Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kenaikan Suhu Perkotaan Terus Memakan Korban
Oleh : Dodo
Rabu | 19-06-2013 | 10:16 WIB

NEW YORK - Jika Anda merasakan hari-hari yang semakin panas, malam-malam yang semakin gerah, Anda tidak sendiri. Fenomena kenaikan suhu bumi ini tidak hanya terjadi di Jakarta atau kota-kota besar lain di Indonesia. Penelitian terbaru dari Columbia University mengungkapkan, fenomena ini juga terjadi di seluruh dunia.

Hasil pengukuran harian di Central Park, Manhattan menunjukkan, suhu rata-rata bulanan di salah satu wilayah paling padat di Kota New York tersebut telah naik 3,6 derajat Fahrenheit dari tahun 1901 ke 2000 – jauh lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan suhu di AS dan dunia.

Bangunan dan jalan di perkotaan menyerap panas pada siang hari dan melepasnya pada malam hari yang menjadi alasan tren kenaikan suhu ini. Manhattan telah banyak mencetak rekor panas. Suhu rata-rata di Manhattan tahun lalu melampaui 100 derajat F (37,7 derajat Celcius) – suhu rata-rata tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

“Hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa panas adalah salah satu ancaman terbesar yang harus dihadapi penduduk perkotaan di seluruh dunia,” ujar Radley Horton, PhD, ilmuwan di Center for Climate Systems Research yang turut menyusun laporan ini. Dr. Horton menyatakan, bahaya gelombang panas bisa dilihat di Rusia pada 2010 yang menimbulkan korban 55.000 orang dan pada 2003 di Eropa tengah dan barat yang mencabut 70.000 jiwa.

Para ilmuwan menyatakan, suhu di Manhattan akan naik 3,3 hingga 4,2 derajat F pada 2050 dan 4,3 hingga 7,1 derajat F pada 2080. Dengan menggunakan 16 model iklim global, tim peneliti memroyeksikan jumlah kematian yang akan terjadi di wilayah ini. Landasannya adalah tingkat kematian akibat panas yang mencapai 370 orang dan kematian akibat suhu dingin yang mencapai 340 orang di Manhattan pada 1980.

Hasilnya, apapun model iklim dan skenario yang dipakai oleh tim peneliti, jumlah korban akibat suhu panas dan dingin akan terus meningkat, naik 20% akibat suhu panas dan naik 12% akibat suhu dingin pada 2020. Jumlah kematian rata-rata akibat suhu ini, menurut tim peneliti akan naik 5 atau 6%.

Proyeksi untuk tahun 2050 dan 2080 lebih beragam, akibat ketidakpastian jumlah emisi gas rumah kaca dunia. Prediksi terbaik dari tim peneliti menyebutkan, jumlah kematian akan naik antara 15% hingga 30%. Dengan berasumsi populasi di Manhattan tidak banyak beranjak dari angka 1,6 juta, jumlah korban akibat suhu panas dan dingin akan menembus angka 1.000 jiwa setiap tahun.

Sumber: hijauku.com