Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kaji Ide dan Gagasan, Rizal Ramli Strategic Center Diresmikan
Oleh : Surya
Kamis | 13-02-2014 | 20:26 WIB

BATAMTODAY.COM, Jakarta -  Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (RR) meresmikan Rizal Ramli Strategic Center (RRSC) sebagai rumah perubahan untuk mengkaji berbagai ide dan gagasan dari berbagai bidang dengan menghadirkan para pakar di bidangnya.


Para pakar tersebut akan menganalisis, meneliti, dan mengkaji untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini.

"Kondisi bangsa saat ini sedang diayak, dibongkar oleh Tuhan Yang Maha Esa, karena yang terungkap selama pemerintahan ini lebih banyak keterlibatan tangan Tuhan, daripada penyelenggara negara. Ini proses penting dan membangkitkan optimisme kami menuju tahap yang lebih baik ke depan," tegas Rizal Ramli saat meresmikan RRSC di Jakarta, Kamis (13/2/2014).

Hadir dalam peresmian RRSC tersebut, antara lain Hamdi Muluk (pakar psikologi UI), Yenti Garnasih (pakar hukum pencucian uang), mantan KASAD Tyasno Sudarto, Hendri Saparani (pakar ekonomi), Ray Rangkuti (Lima),  kalangan pengacara, dan lain-lain.

Menurut Rizal, sejarah itu ditulis oleh mereka yang menang dan berkuasa. Sedangkan mereka yang kalah, sulit bisa menulis. Karena itu, perlu ada koreksi pada sejarah yang ditulis oleh Orde Baru (Orba), yang menyatakan Orde Lama itu buruk. Padahal ketika itu adalah orde memperjuangkan kemerdekaan, meski banyak ekses dari kejatuhan Bung Karno akibat adanya intervensi Amerika Serikat.

Sedangkan di era Orba di bawah kepemimpinan Soeharto dikenal sebagai rezim otoriter. Namun, Orba tetap mempunyai prestasi terhadap pembangunan bangsa ini, setidaknya dalam ketahanan pangan.

"Sejak Soeharto, petani mengalami kenaikan kesejahteraan. Tapi, sebaliknya pada 10 tahun terakhir ini, di mana banyak petani menghadapi kesulitan karena harga pupuk mahal, sedangkan gabah tidak mengalami kenaikan," tutur Rizal.

Sementara itu di Orde Reformasi 10 tahun terakhir kepemimpinan Presiden SBY ini, lanjut Rizal, kerja tidak optimal karena banyak pencitraan seperti nonton sinetron di televisi.

Sehingga berbeda dengan orde-orde sebelumnya, di mana Bung Karno (menggelorakan ruh perjuangan rakyat), Soeharto (pembangunan), BJ. Habibie (kebebasan pers), Megawati (pentingnya pemimpin perempuan),Gus Dur (pluralisme), dan SBY makin meyakinkan kita bahwa menjadi presiden itu tidak penting.

Oleh sebab itu, katanya, RRSC bertekad untuk membangun Orde Kedaulatan dalam hal pangan misalnya. Mengapa? Karena bangsa ini mempunyai prasyarat untuk makmur dan menjadi negara hebat.

"Tapi, karena tidak percaya diri, maka kekayaan dan potensi negara ini akhirnya dikuasai asing. Sampai-sampai negara sekecil Singapura, berani campur tangan soal KRI Usman Harun," ujarnya.

Mengapa kedaulatan pangan? Menurut Rizal, karena pemerintah selama ini motivasinya untuk mendapatkan komisi dan bukan untuk kedaulatan pangan.

"Jadi, sudah waktunya kita merubah watak koruptif pangan, agar kita menjadi ekspotir pangan pada 5 tahun ke depan, mengingat potensi dan kekayaan negara ini sangat besar," pungkasnya.

Editor: Surya