Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Anak Butuh 30 Menit Bermain di 'Alam Liar'
Oleh : Redaksi
Senin | 28-10-2013 | 10:01 WIB
kids-outdoors_1427890c.jpg Honda-Batam
Kredit foto: telegraph.co.uk

BATAMTODAY.COM, London - Anak-anak didorong untuk kembali menggunakan waktu mereka di "alam liar" selama 30 menit sebagai pengganti kegiatan penggunaan komputer. Permintaan untuk kembali memperbarui hubungan dengan alam ini diungkapkan oleh hampir 400 organisasi mulai dari taman bermain sampai dinas pelayanan kesehatan Inggris, NHS.

Mereka tergabung dalam Wild Network yang menginginkan anak-anak untuk melakukan aktivitas luar ruangan seperti berkemah atau bermain dengan bahan-bahan mainan yang diambil dari alam.

"Kebenaran yang tragis adalah bahwa anak-anak telah kehilangan kontak dengan alam dan lingkungan di luar rumah hanya dalam satu generasi," kata ketua Wild Network Andy Simpson.

Pernyataannya ini mengacu kepada penemuan sebelumnya bahwa sedikit sekali anak yang berinteraksi dengan alam. 

Penyelenggara mengatakan bahwa mengganti aktivitas bermain di depan layar komputer dengan bermain di luar selama 30 menit setiap hari akan meningkatkan tingkat kebugaran, kewaspadaan dan kesehatan anak.

"Semakin banyak orang tua yang khawatir dengan dominasi layar dalam kehidupan anak-anak mereka, dan semakin banyak bukti ilmiah mengatakan bahwa berkurangnya aktivitas adalah berita buruk bagi kesehatan dan kebahagiaan anak-anak kita. Karena itu kita semua perlu kembali mempromosikan alam untuk bermain," kata Simpson.

"Tambahan 30 menit waktu di luar setiap hari untuk semua anak usia di bawah 12 tahun di Inggris setara dengan tiga bulan masa kecil yang mereka dihabiskan di luar rumah."

Sementara itu,  sebuah riset selama tiga tahun dari lembaga amal RSPB menemukan bahwa hanya 21 persen dari anak berusia delapan hingga 12 tahun memiliki "hubungan dengan alam".

Anak perempuan lebih mudah terkoneksi dengan alam daripada anak laki-laki. Sedangkan anak-anak di daerah Wales punya skor yang paling rendah di antara daerah lain di Inggris.

RSPB mengatakan persepsi orang dewasa yang menilai bahwa alam merupakan tempat yang berbahaya atau kotor dapat menghambat interaksi anak dengan alam.

Ada peningkatan riset yang dilakukan baru-baru ini yang menekankan kurangnya kontak dan pengalaman anak-anak modern terhadap dunia luar.

Beberapa pihak mengatakan hal ini menmberikan dampak negatif terhadap kesehatan, pendidikan, dan perilaku mereka.
Pada 2012, National Trust mempublikasikan laporan tentang fenomena "gangguan defisit alam" (atau nature deficit disorder), walau hal tersebut tidak diakui sebagai kondisi medis.


Pengaruh Gender

RSPB mengatakan studi ini merypakan pertama yang mengukur dengan skala kuantitatif tentang kurangnya interaksi anak dengan alam.

Mereka mendefinisikan arti "terhubung dengan alam" dan kemudian menyebarkan kuesioner yang memuat 16 pernyataan untuk menilai tingkat konektivitas tersebut.

Sekitar 1.200 anak dari seluruh Inggris diminta pendapatnya apakah mereka setuju atau tidak setuju dengan sejumlah pernyataan.

Hanya 21 persen anak-anak di Inggris yang merasa memiliki hubungan dengan alam dan satwa liar. Padahal RSPB percaya hubungan dengan alam ini sebetulnya realistis dan dapat dirasakan oleh semua anak-anak.

Satu hal yang menarik adalah perbedaan jenis kelamin. Sementara 27 persen anak perempuan memiliki konektivitas dengan alam, hanya 16% anak laki-laki yang merasakan hal yang sama.

"Kita harus memahami perbedaan ini," kata Sue Armstrong-Brown, kepala lembaga amal itu kepada BBC.

"Apakah laki-laki dan perempuan memiliki skor yang jauh berbeda dalam tiap pertanyaan? Kita menganalisis data untuk mengetahui lebih lanjut tentang ini. Misalnya apakah anak perempuan lebih berempati dari pada laki-laki." (*)

Sumber: BBC