Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bambang Widjojanto Cerita Dirinya Disergap dan Diperlakukan seperti Teroris oleh Bareskim Mabes Polri
Oleh : Redaksi
Sabtu | 24-01-2015 | 18:44 WIB
Bambang Widjojanto1.jpg Honda-Batam
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dengan tegas mengatakan, apa yang dialaminya pada Jumat (23/1/2015) kemarin, bukan hanya pelemahan KPK. Bahkan dia menilai, hal itu merupakan penghancuran KPK.


"Mungkin harus dinaikkan satu level. Ini pelemahan atau penghancuran. Kalau saya melihatnya ada upaya sistematis untuk menghancurkan KPK," ujar Bambang di kediamannya Jl Kampung Lio, Kampung Bojong Lio, Kelurahan Cilodong, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, (24/01/2015).

Bambang telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus menyuruh saksi untuk bersumpah palsu dalam kasus sengketa pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah di MK pada 2010 lalu. Saat itu, Bambang merupakan pengacara. Sedangkan Bambang menjadi pimpinan KPK pada 2012.

Bambang ditangkap tim Bareskrim dengan bantuan pihak Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo, setelah mengantar anaknya, Taqi, murid SDIT Nurul Fikri, pada Jumat (23/1/2015). Kemudian penahanan Bambang ditangguhkan setelah Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain bertemu Wakapolri Badrodin Haiti dan Kabareskrim Polri Komjen Budi Waseso. Bambang dibebaskan dari Mabes Polri sekitar pukul 01.30 WIB. Setelah ke KPK, Bambang tiba di rumahnya sekitar pukul 04.00 WIB.

Selain Bambang, pimpinan KPK lainnya yakni Abraham Samad juga terkena serangan. Abraham terkena foto palsu bersama Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira. Kemudian Samad juga terkena serangan plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menungkapkan Samad kecewa tidak menjadi cawapres Jokowi karena Budi Gunawan. Atas serangan ini, Samad sudah membantahnya.

Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja juga terkena peluru. Dia dituduh seorang pengacara ke Bareskrim telah merampok saham. Atas tuduhan ini, Pandu belum memberikan pernyataan.

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menilai penangkapan dirinya oleh petugas Bareskrim Polri sudah dipersiapkan dengan sangat baik. Menurutnya penangkapannya itu lebih mirip dengan penyergapan.

"Saya merasa bahwa proses itu sudah dipersiapkan dengan sangat baik," ujarnya.

Bambang mengatakan, dalam penangkapan itu, petugas Bareskrim sudah mempersiapkan sejumlah alat di antaranya kamera untuk dokumentasi. Ada juga kendaraan taktis seperti motor trail yang dilibatkan dalam penangkapan itu.

"Saya merasa kayak disergap gitu. Padahal kan saya belum pernah dipanggil satu kalipun," ujar Bambang.

Bambang pun  memaparkan detik-detik saat dirinya ditangkap di jalan raya di kawasan Tugu, Depok, Jawa Barat. Menurut Bambang, ada beberapa momentum yang disebutnya mengandung cara-cara teror.

Saat mengantarkan putranya ke SDIT Nurul Fikri di kawasan Cimanggis, Depok, Bambang melihat sepanjang perjalanan lancar, ada Kapolsek Sukmajaya mengatur lalu lintas. Usai mengantar anaknya, di tengah jalan, di depan minimarket Ceria Mart, tiba-tiba Bambang disetop polisi, Saat turun, Bambang kemudian melihat ada 4 mobil lain yang mengerubunginya.

"Saya merasa itu kayak disergap. Padahal, saya belum pernah dipanggil sekalipun untuk proses pemeriksaan ini," jelas Bambang .

Kemudian, salah satu polisi hendak memborgol Bambang dengan tangan di belakang. Bambang yang saat itu bersama putrinya Izzat (20), mengatakan pada Izzat.

"Ini tidak benar begini, ini learning by doing ini. Akhirnya mereka (polisi) memborgol di depan," jelas Bambang.

Lantas Bambang bertanya siapa yang hendak mengendarai mobilnya, lantas seorang polisi mengatakan, "Gampang". Bambang kemudian bertanya apakah mobilnya hendak dibawa ke rumahnya.

"Nggak dikasih (izin mobil dibawa ke rumah). Oke kalo begitu, saya minta yang kedua kalau nanti di suatu tempat saya mau buang air kecil? Dijawab tidak bisa. Saya kan tidak bisa buang air kecil pakaian saya seperti itu (pakai sarung dan gamis), saya ter-pressure itu," jelas dia

Saat masuk ke mobil yang menurut Bambang cukup bagus, Toyota Fortuner, Bambang meminta anaknya, Izzat menemani.

"Saya pangku dia. Mereka siapkan mobil cukup baik, Toyota Fortuner. Anak saya di tengah saya, saya diapit oleh 2 orang Bareskrim," jelas Bambang.

Dalam perjalanan, Bambang kemudian berdiskusi dengan Izzat. "Izzat, ini yang namanya proses penangkapan. Syaratnya harus seperti ini-ini. Saya paham yang begitu-begituan kan. Kalau tidak ada seperti ini, caranya salah. Mungkin percakapan dengan anak saya mengganggu sehingga seorang penyidik itu ada yang mengatakan 'Ada plester nggak?'. Ini kan teror," papar dia.

Kemdian, ada seorang penyidik yang saat masuk ke mobil berkata demikian, "Mas Bambang, lupa sama saya ya? Mas Bambang ini perkaranya banyak". Bambang juga menganggap ini sebuah terir.

"Jangan bilang soal perkara. Kalau bilang soal perkara itu nanti saya diperiksa," tutur Bambang.

Teror lain adalah saat anaknya, Izzat, ditanya-tanya penyidik.

"Anak saya nomor 4 mulai ditanya-tanya. Saya tak suka ditanya di luar pemeriksaan. Mau seperti apa ini. Di dalam perjalanan nggak enak, akhirnya saya mulai buka percakapan yang ringan-ringan, salah satunya soal rokok, kan anak saya sekolah di fakultas kedokteran, dan saya tanya-tanya ini rokok siapa," tutur Bambang. 

Editor: Surya