Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Importir Lele Kuasai Pasar, Petani Lele Lokal Menjerit
Oleh : Gokli
Jum'at | 30-08-2013 | 15:03 WIB
lele.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Batam - Petani lele lokal di Batam menjerit akibat pasar dikuasai importir. Pemerintah Batam harus bertindak tegas untuk melakukan penekanan terhadap importir lele Malaysia.

Memang, dari sisi harga lele asal Malaysia ini lebih murah dibanding lele lokal. Untuk lele Malaysia dibadrol harga Rp13 ribu per kilogram, sementara lele lokal masih bertahan diharga Rp15 ribu per kilogram.

Akibat selisih harga, masyrakat akhirnya lebih memilih lele impor. Sementara lele lokal tak laku di pasaran. Jelas, hal ini membuat para petani lele lokal sulit untuk memajukan usahanya.

Menyikapi hal ini, LSM Duta Bangsa Nusantara (DBN) mendesak Pemerintah supaya tanggap dan cepat melakukan kontrol. Jika hal ini dibiarkan maka nasib para petani lokal akan semakin terpuruk.

"Pemerintah harus memajukan petani lele lokal, bukan malah membiarkan importir menguasai pasar. Mungkin, saya menduga Pemerintah sengaja membiarkan importir berkuasa untuk mendapatkan upeti," kata Fransiskus Simbolon, Ketua DPW LSM DBN Kepri kepada BATAMTODAY.COM, Jumat (30/8/2013) siang.

Ia mengatakan, para petani lele lokal banyak yang mengadu kepada LSM BDN Kepri. Hal ini, kata dia harus segera disikapi Pemerintah demi memajukan budidaya ternak lele lokal.

Tak hanya itu, tambah Simbolon, mereka siap mengawal para petani lele lokal untuk mendesak Pemerintah suapaya mengambil sikap tegas. Bahkan, LSM BDN bersama petani lele lokal siap melakukan aksi demo terhadap pemerintah.

"Kita minta Pemerintah bertindak cepat. Kalau dalam minggu ini tak ada perubahan, kami akan turun," ancam dia.

Editor: Dodo