Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Napak Tilas Sumur Ghars, Mata Air Kesukaan Nabi Muhammad SAW
Oleh : Saibansah
Sabtu | 13-06-2026 | 20:19 WIB
1306_Sumur-Ghars-Medinah-2026.jpg Honda-Batam
Sumur Ghars menjadi salah satu destinasi wisata religi jemaah haji Indonesia di Madina. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Sholat ashar berjamaah di Masjid Nabawi baru saja usai. Kami para wartawan yang bertugas menjadi Petugas MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026, bergerak naik 2 mobil coaster warna putih. Tujuannya, sebuah sumur tua yang masih berdiri sejak lebih dari 1456 tahun lalu dan menjadi saksi bisu perjalanan Islam pada masa Rasulullah SAW.

Nama sumur tua itu, Bi'r Ghars (Sumur Ghars), sebuah sumber air yang tidak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menghadirkan kenangan tentang kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Kota Madinah yang beliau cintai.

Bagaimana suasana sumur yang airnya digunakan untuk memandikan jasad mulia Rasulullah itu? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM yang sedang bertugas menjadi Petugas MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026, Saibansah Dardani.

Bagi banyak jamaah haji dan umrah, berkunjung ke Madinah bukan sekadar menziarahi Masjid Nabawi. Kota yang menjadi tempat hijrah Rasulullah SAW itu menyimpan banyak situs bersejarah yang menghubungkan umat Islam dengan kehidupan Nabi sehari-hari. Salah satunya adalah Sumur Ghars, yang hingga kini masih kerap dikunjungi jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurut para ahli sejarah Madinah, sumur tersebut digali oleh Malik bin Nahhat, ayah dari sahabat Nabi, Sa'ad bin Khaitsamah RA. Pada masa itu, Sumur Ghars menjadi salah satu sumber air penting bagi penduduk Madinah. Namun, keberadaannya memperoleh kemuliaan tersendiri karena memiliki hubungan yang erat dengan Rasulullah SAW.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW sering meminum air dari sumur tersebut dan menggunakannya untuk berwudhu. Kedekatan Rasulullah dengan Sumur Ghars bahkan tergambar dalam wasiat beliau menjelang wafat.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah aku dengan air dari Sumur Ghars." (HR Abu Ya'la dan disebutkan oleh sejumlah ulama sejarah Madinah)

Wasiat itu menunjukkan bahwa Sumur Ghars bukanlah sumur biasa dalam kehidupan Rasulullah SAW. Airnya memiliki tempat tersendiri di hati beliau hingga digunakan dalam prosesi terakhir setelah wafatnya sang Nabi.

Untuk sampai ke sumur bersejarah ini, dari Masjid Nabawi hanya setengah jam. Suasananya tandus, tidak ada pepohonan di sekitar sumur tersebut. Sore itu pun, saat kami antre masuk area sumur, langit Madinah masih menyengat. Tenggorokan pun langsung terasa kering lengket, seperti orang puasa di tengah hari.

Tapi begitu meneguk air dingin dari Sumur Ghars yang terasa ada manis-manisnya itu, tenggorokan pun terasa nyeeessss.

"Alhamdulillah, airnya dingin dan terasa manis," ujar seorang Petugas MCH, Ahmad Fauzi Chan.

Memang, air dari sumur yang berjarak hanya 1,5 kilometer dari Masjid Quba itu dibagikan gratis untuk para pengunjung. Tetapi, para pengunjung tidak diperbolehkan membawa botol atau tumbler sendiri. Pengelola telah menyiapkan gelas plastik, gratis, untuk minum air Sumur Ghars, sepuasnya.

"Untuk membawa pulang air Sumur Ghars bisa pakai kendi dari tanah liat itu," ujar penjaga Sumur Ghars, Mahmud menjawab BATAMTODAY.COM.

Kendi-kendi tanah liat yang dijual ada dua macam. Yang kecil harganya 10 riyal dan yang besar 20 riyal.

Keistimewaan Sumur Ghars juga disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Rasulullah SAW pernah menceritakan mimpinya tentang sumur tersebut.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda:

"Aku melihat seakan-akan aku berada di dekat sebuah sumur. Lalu dikatakan kepadaku, 'Ini adalah Ghars, dan ia termasuk mata air surga'." (HR Ibnu Majah)

Sebagian ulama menilai riwayat ini memiliki pembahasan tersendiri dari sisi sanad. Namun, hadis tersebut tetap menjadi salah satu dasar yang menjelaskan mengapa Sumur Ghars memperoleh perhatian khusus dalam tradisi sejarah Madinah.

Keterangan tentang mata air surga juga mengingatkan umat Islam bahwa Madinah merupakan kota yang dipenuhi keberkahan. Di kota ini terdapat Raudhah yang disebut Rasulullah SAW sebagai taman di antara taman-taman surga. Keberkahan yang sama diyakini tercermin pada sejumlah situs bersejarah yang terkait langsung dengan kehidupan beliau.

Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, para ulama mengingatkan bahwa tidak terdapat dalil khusus yang menjadikan ziarah ke Sumur Ghars sebagai ibadah yang memiliki keutamaan tertentu.

Dalam tuntunan syariat, tempat-tempat yang secara khusus dianjurkan untuk dikunjungi di Madinah adalah Masjid Nabawi, Masjid Quba, pemakaman Baqi, serta kawasan para syuhada di Uhud.

Karena itu, kunjungan ke Sumur Ghars lebih tepat dipahami sebagai bagian dari wisata sejarah Islam (ziyaarah taariikhiyyah), yakni mengenang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam di Kota Madinah.

Bagi jamaah, berdiri di dekat Sumur Ghars menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di hadapan sumur yang usianya telah melintasi berabad-abad itu, terbayang sosok Rasulullah SAW yang pernah mengambil air darinya, membasuh anggota wudhu, serta menjalani keseharian dengan kesederhanaan yang menjadi teladan bagi umat manusia.

Sumur Ghars mungkin hanya sebuah sumber air di sudut Madinah. Namun bagi mereka yang mencintai Rasulullah SAW, setiap jejak yang pernah disentuh beliau memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bangunan atau situs sejarah. Ia menjadi penghubung kerinduan umat kepada Nabi yang telah membawa cahaya Islam bagi seluruh alam.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Tidaklah seseorang mencintaiku kecuali ia akan bersamaku." (HR At-Tirmidzi)

Maka bagi banyak peziarah, perjalanan menuju Sumur Ghars sesungguhnya adalah perjalanan untuk mempertebal cinta kepada Rasulullah SAW, mengenang kehidupan beliau, dan mengambil pelajaran dari kesederhanaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah Islam.*

Editor: Dardani