Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Langkah Mbah Sarjo Meraih Ridho Ilahi di Tanah Suci
Oleh : Saibansah
Sabtu | 27-06-2026 | 19:48 WIB
Mbah-Sarjo.jpg Honda-Batam
Mbah Sarjo terus menebar senyum seusai menunaikan sholat dua rakaat di Masjid Bir Ali Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Langit Madinah Kamis, 30 April 2026, sudah menyengat sejak pagi. Apalagi, di kawasan area Masjid Bir Ali, tempat para jemaah haji Indonesia gelombang pertama mengambil miqat atau melafadzkan niat hajinya, sebelum berangkat ke Kota Suci Mekkah.

Dari 753 jemaah haji Indonesia yang berangkat dari Bir Ali pagi itu, terdapat seorang jemaah haji tunanetera asal Yogyakarta tekadnya menginspirasi dunia. Namanya, Mbah Sarjo Utomo (71). Gelapnya pandangan matanya, tak membuat langkahnya gelap meraih ridho ilahi di Tanah Suci. Pria murah senyum itu tetap menunaikan sholat dua rakaat di Masjid Bir Ali. Seolah ada cahaya tak kunjung padam yang menuntunnya meraih ridho ilahi.

Dia berjalan kaki, tidak naik kursi roda keluar dari Masjid Bir Ali. Ada banyak tangan dan mata petugas haji Indonesia yang senantiasa sigap menuntunnya. Di Bir Ali, ada dua pasang tangan membimbing langkahnya menuju bus yang akan mengantarkannya ke Mekkah.

Tangan Bhery Hamzah (wartawan Radio Elshinta Jakarta) dan tangan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani yang saat ini bertugas menjadi MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Haji Indonesia) Arab Saudi 2026.

Mbah Sarjo, sejak kehilangan penglihatannya, ia terbiasa mengenali dunia melalui suara, sentuhan, dan keyakinan.

Hari itu, dua rakaat shalat di Masjid Bir Ali telah ia tunaikan. Kini ia bersiap menempuh perjalanan sekitar 450 kilometer menuju Mekkah, kota yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam doa-doanya.

Tak ada keluhan. Tak ada kegelisahan. Yang tampak hanya senyum tipis yang nyaris tak pernah lepas dari wajahnya.

Musim haji 2026 menjadi perjalanan istimewa bagi lebih dari 220.000 jemaah Indonesia yang memperoleh kuota keberangkatan ke Arab Saudi. Di antara mereka terdapat ribuan jemaah lanjut usia serta penyandang disabilitas yang mendapatkan layanan khusus dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Mbah Sarjo adalah salah satunya.

Usianya telah melewati tujuh dekade. Penglihatannya telah hilang. Namun, semangatnya untuk menunaikan rukun Islam kelima tak pernah redup.

Sepanjang perjalanan ibadah, ia didampingi putrinya. Tetapi sebagian besar rangkaian haji tetap ia jalani sendiri, dengan langkah-langkah kecil yang penuh keyakinan.

"Dijalani dengan baik bersama anak saya yang mendampingi," katanya pelan ketika ditemui di Tim MCH di Jeddah menjelang kepulangan ke Indonesia.

Puncak ibadah haji bukanlah perjalanan yang ringan.

Saat jutaan orang bergerak hampir bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), suhu udara kerap melampaui 40 derajat Celsius. Jarak tempuh yang panjang, kepadatan manusia, serta kelelahan fisik menjadi tantangan bagi setiap jemaah, terlebih bagi mereka yang lanjut usia.

Di tengah kondisi itu, Mbah Sarjo sempat mengalami batuk berat. Bahkan, ia sempat kehilangan kesadaran. Namun ketika waktu wukuf tiba, ia tetap hadir.

Di Padang Arafah, tempat yang disebut Rasulullah SAW sebagai inti ibadah haji, Mbah Sarjo mengangkat kedua tangannya.

Ia berdoa. Bukan hanya untuk dirinya. Bukan pula hanya untuk keluarganya. Ia membawa serta doa-doa yang dititipkan para tetangga dari kampung halaman. "Saya senang sekali bisa berdoa memohon ampun atas semua kesalahan saya," ujarnya.

Suaranya lirih. Tetapi kalimat itu terdengar begitu utuh. Ada satu rangkaian ibadah yang akhirnya tidak mampu ia lakukan sendiri.

Melontar jumrah.

Karena kondisi fisiknya, ibadah tersebut dibadalkan oleh putranya. "Anak saya yang berjalan sambil membawa dua kantong batu," katanya sambil tersenyum.

Bagi Mbah Sarjo, hal itu tidak mengurangi rasa syukur. Yang terpenting baginya adalah Allah telah mengizinkan dirinya sampai di Tanah Suci.

Selama sekitar 40 hari di Madinah, Mekkah, hingga Arafah, ia juga merasakan pendampingan para petugas haji Indonesia. "Para petugas haji mendampingi perjalanan ibadah saya di Madinah, Mekkah, dan Arafah. Saya berterima kasih sekali," katanya.

Menjelang kepulangan, koper Mbah Sarjo tidak dipenuhi barang-barang mahal. Ada kurma. Dan ada satu benda yang paling ia jaga. Sebuah mainan unta. "Itu untuk cucu," katanya sembari tertawa kecil.

Sebelum berangkat, sang cucu memiliki satu permintaan sederhana. Bukan pakaian. Bukan oleh-oleh mewah. Hanya seekor unta. "Katanya buat teman tidur," ujar Mbah Sarjo.

Ia pun membeli mainan unta berukuran besar sebisanya. "Ya cuma unta sama sedikit kurma. Dananya terbatas," katanya lagi, kali ini disertai tawa yang renyah.

Perjalanan haji sering dipahami sebagai perjalanan fisik menuju Baitullah. Namun bagi Mbah Sarjo, haji adalah perjalanan yang lebih sunyi. Perjalanan yang membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah membatasi harapan.

Bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu membutuhkan mata yang mampu melihat. Kadang, cukup hati yang tidak pernah kehilangan cahaya. Ya, cahaya yang tak pernah padam.

Dan ketika pesawat yang membawanya pulang akhirnya lepas landas menuju Indonesia, Mbah Sarjo tidak hanya membawa status sebagai seorang haji.

Ia juga membawa pulang cerita tentang keteguhan, kesabaran, dan keyakinan, bahwa dalam perjalanan menuju Allah, yang paling menentukan bukanlah seberapa jauh mata mampu memandang, melainkan seberapa teguh hati melangkah.*

Editor: Agung