Kasus Kebakaran di Tanjungpinang 2026 Tinggi, Damkar Imbau Masyarakat Waspada
Oleh : Devi Handiani
Jum\'at | 27-03-2026 | 16:28 WIB
Kantor-Damkar-TPi.jpg
Kantor Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tanjungpinang. (Devi/BTD)

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tanjungpinang mencatat sebanyak 131 kasus kebakaran terjadi sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Dari jumlah tersebut, kebakaran didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan kebakaran bangunan atau gedung.

Kepala Dinas Damkar Tanjungpinang, Juliadi Halomoan, mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan penghitungan luas lahan yang terbakar selama tiga bulan terakhir.

"Ini lagi dihitung luasnya karena sudah masuk status waspada," ujar Juliadi.

Ia menjelaskan, kondisi musim kemarau yang disertai keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemadaman. Selain itu, sejumlah hidran yang tidak berfungsi turut memperparah kondisi di lapangan.

"Terpaksa kita harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh, yaitu Sungai Pulai," ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Damkar berharap sekitar 25 unit hidran dapat kembali difungsikan melalui koordinasi dengan pihak PDAM. Selain itu, pihaknya juga berencana membuat sumur bor serta tandon air di sejumlah titik rawan kebakaran.

"Dengan kondisi kemarau saat ini, seperti di Sungai Kawal yang kering, kita perlu menyiapkan alternatif sumber air seperti sumur bor dan tandon di lokasi rawan karhutla," tambahnya.

Saat ini, Damkar Tanjungpinang memiliki enam unit armada pemadam dengan rincian dua unit berkapasitas 6 ton, serta empat unit berkapasitas 3 hingga 4 ton, ditambah satu unit armada rescue. Namun, dari sisi personel masih tergolong kurang.

"Idealnya satu pos itu 18 orang, sementara total anggota kita saat ini hanya 60 orang. Masih kurang sekitar 12 sampai 15 personel," jelasnya.

Juliadi juga mengungkapkan, sebagian besar kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas masyarakat, seperti membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah tanpa pengawasan. "Ditambah kondisi angin, api kecil bisa cepat membesar," ujarnya.

Adapun wilayah yang kerap terjadi kebakaran lahan di antaranya Dompak, Senggarang, dan Tanjungpinang Timur, dengan frekuensi kejadian bisa mencapai dua kali dalam setahun.

Damkar Tanjungpinang pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

"Kami mengimbau agar tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi rumput kering sangat mudah terbakar. Jika terjadi kebakaran, segera laporkan ke petugas pemadam," tutup Juliadi.

Editor: Yudha