Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan

Pancasila Sejalan dengan Mu'amalah Islam
Oleh : Redaksi
Senin | 10-07-2017 | 17:02 WIB
sosialisasi_4_pilar_hardi.jpg Honda-Batam
Anggota MPR RI Drs, H. Hardi Selamat Hood, PhD saat menyampaikan sosiaslisasi 4 pilar kebangsaan. (Foto: Ist)

BATAMTODAY.COM, Batam - Anggota MPR RI Drs, H. Hardi Selamat Hood, PhD mengatakan Pancasila sebagai dasar Negara sejalan etika Islam dalam hal mu’amalah (amalan dunia).

Apalagi, jika kelima prinsip tersebut dlahirkan untuk membangun nasionalisme dalam konteks kelahiran Indonesia yang tengah berjuang untuk menjadi setara dengan bangsa-bangsa lain yang sudah terlebih dahulu merdeka.

Demikian disamapaikan anggota MPR RI, Hardi Selamat Hood di hadapan pelajar dan santri  saat mengikuti pelatihan kader Gerakan Pelajar Islam Indonesia (GPII) di yayasan Pendidikan Darul Falah, Batu Besar, Batam, beberapa waktu lalu.

"Jika melihat pada lima prinsip awal Pancasila yang digagas Soekarno, maka prinsip-prinsip itu sangat erat dengan prinsip dan etika Islam dalam hal mu’amalah  atau amalan dunia. Apalagi, jika kelima prinsip tersebut ditempatkan dalam konteks kelahiran Indonesia yang tengah berjuang untuk menjadi setara dengan bangsa-bangsa lain yang sudah terlebih dahulu merdeka,”ujar Hardi Hood.

Hardi menjelaskan Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi kunci bagi dasar pengembangan pembangunan Indonesia pasca merdeka. Bisa dikatakan, ketika sampai pada prinsip ini, Soekarno mengambil kepercayaan monotheistic atau Kepercayaan terhadap Tuhan yang Tunggal yang merupakan etika Ketuhanan dalam Islam (Tauhid).

Senator asal Provinsi Kepulauan Riau ini menjelaskan Islam mengajarkan umatnya mencintai tanah kelahiran, memperjuangkan kemajuan, dan peradaban bangsa, dan menghormati para pemimpin. Termasuk menuntut menyebarkan perdamaian, bukan hanya diantara kelompoknya sendiri tapi juga bagi kelompok atau negara-negara lain.

Kebangsaan Indonesia (nasionalisme) Hardi melihat fakta bahwa Indonesia ini adalah bangsa yang kaya dan beranekaragam suku, bahasa, dan agama dengan beberapa sejarah kerajaan di Nusantara ini yang pernah Berjaya. Rasa nasionalisme ini diperlukan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada dan menuju pada kesepakatan dan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.

“Islam mengajarkan upaya pendamaian pihak-pihak yang berselisih, mengutamakan jalan damai demi menghindari konflik dan peperangan.

Dalam hal merumuskan sebuah masalah atau membuat tujuan bersama, Islam menganjurkan permusyawaratan untuk mengambil keputusan yang bisa diterima semua pihak melalui perwakilan. Prinsip musyawarah ini juga yang menjadi dasar model demokrasi yang ingin dibangun di Indonesia, yaitu berdasar mufakat” jelasnya lagi.

Untuk itu, pungkas Hardi lagi, dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan maka Pancasila sangat rasional untuk dijadikan sebagai rujukan dan titik temu perjuangan sesama anak bangsa yang berbeda-beda paham politik, agama, adat istiadat, maupun bahasa.

Editor: Dardani