PSMTI Sukses Gelar Festival Moon Cake, Wujudkan Persatuan dan Keberagaman yang Harmonis
Oleh : Devi Handani dan Syajarul Rusydycik
Minggu | 05-10-2025 | 10:08 WIB
Festival_Mooo_PSMTI.jpg
PSMTI sukses menggelar Festival Moon Cake atau Festival Kue Bulan di Jalan Merdeka, Tanjungpinang, Sabtu (4/10/2025) malam (Foto: Syajarul

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Tanjungpinang-Bintan sukses menggelar Festival Moon Cake atau Festival Kue Bulan di Jalan Merdeka, Tanjungpinang, Sabtu (4/10/2025) malam.

Festival ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa yang selalu dirayakan setiap tahun dalam momentum Festival Musim Gugur.

Kue bulan sendiri menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur dalam budaya Tionghoa. Ketua Panitia Festival Moon Cake, Rudy Santoso, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi puncak rangkaian acara yang telah dimulai sejak 22 September 2025.

"Kita ingin menghidupkan kembali nostalgia masa lalu. Tahun ini kami kembali menghadirkan pawai lampion yang menjadi ciri khas perayaan Moon Cake," ujar Rudy.

Rudy menjelaskan, festival ini akan menjadi agenda tahunan PSMTI Tanjungpinang-Bintan. Selain menjadi wadah pelestarian budaya, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat persatuan dan keharmonisan antarwarga.

"Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, kami merasa senang dan puas. Stand UMKM selalu ramai setiap malam. Kami yakin omset para pedagang meningkat di atas rata-rata," ungkapnya.

Tahun ini, terdapat 250 stand UMKM yang ikut serta dalam festival, serta sekitar 1.500 peserta pawai lampion yang turut memeriahkan suasana malam penuh cahaya tersebut.

Ketua PSMTI Tanjungpinang, Djoni Janto, menyampaikan bahwa melalui bazar Moon Cake, pawai lampion, dan malam festival Moon Cake, kita rajut persatuan di dalam kebhinekaan.

"Budaya Moon Cake membawa pesan kesejahteraan, persatuan, dan kedamaian untuk kita," kata Djoni.

Tema festival kali ini adalah "Merajut Persatuan dan Keberagaman yang Harmonis." Tema ini diwujudkan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat lintas etnis dan komunitas, termasuk perhimpunan dari daerah lain seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kolaborasi ini menjadi yang pertama, dan kami berharap bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang," tutup Rudy.

Editor: Surya