Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

AS-Iran Akhirnya Sepakat Hentikan Perang, Tinggal Teken Draf Perjanjian
Oleh : Redaksi
Sabtu | 13-06-2026 | 19:30 WIB
warga-Iran.jpg Honda-Batam
Warga Iran klaim kemenangan atas Iran. (Reuters)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Amerika Serikat dan Iran disebut mencapai kesepakatan secara lisan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kedua negara telah menyepakati rancangan teks perjanjian dan Washington berharap kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

"Kedua pihak telah menyetujui teks tersebut dan kami memperkirakan kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang," kata pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/6/2026).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga mengonfirmasi kemajuan perundingan tersebut. Meski masih ada kemungkinan perubahan dalam isi kesepakatan, ia menilai hasil sementara menunjukkan Iran keluar sebagai pihak yang lebih kuat dari konflik.

"Iran adalah pemenang perang dengan AS," kata Araqchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.

Di tengah kemajuan diplomatik itu, ketegangan militer masih terjadi. Reuters melaporkan pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone bunuh diri Iran yang terbang menuju Selat Hormuz karena dinilai mengancam lalu lintas pelayaran komersial. Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian memastikan jalur pelayaran di kawasan tersebut tetap terbuka.

Berdasarkan rancangan nota kesepahaman yang sedang dibahas, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan AS menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Setelah itu, kedua negara akan melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Teheran yang menjadi alasan utama Washington melancarkan operasi militer sebelumnya.

Seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan tersebut memenuhi tujuan utama Presiden Donald Trump dan menempatkan proses negosiasi pada posisi yang sangat baik.

"Kesepakatan ini memenuhi tujuan utama Presiden Trump dan menempatkan negosiasi pada posisi yang sangat baik," ujarnya.

Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Sementara itu, sumber Barat menyebut penandatanganan kesepakatan berpotensi dilakukan paling cepat pada Minggu (14/6/2026) dengan Jenewa, Swiss, menjadi lokasi yang paling mungkin dipilih.

Dalam rancangan yang diperoleh Reuters dari sejumlah sumber, AS disebut akan mulai membuka akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan serta memberikan pelonggaran sanksi ekspor minyak. Sebagai imbalannya, Iran membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup setelah serangan AS dan Israel pada Februari lalu.

Program nuklir Iran akan dibahas dalam masa negosiasi selama 60 hari. Washington menginginkan pembongkaran program nuklir Iran dan pemusnahan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi.

Namun Araqchi menegaskan Iran ingin tetap mempertahankan uranium tersebut dalam bentuk yang telah diencerkan.

Perkembangan menuju kesepakatan itu disambut positif pasar global. Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 3 persen ke level terendah dalam hampir dua bulan terakhir, sementara bursa saham dunia menguat seiring meningkatnya harapan berakhirnya konflik di kawasan Teluk.

Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut. Israel juga menyatakan tetap mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Yudha