Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Konsumsi Roti di Prancis Semakin Menurun
Oleh : Redaksi
Senin | 12-08-2013 | 16:20 WIB
roti.jpg Honda-Batam
Ilustrasi roti.

PARIS - Bicara tentang makanan khas Prancis, mungkin kita langsung teringat akan baguette dan croissant. Masyarakat di pusat gastronomi dunia ini sejak dulu kala memang dikenal banyak mengonsumsi roti.

Namun, kini rata-rata orang Prancis hanya menyantap setengah baguette per hari. Padahal, pada 1970 mereka memakan satu baguette utuh per hari, bahkan tiga baguette pada tahun 1900. Angka ini lebih rendah pada wanita, yakni sepertiga baguette lebih sedikit daripada pria.

Bahkan, anak muda mengonsumsi hampir 30% baguette lebih sedikit dibanding 10 tahun lalu. Porsi roti kini mulai digantikan sereal, pasta, dan nasi. Meski Prancis masih memiliki toko roti independen terbanyak di dunia (32.000), pada tahun 1950 jumlahnya 54.000.

Khawatir akan konsumsi roti yang terus berkurang di Prancis, sejak Juni lalu Observatoire du Pain mengampanyekan bahwa roti baik untuk kesehatan, cocok untuk teman mengobrol, dan bagian dari kebudayaan Prancis.

Slogan mereka adalah 'Coucou, tu as pris le pain?' atau 'Halo, sudah makan roti?'. Seperti kampanye 'Got Milk?' di Amerika, slogan ini terpampang di papan iklan dan kantung roti di 130 kota di Prancis.

"Kebiasaan makan telah berubah. Orang-orang terlalu sibuk atau bekerja terlalu malam untuk pergi ke toko roti. Para remaja melewatkan sarapan," keluh Bernard Valluis, ketua Observatoire du Pain. Dengan melihat kata 'coucou', klaim Valluis, diharapkan konsumen akan ingat untuk membeli roti hari ini.

Baguette adalah salah satu makanan pokok termurah di Prancis, dijual dengan harga kira-kira satu dollar. Di negara ini, sekitar 10 miliar baguette terjual setiap tahunnya. Festival roti nasional diselenggarakan setiap Mei, dan baguette terbaik di Paris dipilih setiap tahunnya.

Menurut ahli sejarah Steven L. Kaplan, belakangan ini sebagian besar produk roti terus mengalami penurunan kualitas. Dimulai pada tahun 1920, terjadi transisi dari pembuatan roti secara lambat dengan dasar sourdough menjadi proses cepat menggunakan ragi (yeast). Penggunaan mesin pada tahun 1960-an membuat citarasa dan aroma roti kurang sedap.

Pada 1993, pemerintah mengeluarkan aturan terkait ketentuan roti yang sesuai dengan tradisi Prancis, atau disebut 'tradition'. Roti tersebut harus dibuat hanya dengan tepung, garam, air, dan bahan pengembang (leavening), tanpa bahan tambahan lain.

Tradition lebih mahal daripada baguette biasa yang menggunakan bahan tambahan, proses pengembangan yang cepat, serta memakai mesin. Di toko milik Philippe Levin, misalnya, baguette biasa lebih murah 20 sen dibanding tradition.

"Rahasia membuat tradition yang enak adalah waktu, waktu, dan waktu. Fermentasinya sangat lambat. Aroma dan gulanya harus keluar. Butuh waktu 3,5-4 jam sejak mulai sampai selesai," ujar Levin yang sudah menjadi pembuat roti selama 25 tahun, seperti diberitakan The New York Times (30/07/13).

Kaplan tampak skeptis akan kampanye Observatoire du Pain. "Kampanye ini tampak seperti bagian dalam baguette biasa: hambar, mengajak orang membeli roti sebagai bagian rutinitas mereka. Kita perlu membicarakan roti sebagai obyek kenikmatan. Kita perlu merayakan roti yang membuat lidah kita bergoyang," tutur Kaplan.

Sumber: food.detik.com