Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

566 Orang Tewas dalam Bencana di Indonesia Selama 2014
Oleh : Redaksi
Rabu | 31-12-2014 | 13:23 WIB
longsor_banjarnegara.jpg Honda-Batam
Bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah yang paling banyak memakan korban jiwa. (Foto: Liputan6.com)

BATAMTODAY.COM, Batam - Sebanyak 566 orang dinyatakan tewas dalam 1.525 kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia selama 2014, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Bencana ini menyebabkan 566 orang tewas, 2,66 juta jiwa mengungsi dan menderita, lebih dari 51 ribu rumah rusak, dan ratusan bangunan umum rusak," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Rabu (31/12/2014).

Dia memaparkan kerugian ekonomi mencapai puluhan triliun rupiah, seperti dampak kebakarah hutan dan lahan Rp20 triliun, banjir Jakarta Rp5 triliun, banjir di Pantura Jawa Rp6 triliun, banjir bandang di Sulawesi Utara Rp1,4 triliun, banjir dan longsor di 16 kab/kota di Jawa Tengah Rp2,1 triliun, dan sebagainya.
 
Sutopo mengatakan 99 persen bencana adalah bencana hidrometeorologi. Puting beliung adalah jenis bencana yang paling dominan selama 2014 yaitu 496 kejadian, kemudian banjir (458) dan longsor (413). Dalam 3 tahun terakhir puting beliung memang jenis bencana yang paling banyak terjadi. Bahkan menyebabkan korban jiwa 57 tewas, 10,707 jiwa mengungsi, dan lebih 23 ribu rumah rusak selama 2014.

Ancamannya makin meningkat dan menyerang semua wilayah, baik perdesaan maupun perkotaan. Longsor adalah bencana yang paling mematikan selama 2014. Ada 343 orang meninggal dan hilang akibat longsor, atau 60 persen dari dari total korban tewas akibat bencana. Longsor di Banjanegara yang menyebabkan 99 jiwa tewas dan 11 jiwa hilang merupakan bencana dengan korban terbanyak.
 
Konsentrasi bencana terbanyak adalah di Provinsi Jabar (290 kejadian), Jateng (272), Jatim (213), Aceh (51), dan Sumsel (480). Dilihat dari sebaran kab/kota, maka paling banyak ada di Bogor (37), Bandung (31), Sukabumi (29), Garut (26), dan Cianjur (23). 

"Pemda Jabar hendaknya memperhatikan hal ini. Sebab bencana selalu berulang pada daerah-daerah ini," kata dia.

"Penduduk yang padat yang tinggal di daerah rawan bencana hendaknya terus ditingkatkan kapasitasnya. Pengurangan risiko bencana harus menjadi pengarusutamaan dalam pembangunan di semua sektor," pungkasnya. 

Editor: Dodo