Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Energi Angin Terangi 9 Juta Rumah di Eropa
Oleh : Dodo
Rabu | 20-02-2013 | 11:37 WIB

LONDON, batamtoday - Pembangkit listrik tenaga angin akan menjadi sumber energi penting di Eropa. Kunci pertumbuhan ini adalah landasan hukum yang mantap di masing-masing negara.

Hal ini terungkap dalam laporan Asosiasi Energi Angin Eropa (European Wind Energy Association / EWEA) berjudul “Eastern Winds” yang diterbitkan baru-baru ini.

Negara-negara di Eropa Tengah dan Timur terus meningkatkan kapasitas terpasang energi angin mereka yang akan mampu menerangi 9 juta rumah tangga baru pada 2020. Turki akan menjadi negara dengan pertumbuhan kapasitas energi angin tercepat bersama Ukraina, Rusia dan negara-negara Eropa lain.

“Energi angin di Eropa Tengah dan Timur, termasuk Turki, akan mampu mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil secara signifikan,” ujar Christian Kjaer, CEO EWEA. “Namun di beberapa negara seperti Republik Ceko, Hungaria dan Bulgaria, dukungan kebijakan dari pemerintah dalam jangka panjang masih diperlukan agar industri ini dilirik oleh investor dan perbankan.”

Dua belas anggota Uni Eropa terbaru dari Eropa Tengah dan Timur berencana meningkatkan kapasitas energi angin terpasang mereka dari 6.4 GW pada akhir 2012 menjadi 16 GW pada 2020. Dengan kapasitas ini, mereka akan mampu memasok kebutuhan listrik untuk 9 juta rumah tangga.

Turki ingin meningkatkan kapasitas energi angin mereka dari 2,3 GW menjadi 20 GW pada 2023. Polandia, Rumania dan Bulgaria melipatgandakan kapasitas energi angin mereka menjadi 2,5 GW, 1,9 GW dan 0,7 GW pada akhir 2012.

Secara keseluruhan kapasitas energi angin terpasang di Eropa mengalami kenaikan dari 9,4 GW pada 2011 menjadi 11,6 GW pada 2012. Energi angin menyumbang 26% kapasitas energi terpasang di Uni Eropa tahun lalu. Saat ini energi angin memasok 7% kebutuhan listrik Eropa naik dari 6,3% pada akhir 2011.

Energi terbarukan menyumbang 69% kapasitas energi baru Eropa pada 2012. Pada saat yang sama, pasokan energi berbahan bakar fosil, batu bara dan nuklir turun akibat penonaktifan sejumlah pembangkit listrik di sana.

Sumber: Hijauku.com