Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perindo Fokus pada Perjuangan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM
Oleh : Irawan
Jum'at | 01-04-2016 | 10:09 WIB
Hari_Tanoe.jpg Honda-Batam
Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Orang nomor satu di MNC Group, Hary Tanoesoedibjo atau akrab disapa HT rela meninggalkan 101 perusahaan dengan karyawan sebanyak 30 ribu orang yang dimiliknya, dan memberikan kepada kalangan profesional. 


Keputusan ini diambilnya agar bisa fokus membangun Ekonomi Kerakyatan lewat partai besutannya, Partai Persatuan Indonesia (Perindo)

"Lewat Perindo, saya ingin berbagi pengalaman usaha kepada bangsa Indonesia supaya kita bisa lepas dari ekonomi kapitalis dan neolib," kata Hary saat melantik ormas Pemuda Perindo di Jakarta, Kamis (31/3/2016).

Upaya membangun ekonomi kerakyatan dilakukan Harry bersama Perindo dengan berkeliling Indonesia, dengan berbagai langkah konkrit mulai dari pembinaan, pelatihan, bantuan permodalan bagi UKM. Bahkan dirinya mengaku turun langsung kelapangan demi memastikan bahwa langkah yang diambilnya tepat sasaran.

"Saya sudah meninggalkan perusahaan karena sudah ada yang ngurusi dan berjalan sangat baik. Saya yakin pengalaman jatuh bangun membangun usaha selama 26 tahun bisa diterapkan untuk Indonesia," tambahnya.

Memamg diakui Hary bahwa untuk mencapai tujuan tersebut harus dengan usaha yang militansi, kerja keras dan kerja cerdas. Karena itu, Perindo hadir dengan tujuan yang jelas untuk membangun masyarakat kecil sesuai dengan tujuan bersama yakni membangun Indonesia sejahtera.

"Oleh karena itu Perindo akan menjadi pelopor perubah strategi berbangsa dan bernegara karena kalau tidak maka tujuan kemerdekaan yaitu memakmurkan kehidupan rakyat tidak akan tercapai," tambahnya.

Dikesempatan itu, HT mengungkaokan kekhawatirannya kalau arah pembangunan yang neolib dan kapitalis seperti sekarang terus dipaksakan dan tidak mengambil pondasi ekonomi kerakyatan, maka tujuan mensejahterakan rakyat tidak akan tercapai. Malah yang akan terjadi adalah kesenjangan antara si kaya dan si miksin akan terus melebar.

Dia pun mencontohkan bagaimana dua negara yaitu India dan Cina yang perekonomian keduanya berada di bawah perekonomian Indonesia saat ini bernasib berbeda karena penerapan ekonomi neolib kapitalis dan ekonomi kerakyatan. Cina dan India, dua negara besar dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan dibawah Indonesia 30 tahun lalu.

"India, karena jajahan Inggris menerapkan ekonomi neolib kapitalis seperti Inggris dengan harapan mereka bisa makmur seperti Inggris. Tapi karena tingkat pendidikan rakyatnya tidak semaju Inggris, maka yang terjadi justru penerapan ekonomi neolib kapitalis membuat jurang antara si kaya dan si miskin bertambah jauh," jelasnya.

Sementara China, awalnya ekonomi dan pendidikan rakyatnya dibawah Indonesia dengan jumlah penduduk 1,3 miliar orang. Namun, China menerapkan ekonomi kerakyatan seperti membangun pondasi ekonomi dari kelompok yang justru tidak mapan. Kelompok ini diberikan perlakuan khusus mulai dari pendanaan, pelatihan dan kebijakan. 

"Hasilnya pertumbuhan ekonomi mereka mengalami hal yang luar biasa. Kelompok ekonomi lemah semakin jauh berkurang dan jumlah masyarakat mapan terus bertambah. China pun menjadi kekuatan ekonomi nomer dua terkuat di dunia," tegasnya.

Mengapa? China, lanjut Hary lagi, sejak awal menyadari bahwa dengan masyarakat yang tingkat pendidikanya tertinggal, ekonomi kapitalis dan neo liberal tidak bisa diterapkan. Jadi untuk Indonesia, sekarang tergantung pada diri kita sendiri untuk merobah konsep ekonominya, apakah akan mencontoh India atau China.

"Kami jelas memilih membangun basis ekonomi kerakyatan. Ibarat membangun gedung dengan struktur dan pondasi yang kuat, maka membangun gedung belasan lantai juga tidak akan jadi masalah," tandasnya.

Sementara Ketua Umum Pemuda Perindo, Effendi Syah Putra mengaku bahwa Harry Tanoesudibyo sudah berkomitmen membangun ekonomi kerakyatan dan akan fokus di dunia politik demi membesarkan partai yang dibesutnya.

Memang diakui Effendy kalau keputusan tersebut akan sulit bagi Harry mencapai tujuan tersebut jika tidak meninggalkan perusahaan yang didirikannya itu.

"Pak Harry Tanoe akan fokus di dunia politik. Dia bilang ke saya akan menghabiskan periode ketiga hidupnya demi mengabdi membangun ekonomi kerakyatan," tandasnya

Editor : Surya