Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Benarkah Perjuangan Kartini Seperti yang Kita Ketahui
Oleh : Opini
Rabu | 23-04-2014 | 14:55 WIB

Oleh Sihol Manulang

PRAMUDYA Ananta Toer, pernah membuat studi khusus, apakah perjuangan Raden Ajeng Kartini memang seperti yang ditulis oleh H Abendanon dalam buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.

Awal abad lalu, buku Abendanon memang membuat gempar. Untuk memperkuat argumentasi apakah memang Abendanon menerima banyak surat dari Kartini, para intelektual meminta agar Abendanon menunjukkan surat-surat Kartini. Apa yang terjadi? Ternyata hanya satu surat saja yang bisa ditunjukkan Abendanon.

Dalam buku 'Sang Pemula', Pramudya secara utuh memuat koran-koran yang memuat 'pengadilan intelektual' terhadap Abendanon. Jadi mengenai Abendanon yang tak bisa menunjukkan bukti surat Kartini, bukan opini Pramudya. tetapi sesuai dengan berita surat kabar pada masa itu.

Pada masa penerbitan buku Abendanon, adalah saat-saat menjelang Pemilu di Belanda. Kuat dugaan, Abendanon yang mendukung partai oposisi, berusaha memojokkan pemerintah berkuasa dengan mengembor-gemborkan penderitaan perempuan di Hindia Belanda (daerah jajahan). Dengan harapan, oposisi memperoleh simpati dari perempuan di Belanda.

Sehingga bukan tidak mungkin, sosok RA Kartini memang ada, tetapi perjuangannya, dan surat-surat Kartini kepada Abendanon, boleh jadi 'karangan' Abendanon sendiri.

Rekan Isti Nugroho, seniman asal Yogya yang kini bermukim di Jakarta, suatu kali pernah berkisah, ada seorang doktor lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) yang menyusun disertasi sekitar RA Kartini. Antara lain, soal benar tidaknya surat-surat Kartini.

Hal yang paling membuat sang doktor heran, sebuah gagasan dalam surat Kartini kepada Abendanon, adalah gagasan dalam sebuah sajak berbahasa Francis --yang belum dipublikasikan pada tanggal surat Kartini.

Pada masa tanggal surat Kartini, sajak itu masih dalam bahasa Francis, belum diterjemahkan ke Inggris dan Belanda. Dan dalam situasi kehidupan Kartini sebagai wanita yang dipingit, adalah mustahil memperoleh sajak itu, dan Kartini tidak menguasai bahasa Francis. Jadi dugaan surat-surat Kartini hanya 'karangan' Abendanon semata, semakin kuat.

Walau begitu, tak ada yang kurang. Biarlah sejarah mencatat dirinya sendiri. Perempuan Indonesia memang butuh emansipasi, terlepas dari benar tidaknya surat-surat Kartini.

Penulis adalah mantan wartawan Suara Pembaruan (1986-2000). Kini Pemimpin Redaksi Baranews.co