Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Hari Bhayangkara (Bukan) Saatnya Promosi Jabatan
Oleh : redaksi
Jum'at | 01-07-2011 | 17:37 WIB

Oleh: Nur Fahmi Magid

Sejumlah Perwira Tinggi (Pati) dan Menengah, juga Bintara, hari ini, 1 Juli 2011 mendapat promosi jabatan baru. Sebagian diantaranya, menduduki posisi yang lebih strategis dari sebelumnya. Namun, apakah hal ini sudah tepat? disaat institusi ini dihadapkan dengan ratusan pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan.

Cukup banyak kasus, dari pusat hingga daerah yang belum mampu diselesaikan korps coklat ini. Dipusat, deretan kasus berjejer menanti penyelesaian, sebut saja satu diantaranya masalah kaburnya Nazaruddin, juga persoalan mobil mewah di Kepulauan Riau yang sempat menghangat beberapa waktu lalu, dan belum menemui titik terang.

Bahkan khusus kasus yang terakhir, kini menjadi sorotan politisi di Senayan. Jika boleh mengutip, sebuah pernyataan pedas dari salah satu anggota DPR-RI, Ahmad Yani, tentang bagaimana kinerja Polisi dalam persoalan mobil mewah? maka saya yakin hari ini, siapapun yang merasa berseragam Polisi atau memliki kerabat Polisi, akan meradang. Bagaimana tidak, politisi asal PPP itu menyebut ada "aroma busuk" di balik penanganan kasus mobil mewah Batam. Bahkan lebih jauh, ia menyebut, kinerja Polisi terkesan "memble" (baca batamtoday edisi 30 Juni 2011 dan 01 Juli 2011).

Pendapat Ahmad Yani yang tidak lain calon ketua umum partai berlambang Ka'bah itu sepertinya bukan sekedar kritik. Tapi lebih jauh, ia ingin menggugah, ingin memberikan semacam gedoran, terhadap Polri, sekaligus menagih hutang tentang reformasi Polisi yang dulu juga sempat hangat di media massa.

Ada yang berlebihan, saat penanganan mobil mewah di Batam. Aparat dari Mabes Polri menurunkan puluhan anggotanya untuk mendatangi komplek perumahan yang masyarakatnya dianggap banyak memiliki mobil bodong. Mereka mendatangi lansung penghuni rumah yang memiliki mobil mewah, dengan bersenjata lengkap. Sebagian diantaranya mengaku shok. Ahmad Yani, bahkan mensejajarkan cara penanganan tersebut dengan proses penangkapan gembong terroris. Sangat berlebihan.

Kekecewaan semakin meradang, saat dalam proses penyelesaian persoalan mobil ini menjadi tidak jelas juntrungnya. Mulai dari penyusutan jumlah barang bukti, raibnya barang bukti, hingga berkurangnya jumlah orang yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka. Alhasil, Kapolri Jenderal Timur Pradopo pun dipanggil DPR untuk menjelaskan persoalan kinerja anak buahnya.

Jika diminta untuk merunut berapa banyak kasus yang belum terselesaikan, mungkin takkan habis tulisan ini dibuat. Runtutan tersebut, belum termasuk benturan lansung antara Polisi dan warga sipil. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat, dalam setahun terakhir, terdapat 373 orang jadi korban kekerasan Polisi.“Segitu lebih kecil ya dibandingkan oleh Kapolri sendiri yang menyampaikan dalam siaran persnya di akhir tahun 2010 terdapat pelanggaran disiplin sebanyak 5.437 perkara, pelanggaran pidana sebanyak 682 perkara, dan pelanggaran kode etik sebanyak 215 perkara,” kata Koordinator Kontras Haris Azhar di Jakarta, Rabu 29 Juni 2011 (Baca batamtoday edisi 29 Juni 2011).

Terlepas dari semua itu, apakah kasus demi kasus itu harus begitu saja kita lewatkan? apakah kesalahan selamanya kita diamkan? hanya karena persoalan kita sayang dengan institusi ini? tidak, bukan, saya yakin tidak demikian. Seorang sahabat saya, dari Barelang Institute pernah menulis, "Kritik terhadap Polisi justru harus dilakukan jika kita sayang terhadap institusi ini".

Kritik tak selamanya menjatuhkan. Justru bagi mereka yang bijak, melihat sebuah kritik itu sebagai sesuatu yang dapat menjadi stimulus perbaikan. Ada nukleus persoalan dalam institusi ini yang harus segera mendapat vaksin berupa perbaikan. Mengutip kalimat tokoh sejarah Islam, Abu Bakar As Sidiq, "Sahabatku adalah mereka yang terus memberikan kritik terhadapku". Kenapa beliau tak menyebut pujian? Secara psikologis, pujian yang berlebihan, sebuah kepercayaan buta yang lebih didorong perasaan fanatisme hanya akan menjerumuskan kita pada keterpurukan. Begitu juga Polri, kritik harus dapat diterima sebagai vaksin penyemangat untuk kembali bangkit melakukan perbaikan. Ya, Selamat Hari Bhayangkara, saatnya melakukan perbaikan, bukan sekedar perayaan kenaikan jabatan, kembalikan kebesaran institusi ini. Semoga dijauhkan dari sikap arogansi dan superioritas kelembagaan tanpa batas.

 

Penulis adalah Pemimpin Perusahaan Portal Berita Batam Today, yang juga aktif di Lembaga Audit Kinerja Pemerintah Daerah  dan Aparatur Negara (LAKIP).