Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menakar Janji Seorang Guru
Oleh : opinil
Senin | 13-05-2013 | 09:33 WIB

Oleh Aripianto

SETIAP TANGGAL 2 MEI merupakan hari yang sangat istimewa, karena bangsa kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Berbicara Hari Pendidikan Nasional, maka kita akan teringat dengan seorang tokoh Pendidikan Nasional yang mashur, Ki Hajar Dewantara, yang lahir tanggal 2 Mei 1889.

Ki Hajar Dewantara adalah sosok anak bangsa yang menjadi maskot pendidikan Indonesia dengan ajarannya yang sohor dengan istilah "Tut Wuri Handayani" (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Sebuah runtutan kalimat yang memiliki progresifitas juang, moralitas dan kemajuan yang tinggi.

Perjuangan Ki Hadjar Dewantara tak ternilai sebuah materi untuk pendidikan nasional sebagai upaya pencerdasan bangsa. Atas jasa-jasanya di bidang pendidikan, maka tanggal 2 Mei yang bertepatan dengan tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dalam perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara untuk memperjuangkan pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai rintangan, terutama tindakan semena-mena dari penjajah Belanda yang tidak memberikan anak-anak negeri mengenyam pendidikan. Upaya-upaya yang dilakukan Ki Hajar Dewantara dalam memperjuangkan Pendidikan pada saat itu, merupakan bentuk kepeduliannya terhapat Rakyat Indonesia, dan hal itu yang menjadi pedoman utamanya untuk membebaskan Rakyat dari jeratan penjajahan Kolonial Belanda.

Estafet Pendidikan dan Peran Guru

Amburadulnya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini, menambah runyam wajah pendidikan kita. Meski pendidikan mendapatkan alokasi dana paling besar ketimbang sektor lain, sebesar 20 persen dari total APBN, nyatanya hal itu bukan jaminan terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan memang salah satu sektor yang banyak mendapat sorotan publik. Karena sektor inilah yang menjadi mesin utama pencetak kualitas generasi muda. Bapak pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantoro sejak awal sudah memetakan faktor minus dalam pendidikan Indonesia. Menurutnya, kelemahan utama sistem pendidikan Indonesia adalah masih terpakunya materi pelajaran dengan ujian.

Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya, kata Ki Hajar dalam buku 60 Tahun Tamansiswa, 1922-1982. Menurutnya, kualitas pendidikan Indonesia belum bisa mencetak peserta didik menjadi generasi berbudi pekerti baik. Sebaliknya, pendidikan hanya dimaksimalkan untuk mengejar nilai. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam school raportnya atau untuk dapat ijazah.

Tentunya keberadaan guru bagi suatu bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi kelangsungan hidup bangsa di tengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan dan pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamika untuk dapat mengadaptasikan diri. Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan kehandalan seseorang sebagai manusia pembangunan.

Dengan kata lain, potret dan wajah bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah-tengah masyarakat. Guru, akhir-akhir ini banyak menjadi sorotan di masyarakat. Betapa tidak, sebagian besar guru telah memperoleh "penghargaan" berupa dana sertifikasi yang banyak membuat iri pegawai pemerintah yang lain. Tak mengherankan pula jika profesi guru, khususnya di daerah  belakangan ini kembali diminati dan banyak orang tua yang menyarankan anaknya untuk melanjutkan pendidikan di jurusan keguruan.

Jika kita telaah, guru memang seperti profesi yang menjanjikan saat ini, tapi di balik cerahnya profesi ini juga muncul kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar kepada bangsa. Kondisi bangsa kita yang sedang memasuki era globalisasi, dengan banyak permasalahan multi dimensi yang tentunya membutuhkan modal dan pemecahan terhadap semua permasalahan itu.

Menurut Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab: Himpunan pengalaman, pendidikan, dan lain-lain menumbuhkan kemampuan di dalam diri kita, sebagai alat ukir paling dalam hati manusia yang mewujudkan baik pemikiran, sikap, dan perilaku termasuk akhlak mulia dan budi pekerti. Jelas sekali bagi kita, bahwa karakter dan kecerdasan hati adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita ingin memberikan pendidikan karakter, maka harus dengan hati. Dengan kata lain, untuk menyiapkan generasi penerus, peran guru tidak hanya membekali dengan kecerdasan intelektual yang identik dengan kecerdasan otak tetapi juga kecerdasan hati untuk berbuat kebaikan.

Guru dan Kepemimpinan Bangsa

Misi utama guru saat ini haruslah tetap mengutamakan proses pencerdasan kehidupan bangsa. Sisi lain dari misi guru adalah sebagai agen perubahan sosial. Kepemimpinan guru adalah termasuk dalam kepemimpinan pendidikan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Karena dalam interaksi dengan siswa, para guru tidak dibatasi pembelajaran klasikal saja, tetapi pembelajaran yang diciptakan guru untuk peserta didik juga dapat berlangsung di luar kelas. Itu artinya, ada posisi dan level penting yang ditempati guru bagi perbaikan sekolah menuju kualitas keunggulan yang diharapkan.

Suatu hal yang signifikan adalah keteladanan dan keprofesionalan guru dalam kepemimpinan pendidikan. Dijelaskan Suparno, SJ (2002:62) suatu hal yang penting dan mesti diupayakan oleh para guru adalah keteladanan. Keteladanan profesional menyangkut kompetensi keilmuannya, sedangkan keteladanan personal berkenaan dengan perilaku keseharian. Teladan para guru itulah yang dapat menantang para siswa bertumbuh menjadi pria atau wanita yang kompeten, bertanggung jawab dan berperhatian.

Oleh sebab itu, interaksi guru dengan siswa baik dalam kelas maupun di luar kelas adalah dalam rangka hubungan saling percaya, relasi yang demokratis, dialogis, dan rileksasi. Itu berarti kepemimpinan para guru, jangan semata-mata mengandalkan sifat kharismatik. Karena bagaimanapun, kepemimpinan kharismatik dengan sifat bawaan semata. Sebagaimana dijelaskan oleh Yulk (2006:254) bahwa bawaan pemimpin dan perilakunya merupakan kunci yang menentukan kepemimpinan kharismatik. Kepemimpinan karismatik nampak memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan, percaya diri yang tinggi, dan kekuatan memperjuangkan keyakinan dan gagasan.

Karakter seorang guru sebagai organisator pembelajaran prestasi, pemimpin dinilai dari seberapa besar keunggulan bersama dapat diwujudkan. Kekuatannya terletak pada seberapa efektif mengarahkan, mendorong, membimbing, dan memotivasi siswa mengembangkan potensi dirinya melalui kerja sama antar guru untuk mencapai tujuan bersama baik murid dan guru.

Sudah selayaknya peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, sebagai momentum perbaikan kualitas pendidikan kita. Dengan alokasi dana besar, diharapkan juga ada perubahan besar ke arah yang lebih baik. Sehingga Hardiknas  menjadi refleksi dan evaluasi kita bersama untuk terus berjuang meningkatkan kualitas pendidikan bangsa dan dapat dirasakan oleh setiap anak bangsa tanpa terkecuali, dan tidak adanya komersialisasi pendidikan yang merengguk hak yang tidak mampu.
 
Penulis adalah Kader GMNI Pekanbaru dan Mahasiswa FKIP Universitas Riau