Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Cerdas dan Selektif Menggunakan Medsos
Oleh : Opini
Jum'at | 17-06-2016 | 15:22 WIB
medsos.jpg Honda-Batam

Ilustrasi.

Oleh: Satyaning Syariatiningsih*

DERASNYA arus globalisasi menjadikan manusia mudah untuk melakukan tindakan apapun atas dasar kebebasan berekspresi. Meskipun memiliki dampak positif yang besar namun dibarengi juga dampak negatif yang tidak kalah besarnya.

Banyaknya pengguna media sosial, tidak berarti menunjukkan bahwa negara tersebut semakin maju. Justru yang terjadi sebaliknya, karena mereka lebih asyik menjadikan media sosialnya untuk berbangga diri dan menyiarkan berita-berita hoax serta menyebabkan provokasi yang berunsur SARA, politik, maupun perseorangan.

Kemudian ditambah dengan banyak yang sifatnya adu domba dan provokasi di sosial media, seperti menggunakan nama palsu untuk memposting unsur penghinaan terhadap agama, hal itu digunakan supaya antar umat ini saling terpecah belah.

Dunia maya (cyberspace) adalah istilah mengenai dunia tersendiri tanpa batas yang berada di jaringan komputer terbesar di muka bumi, Internet. Internet sudah sangat berperan dalam kehidupan manusia saat ini. Banyak aktivitas manusia yang dilakukan berhubungan dengan Internet. Segala macam aktivitas di Internet tersebut dapat disalahgunakan atau mengandung resiko mengenai kemanannya.

Hal yang harus kita ingat pada saat ini adalah media sosial juga merupakan suatu alat yang sebenarnya diperuntukkan bagi manusia untuk mendukung kebutuhan sehari-hari. Misalnya saja untuk berkomunikasi dengan orang yang berada jauh dari kita, menambah informasi bagi diri sendiri, mengekspresikan diri kita, dan bahkan untuk mendukung bisnis yang pada saat ini kita bangun.

Kalau dilihat secara sekilas, banyak sekali keuntungan yang bisa kita peroleh atau sisi positif yang dapat ditimbulkan melalui media sosial. Ibarat sebuah pisau, baik atau buruknya kegunaan pisau itu bergantung kepada siapa yang menggunakannya. Baik ketika orang tersebut menggunakannya untuk memasak, mengupas buah, memotong buah, dan lain sebagainya. Tetapi menjadi buruk ketika pisau itu digunakan untuk melukai seseorang.

Nah, sama seperti pisau, begitu jugalah media sosial di tangan manusia. Media sosial dapat menjadi sesuatu yang baik ketika orang bijak menggunakannya. Contohnya, seperti yang sudah diungkapkan di atas adalah untuk memulai bisnis yang baik, menyebarkan kalimat-kalimat motivasi yang membangun orang lain di sekitar kita. Namun nyatanya, hal seperti apakah yang lebih banyak kita jumpai di media sosial?

Menurut Wali Kota Bogor Bima Arya menyebutkan bahwa melalui social media, kita banyak diuntungkan dengan semakin derasnya arus informasi, namun merasa sedih ketika persahabatan itu terkoyak karena lewat sosial media.

Sedangkan menurut Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa menyebutkan makin ramainya perdebatan soal keyakinan di media sosial dan di beberapa website sudah memunculkan keresahan di kalangan generasi muda. Sebab tantangan utama bangsa ini adalah kemiskinan, separatisme, penggangguran, korupsi, karakter yang lemah, serta daya saing bangsa yang rendah, apalagi tahun 2016 Indonesia akan menghadapi pasar bebas dan 2017 dilaksanakan pilkada serentak di sebagian daerah di Indonesia.

Selama ini memang fakta-fakta di media sosial yang menyerang keyakinan agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu. Penyerangan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan akun twitter, facebook, youtube, dan lain-lain. Bahkan, ada yang menggunakan akun nyata, ada juga yang anonim.

Kemudian menurut Anggota Komisi I DPR, Supiadin Saputra, menyatakan bahwa pemerintah harus mewaspadai setiap gerakan dan media sosial penyebar informasi berdampak merusak moral bangsa. Komisi I bersama Kementerian Kominfo sedang berupaya membuat aturan pembatasan penyebaran informasi agar tidak memberikan dampak buruk terhadap masyarakat. Namun aturan itu, tentunya aturan yang mampu mengontrol setiap informasi yang disajikan berbagai media tanpa mengurangi kebebasan berekspresi.

Tidak dapat dipungkiri saat ini sedang tumbuh berkembang teknologi informasi komunikasi yang sudah hampir menyentuh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia. Sekarang ini media sosial sulit mengontrolnya, anak-anak ini bebas, sulit terkontrol, makanya salah satu alat kontrol itu kita membatasi aturannya tanpa kita mengurangi kebebasan berekspresi ini.

Di samping itu, ada penelitian yang menemukan bahwa media sosial bisa membuat seseorang menjadi tidak bermoral. Dilansir dari Mail Online, Kamis (10/3/2016), para peneliti juga mengungkapkan orang yang sering menggunakan media sosial memiliki moral yang kurang dan cenderung memiliki tujuan hidup yang dangkal.

Misalnya, diketahui pengguna lebih sering terlibat dalam memaparkan pemikiran secara reflektif tentang tindakan mereka dan dunia di sekitar mereka. Kemudian muncul kekhawatiran mengenai penggunaan media sosial yang berlebihan, dapat memperparah kepribadian negatif seseorang seperti narsisme, rasa tidak aman dan perilaku kompulsif.

Logan Annisette, seorang psikolog dari University of Windsor di Ontario, Kanada yang memimpin penelitian ini mengatakan dampak moral yang dilihat juga dapat memiliki implikasi luas. Menurutnya dalam Personality and Individual Differences, menunjukan bahwa dia dan timnya mengemukakan penggunaan yang sering dari sosial media dapat berpengaruh buruk pada pemikiran reflektif dan indikator moral.

Mereka yang menggunakan media sosial lebih sering cenderung memiliki sikap hedonisme, suka ketenaran, dan membangun pencitraan. Penelitian ini digambarkan sebagai “pendangkalan moral”. prediksinya jika penelitian lebih lanjut benar-benar menunjukkan dampak ini, hal tersebut akan menimbulkan ancaman untuk perkembangan intelektual, sosial dan moral.

Sebagai contoh media jika digunakan dalam pendekatan politik, misalnya jelang pilkada DKI Jakarta 2017 nanti, Memang masih banyak tokoh dan sosok yang ikut bersuara tentang peluang mereka dalam pilkada DKI tahun 2017. Namun yang banyak dimuat diberbagai media online adalah persaingan yang paling terlihat adalah persaingan antara Ahok (incumbent) dengan lawan politiknya.

Berdasarkan beberapa potensi yang dimiliki media, seyogyanya kita memanfaatkan media secara bijak untuk kepentingan positif. Hendaknya media tidak menjadi alat provokasi, memecah kesatuan, menanamkan kebencian, atau sekadar menjadi corong kepentingan pihak-pihak oportunis. Media harus digunakan semata kepentingan yang mengarah kepada perubahan baik dan memberikan kebaikan kepada pembaca dan masyarakat umum.

*) Penulis adalah Pemerhati Komunikasi, aktif pada Kajian Arus Global Komunikasi Sosial.