Lagi, Kepala Daerah Kena OTT, Kali Ini Giliran Walikota Batu Ditangkap KPK
Oleh : Redaksi
Minggu | 17-09-2017 | 09:00 WIB
Eddy_Rumpoko.jpg
Wali Kota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko (Foto: Tempo)

BATAMTODAY.COM, Batu- Wali Kota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko ditangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Sabtu (16/9/2017). Penangkapan ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum masa jabatannya berakhir pada 26 Desember 2017.

 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera mengatakan, OTT dilakukan sekitar pukul 13.30 WIB di Kota Batu.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan, penangkapan terhadap Walikota Batu Eddy Rumpoko terkait suap dugaan korupsi proyek. "Pastinya terkait suap proyek," kata Laode.

Dalam OTT itu, kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, KPK menyita duit Rp 300 juta dalam OTT tersebut. Selain Walikota Batu Eddy Rumpoko , ada 4 orang lain ikut ditangkap.

"Barang bukti uang yang diamankan berjumlah Rp 300 juta," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata

Eddy yang mengenakan jaket hitam, digelandang keluar dari gedung Subdit III Tipidkor sekitar pukul 20.40 dengan menggunakan minibus Polda Jawa Timur. Ia akan diterbangkan ke Jakarta melalui Bandara Juanda di Sidoarjo.

Sebelum naik ke minibus, Eddy sempat memberikan keterangan kepada wartawan terkait kronologi operasi tangkap tangan terhadap dirinya. Dia mengatakan saat penangkapan terhadap dirinya, ia tengah mandi di rumahnya.

"Saya lagi mandi di rumah, tahu-tahu digedor petugas KPK. Katanya OTT," kata dia. Eddy mengaku tidak tahu perihal OTT yang menimpanya. "Uangnya tidak tahu," katanya sembari meminta polisi memberikan dia waktu berbicara ke wartawan.

Berdasarkan biodata yang ada Eddy menyelesaikan jenjang sekolahnya di Jawa Timur. Setelah lulus dari SDK ST Xaverius, Surabaya pada 1972, ia melanjutkan ke SMP Taman Siswa/Taman Dewasa, lalu beranjak ke SMA Negeri 5, Malang.

Sebelum menjadi wali kota, ia beberapa menduduki jabatan direktur utama sejumlah perusahaan, yakni PT Unicora Agung, PT Janaka Agung, dan PT Duta Perkasa Unggul Lestari. Eddy juga pernah tercatat sebagai Komisaris Harian Umum Malang Post.

Dalam hal berorganisasi, Eddy pernah menjabat dalam Pengurus Daerah Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jawa Timur, menjadi Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI/Polri (GM FKPPI) Jawa Timur, serta anggota Pemuda Pancasila Jawa Timur. Namanya juga masuk dalam anggota DPP PDI Perjuangan.

Pria kelahiran Kota Manado, Sulawesi Utara, 8 Agustus 1960, itu juga aktif dalam bidang olahraga. Ia merupakan perintis berdirinya tim sepak bola PS Arema. Pada Mei 2015, Eddy ditunjuk sebagai anggota Tim Transisi PSSI oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Setelah Kota Batu terbentuk sebagai daerah otonom baru pada 2001, Eddy terpilih sebagai wali kota pertama melalui pemilihan kepala daerah pada 2007.

Salah satu program yang dilakukan Eddy dalam masa pemerintahannya adalah mendorong pengembangan pertanian organik. Misalnya, alokasi pupuk kimia bersubsidi di Kota Batu kian menurun, sekitar 30 persen. Jika sebelumnya sebanyak 6.000 ton per tahun, pada 2015 menjadi hanya 4.800 ton per tahun.

Usaha pemkot untuk mengangkat sektor pertanian juga dilakukan dengan membeli produk susu peternak sapi perah. Setiap tahun, sebanyak Rp 5 miliar anggaran APBD Kota Batu dialokasikan untuk membeli susu dari peternak. Susu itu lalu dibagikan kepada anak-anak SD di kota itu sebagai makanan tambahan, seminggu sekali.

"Program ini membuat petani bersemangat beternak sapi, sekaligus menambah gizi anak-anak Kota Batu. Satu program dengan dua tujuan sekaligus," kata Eddy.

Eddy juga memanfaatkan pertanian di Kota Batu menjadi tujuan wisata. Dibuatlah sentra wisata pertanian, seperti sentra produksi sayur-mayur di Desa Sumber Brantas, dan Tulungrejo; sentra produksi bunga di Desa Sidomulyo, Gunungsari, dan Punten; sentra produksi Apel di Kecamatan Bumiaji; dan sentra produksi tanaman pangan, terutama padi di Kecamatan Junrejo.

Sentra produksi itu dikemas menjadi wisata agro. Wisatawan bisa datang, menikmati, dan membeli langsung produk pertanian itu. Produk bentuknya bukan hanya hasil bumi, tetapi sekaligus olahan pertanian, misalnya keripik dan sari apel.

Pencalonan kedua Eddy pada Pilkada Kota Batu 2013 sempat tersandung kasus dugaan ijazah palsu. Eddy dan pasangannya, Punjul Santoso, bahkan sempat tidak lolos pencalonan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Setelah Polda Jatim menghentikan kasus tersebut, Eddy-Punjul diperbolehkan maju di Pilkada Kota Batu dan akhirnya menang.

Masa jabatan kedua Eddy akan berakhir pada akhir Desember nanti. Setelah itu, ia akan digantikan oleh istrinya, Dewanti Rumpoko, dan wakil bupati petahana, Punjul Santoso.

Dalam Pilkada Kota Batu 2017, Dewanti yang berpasangan Punjul menang dengan perolehan 51.754 suara atau 44,57 persen dari total suara sah.

Editor: Surya


BNN-KEPRI