Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Program KIMARA di Batam
Oleh : Aldy
Rabu | 03-06-2026 | 15:28 WIB
kirma.jpg Honda-Batam
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus memperkuat implementasi ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat melalui Program KIMARA (Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara) yang dijalankan bersama Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri di Kota Batam, Kepulauan Riau. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus memperkuat implementasi ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat melalui Program KIMARA (Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara) yang dijalankan bersama Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Program yang dibina oleh Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim tersebut menjadi salah satu upaya nyata dalam mendorong pengelolaan sampah terpadu berbasis prinsip zero waste sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan Program KIMARA hadir sebagai bentuk kolaborasi antara perusahaan dan warga dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif.

Menurutnya, melalui pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat didorong untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga. "Melalui pembinaan UBS RT One Berseri, kami mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Program KIMARA memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus membuka peluang usaha, khususnya bagi kelompok ibu rumah tangga," ujar Fahrougi, Selasa (2/6/2026).

Saat ini, UBS RT One Berseri telah berhasil mengembangkan berbagai kegiatan pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan. Limbah buah dari kedai jus dan penjual buah diolah menjadi eco enzyme dengan kapasitas mencapai 41 kilogram setiap bulan.

Selain itu, sebanyak 231 kilogram sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sedangkan 39 kilogram lainnya diolah menjadi kompos yang digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan.

Tak hanya fokus pada pengolahan sampah, kelompok binaan Pertamina tersebut juga mengembangkan budidaya sayuran hidroponik. Hasil panen hidroponik mencapai sekitar 20 kilogram per bulan dan dipasarkan kepada masyarakat sekitar, sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi anggota kelompok.

Fahrougi menjelaskan, keberhasilan Program KIMARA juga terlihat dari pengelolaan sampah anorganik yang mencapai tiga ton setiap bulan. Sampah tersebut dipilah dan dijual kepada perusahaan daur ulang sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Melalui berbagai aktivitas tersebut, kelompok binaan mampu menekan timbunan sampah sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan yang mendukung perekonomian anggota UBS RT One Berseri," katanya.

Sementara itu, anggota UBS RT One Berseri, Nella Nelfia, mengaku merasakan manfaat besar dari pendampingan yang dilakukan Pertamina melalui AFT Hang Nadim selama empat tahun terakhir.

Ia menuturkan, pembinaan tersebut membuat kelompoknya semakin mandiri dalam mengelola sampah dan mengembangkan usaha berbasis lingkungan. "Pertamina sudah membina kami selama empat tahun. Saat ini kami semakin mandiri dalam mengelola sampah dan pendapatan anggota juga meningkat. Program ini mengajarkan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk menanam sayuran karena dengan lahan sederhana di rumah kami tetap bisa bercocok tanam secara hidroponik," ujarnya.

Program KIMARA yang dijalankan Pertamina Patra Niaga juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Melalui pengurangan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang sampah, program ini berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis ekonomi sirkular.

Editor: Gokli