Peran Pemuda dalam Menegakkan Bhineka Tunggal Ika
Oleh : Redaksi
Senin | 09-10-2017 | 09:02 WIB
pemuda-ilustrasi.jpg
Ilustrasi pemuda Indonesia. (Foto: Ist)

Oleh Indah Rahmawati Salam

MEMPERINGATI hari sumpah pemuda, sama halnya dengan mengingatkan kembali peran penting kaum pemuda dalam menggagas konsep kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Harapannya agar masyarakat khususnya kaum pemuda saat ini menyadari potensi diri dalam mewujudkan Indonesia yang berlandaskan pancasila.

Akan tetapi seiring waktu berlalu dan menimbun sejarah, pemahaman akan makna peringatan sumpah pemuda semakin terlupakan. Peringatan sumpah pemuda bukan hanya sekedar perayaan, akan tetapi juga sebagai sistem kontrol yang memecut dan menuntut pertanggungjawaban dari seluruh masyarakat Indonesia khususnya pemuda dalam mempertahankan pencapaian-pencapaian para pendiri bangsa.

Berbeda dengan gambaran pemuda Indonesia yang tertulis dalam sejarah. Memasuki era perkembangan teknologi pemuda Indonesia mengalami perubahan karakter dan sikap yang sangat signifikan. Perubahan tersebut tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya perkembangan teknologi informasi global yang memungkinkan terjadinya percampuran budaya, khususnya budaya barat. Hal tersebut terjadi karena keunggulan teknologi umumnya dimiliki oleh Negara-negara barat.

Dampak nyata dari masuknya budaya asing tersebut adalah terjadinya bentrokan nilai-nilai sosial asing (barat) yang umumnya memegang paham liberal dan memiliki karakter individualis dan Indonesia (timur) yang berpegang pada Ideologi pancasila dan memiliki karakteristik “gotong royong” atau kebersamaan. Sehingga, acap kali terjadi perbedaan pandangan di dalam masyarakat, khususnya kaum pemuda.

Sementara, dampak jangka panjangnya adalah terjadinya pelemahan pancasila karena pemuda sebagai generasi penerus bangsa lebih mudah menerima nilai-nilai sosial asing yang cenderung berpaham liberal dan memiliki karakter individualis. Kekhawatiran tersebut bukan hanya sekedar paranoid saja, saat ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang menggambarkan perpecahan antara sesama bangsa Indonesia hanya karena perbedaan keyakinan, ras, suku, dan kelompok.

Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia digemparkan dengan pemberitaan tentang gerakan masa secara besar-besaran yang menamakan diri aksi bela islam. Aksi tersebut ditujukan untuk menuntut peradilan terhadap calon gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atas tuduhan penistaan agama. Terlepas gerakan tersebut terbentuk atas keyakinan agama yang telah diakui oleh pancasila.

Gerakan masa tersebut menyisakan keretakan di dalam sendi-sendi kebangsaan, salah satunya adalah mulai munculnya ujaran-ujaran kebencian yang ditujukan pada penganut agama dan ras tertentu, serta mulai termotivasinya ekstrimis islam dalam menegakkan syariat untuk mengganti pancasila.

Ada lagi aksi 299 yang mengangkat isu komunis dan mengkambinghitamkan kelompok tertentu, padahal kebenaran isu tersebut masih diragukan. Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa nila-nilai persatuan yang terkandung di dalam sumpah pemuda dan pancasila telah luntur di dalam benak masyarakat.

Padahal, dahulu sumpah pemuda digagas sendiri oleh kaum pemuda untuk mencapai kesatuan, sementara saat ini justru pemuda cenderung menebar kebencian antar sesama bangsa Indonesia untuk memecah kesatuan karena perbedaan pandangan. Ironisnya dalam beberapa kasus perbedaan pandangan tersebut merupakan isu politis yang ditanamkan bangsa sendiri demi memperoleh kekuatan politik.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika perpecahan antara sesama bangsa Indonesia di kendarai oleh kepentingan pihak asing yang ingin menguasai kekayaan bangsa Indonesia. Sejarah mencatat, jatuhnya Negara-negara besar di dunia disebabkan oleh gangguan keamanan akibat perpecahan dari dalam tubuh Negara itu sendiri, salah satunya adalah negara adidaya Uni Soviet yang digadang-gadang mampu menyaingi atau bahkan lebih unggul dari Amerika pada waktu itu.

Uni Soviet terjun bebas di tahun 1991 dan terpecah menjadi 15 negara. Kejatuhan Uni Soviet diawali dengan terpuruknya kondisi perekonomian dimana hasil industri berkurang, angka pengangguran tinggi, inflasi menggerogoti simpanan warga. konflik etnis pecah di Georgia dan Azerbaijan. Kemudian, Lituania menyatakan kemerdekaan. Bahkan upaya mengirimkan badan intelijen KGB ke Vilnius untuk menekan media nasionalis gagal mengembalikan Lituania ke bawah kontrol Soviet. Buntut panjang perselisihan tersebut adalah Uni Soviet terpecah menjadi beberapa negara-negara baru.

Gerhard Simon, seorang ahli Eropa Timur dari Universitas Köln, mengatakan kompetisi antara sistem komunis dan kapitalis juga berperan dalam kejatuhan Uni Soviet. Sistem Uni Soviet juga hancur karena perekonomian Barat yang lebih baik karena mengusung kebebasan, serta pesona Golden West.

Keunggulan ekonomi barat baik itu mobil, sepatu maupun kosmetik membuat jutaan warga Soviet mengidam-idamkan barang-barang Barat yang tidak mampu mereka beli. Kesalahan besar dari ideologi dan propaganda Soviet adalah membandingkan diri dengan Barat. Sehingga berdampak balik pada diri sendiri, karena ekonomi barat jelas lebih baik.

Berkaca dari sejarah kehancuran Uni Soviet yang juga memiliki karakteristik plural. Bangsa Indonesia seharusnya menghindari pengaruh paham asing dan menguatkan Pancasila. Selain itu, seluruh komponen bangsa juga harus berhenti menyuarakan perbedaan dan tuntutan untuk merdeka, karena hal tersebut justru merupakan jalan tercepat menuju kehancuran Indonesia.

Sebagai Negara yang plural dan memiliki keragaman budaya, masalah utama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah potensi perpecahan sebagaimana yang menimpa Uni Soviet, menyadari hal tersebut, kaum pemuda jaman dahulu menggagas konsep persatuan.
Mungkin banyak yang beranggapan bahwa konsep tersebut baru dibahasa dalam perumusan pancasila, sehingga pancasila memegang teguh semangat “gotong-royong”, namun sebenarnya, gagasan-gagasan terkait penyatuan ragam latar belakang kebudayaan telah dibahas lebih dahulu oleh pemuda-pemuda Indonesia dan buah dari gagasan tersebut adalah sumpah pemuda.

Namun, pada era modern saat ini penjabaran masayarakat tentang pemuda cenderung mengarah pada kenakalan remaja, pergaulan bebas dan tindakan anarkis. Hal tersebut menunjukkan adanya penurunan kepercayaan dari masyarakat terhadap pemuda. Padahal pemuda merupakan generasi penerus bangsa, dan seiring berjalannya waktu generasi pasti akan berganti. Sehingga menjadi penting bagi seluruh pihak untuk memastikan terjaganya moralitas dan nilai-nilai pancasila dalam diri pemuda.

Kaum pemuda sekarang ini tidak kurang kualitasnya dibangdingkan pemuda pada masa kolonial, karena pemuda saat ini memiliki buah pemikiran yang lebih matang terkait konsep-konsep ilmu pengetahuan yang terus berkembang dari seluruh dunia. Akan tetapi, pemuda masa kini tidak memegang teguh nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan Pancasila.

Hal tersebut dikarenakan kaum pemuda tidak terfasilitasi atau bahkan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal pancasila, sebaliknya lebih banyak menerima informasi terkait budaya asing yang tidak memiliki hubungan dengan penanaman nilai-nilai pancasila, bahkan berlawanan. Hal tersebut menekankan sangat penting bagi seluruh masyarakat khususnya pemuda untuk kembali berpegang teguh dengan nilai-nilai pancasila.

Selayaknya warga negara yang berpegang teguh pada nilai-nilai sumpah pemuda dan Pancasila. Kaum pemuda seharusnya menginisiasi gerakan-gerakan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan sebagaimana pencapaian pendahulu mereka. Memahami kondisi sosial masyarakat yang haus akan nilai-nilai moral dan persatuan, Presiden Jokowi melalui Perpres 54/2017 berupaya menguatkan penanaman nilai-nilai pancasila sejak usia sekolah.

Kebijakan tersebut seharusnya mendapat dukungan dari seluruh pihak khususnya pemuda, Karena pemuda memiliki beberapa kaunggulan dibandingkan generasi pendahulu diantaranya, generasi muda memiliki semangat yang besar, pemikiran yang kritis, idealis, kreatif dan lebih siap bertahan dalam menghadapi perkembangan teknologi global.

Sebagai generasi yang kelahirannya bersamaan dengan perkembangan teknologi, pemuda saat ini seharusnya mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kepentingan yang membangun diantaranya menyebarkan pikiran-pikiran positif melalui media-media online dengan membuat karya tulisan yang ilmiah serta meredusir isu-isu propaganda yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
Terlebih saat ini pemberitaan melalui media online sering dipengaruhi oleh isu-isu hoax yang belum di klarifikasi kebenarnya. Hal ini merupakan peran pemuda dalam mengkontra penyeban isu tersebut atau cukup dengan tidak menerima isu yang tidak kredibel begitu saja.

Selain itu, pemuda juga memegang peran penting untuk mewujudkan slogan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan pemuda dari berbagai daerah, sebagai contoh adalah kegiatan Kirab Pemuda Nusantara 2017 di Kupang pada bulan Agustus lalu. Kegiatan tersebut merupakan pengingat bahwa Indonesia itu terbentuk dari keragaman yang menjadi satu dan perlu untuk terus dilestarikan.*

Penulis adalah Mahasiswi IAIN Kendari, Aktif Dalam Pusat Studi Pancasila


BNN-KEPRI