Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Memaknai Fungsi Organisasi Pemuda
Oleh : Redaksi
Senin | 06-04-2015 | 11:05 WIB

Oleh Her Itnasus
 
SEJARAH kepemudaan tidak cukup dengan menghapalkan berdirinya organisasi Budi Oetomo, Taman Siswa dan Sumpah Pemuda. Namun, harus juga paham sejarah berdirinya KNPI sebagai wadah tunggal untuk berhimpunnya pemuda NKRI. Kita boleh bangga dengan apa yang disumbangkan oleh kaum muda pada masanya masing-masing. Mereka adalah pahlawan dan harus diakui, karena pemuda yang besar adalah pemuda yang pintar bercermin dari sejarah pendahulunya. Kaum muda memiliki karakter yakni sebagai pelapis generasi pewaris dan pelanjut kelangsungan hidup masyarakat.

Ada satu hal yang pasti dalam sejarah gerakan kaum muda di Indonesia, yakni semangat kepeloporan. Semangat ini adalah sebuah energi dan daya dorong bagi pembaharuan yang lahir dari kesadaran sosial dan pembaharuan. Dengan semangat kepeloporan tersebut, maka bangunan psikologis yang kritis, skeptis, kaum muda senantiasa berjalan di garda terdepan untuk mengambil prakarsa perubahan dan pembaharuan menuju kondisi masyarakat yang lebih baik.

KNPI sebagai wadah berhimpun pemuda Indonesia, semakin dituntut untuk mengembangkan sikap-sikap kepemudaan yang kritis dan progresif, sekaligus menghindarkan diri dari sikap dan prilaku yang membebek (epigonistik). Prilaku tersebut bukan tidak sejalan dengan dinamika kepemudaan yang kritis dan dinamis, tetapi akan membuat image bahwa KNPI tidak lebih sebagai kepanjangtanganan pemerintah untuk meredam dinamika kaum muda yang memiliki karakter agent of changes di Indonesia.

KNPI sebagai "rumah besar" seluruh elemen organisasi pemuda harus menyadari bahwa eksistensi dan kesinambungan perjalanan sebuah lembaga tidak akan ada artinya manakala pada saat dibutuhkan peran, kiprah dan keperduliannya tidak hadir dalam kenyataan. KNPI ke depan dihadapkan pada tantangan bagaimana memberdayakan dirinya sekaligus menampilkan model generasi muda yang dibutuhkan masyarakat di masa mendatang.

KNPI merupakan wadah pemuda yang keberadaanya berangkat dari semangat kebersamaan dan persatuan untuk melakukan hal yang bermanfaat sehingga hendaknya bisa menjadi contoh bagi generasi pemuda. Untuk itu, KNPI harus dapat menjadi sebuah kekuatan pembangunan yang mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Manfaat ini tidak hanya bagi KNPI semata namun juga bagi upaya pencapaian tujuan pembangunan kepemudaan yakni menjadikan pemuda Indonesia sebagai pemuda yang berkarakter, kapasitas dan berdaya-saing tinggi.

KNPI dituntut untuk tidak apriori terhadap elemen apapun, baik pemerintah maupun berbagai dinamika ragam potensi kepemudaan di antaranya LSM dan OKP lainnya. KNPI juga harus mampu menyikapi secara obyektif berbagai problem sosial yang terjadi dan menyikapinya secara kritis, korektif dan konstruktif. Semangat sejarah kepeloporan kaum muda hakikatnya adalah etik perjuangan untuk menegakan kebenaran dan fitrah manusia. Inilah menjadi tanggung jawab kita semua sebagai kaum muda terutama KNPI sebagai Ormas tempat berhimpunnya kaum pemuda, memiliki tanggung jawab yang sangat besar.

Semenjak kelahirnya, KNPI harus mampu membangun wacana perubahan bagi kaum muda dan menjadikannya sebagai anak masyarakat yang mandiri, visioner dan mampu menjadi subyek sosial, karena kritik paling keras terhadap KNPI saat ini adalah ketidak mandiriannya dalam membentengi generasi muda dari masalah narkoba, terorisme dan aksi kekerasan. Untuk itu, orientasinya mampu dirumuskan dalam situasi sosial yang berubah, dan kinerjanya sebagai wadah berhimpun dapat di pertajam dengan kerja-kerja organisasi yang berkualitas.

KNPI Terjerumus Dalam Politik Kepentingan
KNPI sebetulnya merupakan cerminan relasi antara negara dan kaum muda, sekaligus sebagai produk dari relasi itu. Membicarakan KNPI dengan mengabaikan variable negara hanya akan menjelaskan tampak luarnya, sementara realitas terdalam tidak dapat dibaca. Tampak luar itu adalah realitas internal KNPI yang seakan tegak sebagai sosok organisasi yang otonom, padahal tidak, karena KNPI lahir dari kebijakan korporatisme yang kemudian segenap kebijakan strategis dari KNPI menjadi harus mendapatkan persetujuan pemerintah (penguasa). Artinya organisasi atau ormas yang menentang terhadap kebijakan pemerintah dapat dibubarkan atau dibekukan.

Sebagai sosok organisasi pemuda, eksistensi KNPI banyak dipertanyakan, perannya makin surut, kiprahnya dinilai tidak bersentuhan dengan dinamika kepemudaan secara kualitatif sehingga eksistensi KNPI lepas dari rumah sosialnya. KNPI hampir kehilangan jati dirinya dimana kinerjanya sebagai wadah berhimpun visi, orientasi dan misi kaum muda dapat dikatakan tidak mantap, maka KNPI saat ini harus mampu mendongkrak jati diri dan kembali kepada sosoknya semula.

Saat ini KNPI dimanfaatkan oleh kelompok elit ekonomi dan politik untuk kepentinganya. Selain itu, KNPI mulai terjun berpolitik untuk mengusung salah satu calon elite politik dengan melakukan posisi tawar politik praktis sehingga tuntutan dinamika kepemudaan yang bergeser dan dinamika internalnya. Sementara itu, perhatian pemerintah terhadap KNPI sangatlah besar bila dibandingkan dengan Organisasi lainnya, jangan sampai perhatian ini tidak mampu mendongkrak kinerja yang sehat dan berkualitas.

Beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh para aktivis KNPI di Indonesia dalam menata organisasinya ke depan, yakni harus tanggap atas realitas dan dinamika kepemudaan yang mulai jenuh karena kejenuhan ini sebagai bentuk protes terhadap berbagai realitas sosial seperti, ketidakadilan, KKN dan sebagainya. Problema tersebut, mesti diantisipasi dengan berbagai bentuk dan ragam pemikiran, sikap dan aktivitas.

Perlu menyeimbangkan proporsi orientasinya, baik orientasi politik, ekonomi maupun kulturalnya. Orientasi terhadap politik menjebak KNPI pada kepentingan pragmatis yang sempit dan sesaat karena KNPI akan kehilangan sikap kritis dan progresif, serta akan menjadi klien sistem patronase politik. Padahal politik KNPI adalah politik pemuda yang bernuansa luas dan bervisi kedepan, yakni pengembangan demokrasi dan kemandirian pemuda. Selain itu, problem KNPI yang mendesak mesti dibenahi sebagai jawaban logis dari dinamika internal maupun eksternal.

Problem-problem inilah yang menjadi sebab mengapa KNPI terasa mengalami degradasi peran, meski metabolisme organisasi masih berjalan normal. Untuk itu, mari kita kembali ke khittah KNPI sebagai wadah pemuda yang senantiasa dijaga dan diejawantahkan dalam program organisasi sehingga tidak lagi dimonopoli kalangan tertentu.

Penulis adalah pemerhati masalah bangsa tinggal di Jakarta