Uang Pembangunan Musala SMPN 47 Sudah Terpakai
Oleh : Yosri Nofriadi
Selasa | 03-10-2017 | 16:14 WIB
Kepsek.gif
Kepala Sekolah SMPN 47 Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, Pesra Daryanyi (Foto: Yosri Nofriadi)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pembangunan Musala di SMPN 47, Tanjungriau, Kecamatan Sekupang belum bisa terealisasi. Itu dikarenakan uang yang sudah diterima dari orang tua siswa sudah terpakai untuk belanja keperluan perlengkapan sekolah lainnya.

Kepala Sekolah SMPN 47 Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, Pesra Daryanyi, mengaku bahwa memang ada pungutan uang pembangunan Musala. Pungutan itu dikhususkan kepada siswa yang masuk melalui jalur off line.

Total uang yang dipungut itu dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sebesar Rp124 juta, namun uang tersebut sudah berkurang karena dipergunakan untuk keperluan perlengkapan sekolah lainnya, seperti kipas angin, soundsystem dan keperluan lainnya.

"Sisa uang yang kita terima itu tinggal Rp80 juta. Sudah terpakai Rp44 juta untuk belanja keperluan perlengkapan sekolah," ujar Pesra, Selasa (3/10/2017).

Sisa uang tersebut memang akan dipergunakan untuk pembangunan Musola, namun itu belum bisa terealisasi sebab pihak sekolah masih kebingungan menentukan lokasi pembangunan Musala di lingkungan sekolah itu.

"Karena lokasinya belum jelas mau dibangun di mana, makanya belum bisa dibangun," ujarnya lagi.

Sebelumnya, wali murid SMP Negeri 47 Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, yang masuk melalui jalur off line mempertanyakan uang sumbangan pembangunan Musala yang mereka berikan ke komite sekolah.

Sebab, sejak dipungut oleh komite sekolah pada tahun 2014 lalu, rencana pembangunan Musala dari uang sumbangan itu, tak kunjung terealisasi sampai sekarang.

Uang sumbangan pembangunan Musala yang dipungut dari siswa yang mendaftar melalui jalur off line itu dimulai sejak tahun 2014 sampai 2016, dengan jumlah berbeda. Untuk tahun 2014 dengan jumlah 80 siswa dipungut Rp500 ribu.

Kemudian di tahun 2015 sekitar 90 siswa dipungut Rp750 ribu. Sementara pada tahun 2016 sekitar 90 siswa diminta lagi Rp1 juta.

Salah satu wali murid yang tak ingin namanya disebutkan mengatakan