal pemulihan ekonomi, sehingga perlu diperkuat melalui berbagai program strategis.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,87 persen year-on-year (yoy) pada triwulan I 2025.

"Besaran produk domestik bruto atau PDB pada triwulan I 2025 atas dasar harga berlaku (ADHB) adalah sebesar Rp 5.665,9 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) adalah Rp 3.264,5 triliun," ujar Amalia.

Sumber: ANTARA
Editor: Yudha