Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dunia Bersiap Hadapi Kekeringan
Oleh : Dodo
Selasa | 19-03-2013 | 11:26 WIB
kekeringan.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAM, batamtoday - Bencana kekeringan tidak hanya mengancam penduduk miskin di negara berkembang. Negara maju juga menghadapi risiko yang sama.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekeringan telah menimpa sejumlah negara seperti Australia, Brasil, Djibouti, Eropa tenggara, Meksiko, Rusia, Somalia, Spanyol dan Amerika Serikat.

Walaupun tidak seseram bencana-bencana lain, seperti gempa bumi, topan dan banjir, bencana kekeringan ternyata lebih banyak mencabut nyawa dan memaksa penduduk mengungsi dibanding bencana-bencana alam yang lain. Hal ini terungkap dari berita World Meteorological Organization yang dirilis Kamis pekan lalu.

Sejak 1900, lebih dari 11 juta penduduk meninggal akibat bencana kekeringan dan 2 miliar penduduk terkena dampaknya. Kerugian ekonomi yang dipicu oleh bencana kekeringan mencapai $6-8 miliar setiap tahun sehingga bencana ini berdampak ke lebih banyak penduduk.

Data World Meteorogical Organization menyebutkan, luas tanah kering dunia terus meningkat 2% setiap sepuluh tahun sejak 1950. Frekuensi, intensitas dan durasi kekeringan ini terus meningkat akibat perubahan iklim.

Krisis ini merusak hasil pembangunan dan menjerumuskan jutaan penduduk ke lembah kemiskinan, terutama mereka yang menggantungkan hidunya dari mengolah lahan. Perempuan, anak-anak dan mereka yang telah berusia lanjut adalah kelompok yang paling banyak menanggung penderitaan ini.

Bencana kekeringan yang terus berulang di wilayah Afrika misalnya, terus merusak ekonomi dan memicu bencana kelaparan. Kekeringan di Sahel mengurangi produksi serealia hingga 26% pada 2012 dibanding tahun sebelumnya. Situasi ini terus memburuk. Saat ini lebih dari 10 juta penduduk masih kekurangan pangan dan 1,4 juta anak-anak terancam kekurangan gizi akibat kekeringan.

Untuk mengatasi ancaman ini World Meteorological Organization (WMO), Food and Agriculture Organization (FAO) dan UN Convention to Combat Desertification (UNCCD) menekankan pentingnya kerangka kebijakan dalam skala nasional guna membantu prediksi kekeringan dan memastikan masyarakat memeroleh informasi ini dengan tepat, cepat dan akurat.

Dalam konferensi di Jenewa, Swiss, yang berlangsung minggu lalu (11-15 Maret), ketiga lembaga ini juga menggarisbawahi pentingnya peralihan ke pola pembangunan berkelanjutan yang “memungkinkan keluarga tidak lagi tergantung pada bantuan pangan saat terjadi bencana kekeringan.”

Pihak yang berperan penting dalam aksi peralihan ini adalah petani. Petani bertugas menjaga produktivitas pertanian dan keberlangsungan pasokan. Untuk itu sistem yang berkelanjutan agar masyarakat dan petani mampu bertahan menghadapi kondisi perubahan iklim yang ekstrem sangat penting.

Menurut WMO, selain di Sahel, wilayah lain yang mengalami kekeringan ekstrem adalah Algeria, Chad, Eritrea, Mali, Mauritania, Niger, Senegal, Sudan dan Sudan Selatan. Sejak krisis kekeringan berlangsung setahun yang lalu, hingga saat ini 9 juta penduduk masih menggantungkan bantuan pangan dari World Food Program (WFP).

Sumber: hijauku.com