Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Doa Haji Termuda 13 Tahun Fardan untuk Almarhum Ayah di Arafah
Oleh : Saibansah
Selasa | 16-06-2026 | 11:48 WIB
1606_haji-termudau-usia-13.jpg Honda-Batam
Haji Termuda Usia 13 Tahun, Fardan bersama ibunya, Siska Aprilia (tengah). (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Kaki bocah itu tak henti bergerak saat duduk di sofa lobi hotel di Madinah. Sesekali senyum tipis mengembang di wajahnya, lalu matanya beralih ke sosok perempuan yang duduk tenang di sampingnya.

Perempuan itu adalah ibunya.

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Fardan Aruna Syafzani Wibowo mungkin tidak sepenuhnya menyadari bahwa dirinya menjadi salah satu jemaah haji termuda Indonesia tahun ini. Ketika ditanya bagaimana perasaannya bisa menunaikan ibadah haji pada usia yang begitu muda, jawabannya singkat.

"Senang," kata Fardan sembari tersenyum malu.

Siswa kelas I MTs Khadijah Kota Malang, Jawa Timur, itu berangkat ke Tanah Suci bukan sekadar untuk memenuhi panggilan ibadah. Keberangkatannya menyimpan kisah kehilangan yang mendalam.

Fardan menggantikan kursi haji ayahnya yang wafat tiga tahun lalu setelah berjuang melawan kanker. Melalui proses pengalihan porsi, namanya diajukan untuk mendampingi sang ibu, Siska Aprilia, menunaikan rukun Islam kelima yang sejak lama mereka nantikan sebagai keluarga.

Di balik wajah tenangnya, Fardan mengaku beberapa kali merasakan kerinduan kepada sang ayah selama berada di Arab Saudi.

Kerinduan itu muncul ketika ia berdoa di Raudhah, salah satu tempat mustajab di Masjid Nabawi. Namun, momen yang paling membekas adalah ketika menjalani wukuf di Arafah bersama ibunya.

"Pas bangun tidur di Arafah ingat ayah," ujar Fardan pelan.

Ia tidak banyak bercerita. Tidak pula menunjukkan kesedihan yang berlebihan. Namun dari tatapannya, tersimpan kerinduan seorang anak yang kehilangan sosok ayah pada usia yang masih sangat muda.

Bagi Siska, wukuf di Arafah tahun ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Tanggal pelaksanaan wukuf bertepatan dengan hari wafat suaminya tiga tahun lalu. Di tengah jutaan jemaah yang memanjatkan doa di Padang Arafah, ia mengenang perjalanan panjang keluarga mereka sejak mendaftar haji pada 2013.

"Tiga tahun lalu suami saya meninggal dunia setelah sebelumnya berjuang melawan kanker," tutur Siska.

Sebagai seorang dokter gigi, ia mengaku sempat diliputi keraguan ketika mengetahui kursi haji sang suami dapat dialihkan kepada Fardan. Usia anak sulungnya yang masih sangat muda membuatnya bertanya-tanya apakah sang anak akan mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah haji yang cukup berat.

Namun kekhawatiran itu perlahan sirna.

Proses pengalihan porsi berjalan lancar. Fardan pun dapat berangkat ke Tanah Suci setelah adanya ketentuan yang memungkinkan anak berusia 13 tahun menggantikan anggota keluarga yang telah wafat.

"Alhamdulillah semua dimudahkan. Ternyata Fardan bisa berangkat menggantikan bapaknya," kata Siska.

Selama menjalani ibadah haji, terutama saat puncak pelaksanaan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Siska terus memperhatikan kondisi putranya. Ia khawatir stamina Fardan tidak cukup kuat menghadapi cuaca panas dan aktivitas fisik yang menguras tenaga.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya.

Menurut Siska, Fardan mampu mengikuti hampir seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Hanya saat menjalani tawaf ifadah dan sa'i setelah kembali dari Armuzna, bocah itu sempat terlihat kelelahan.

Di tengah perjalanan spiritual yang sarat emosi tersebut, Siska mengaku sering teringat pesan almarhum suaminya.

Ada satu pesan yang hingga kini terus ia pegang: menjaga salat anak-anak.

Menurutnya, sang suami selalu meyakini bahwa salat merupakan fondasi utama kehidupan. Jika salat terjaga, maka urusan lainnya akan mengikuti.

"Almarhum selalu berpesan agar menjaga salat anak-anak. Karena salat adalah tiang agama," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Fardan yang duduk di samping ibunya hanya mengangguk pelan mendengar cerita itu.

Ia mengaku masih mengingat pesan-pesan ayahnya, terutama tentang tanggung jawab sebagai anak sulung untuk menjaga dan menyayangi adik-adiknya.

Di Tanah Suci, doa yang dipanjatkannya pun sederhana.

Ia berdoa agar ayahnya mendapatkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah. Lebih dari itu, Fardan menyimpan satu harapan yang terus ia bawa dalam setiap doanya. "Semoga ayah diampuni dosa-dosanya," katanya.

Lalu, setelah terdiam beberapa saat, ia menambahkan harapan yang membuat sang ibu kembali menahan haru.

"Saya ingin nanti bisa ketemu ayah dan ibu di surga."

Editor: Dardani