Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bappenas Tekankan Transformasi Menuju Ekonomi Hijau Jadi Kebutuhan Strategis
Oleh : Redaksi
Sabtu | 30-05-2026 | 16:48 WIB
Direktur-LH-Bappenas.jpg Honda-Batam
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi. (ANTARA)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Nizhar Marizi mengatakan transformasi pembangunan menuju ekonomi hijau merupakan kebutuhan strategis di tengah perubahan iklim yang sedang berlangsung.

"Transformasi pembangunan menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," katanya dalam agenda dalam kegiatan Green Economy Goes to Campus: Peran Generasi Muda dalam Mendukung Transformasi Ekonomi Hijau menuju Indonesia Emas 2045, dari keterangan resmi, Jakarta, Sabtu (30/5/2026).

Menurut dia, dampak perubahan iklim semakin nyata melalui peningkatan suhu, kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, hingga potensi kerugian ekonomi global yang diproyeksikan mencapai lebih dari Rp2 ribu triliun pada tahun 2029.

Karena itu, Bappenas bersama Institut Pertanian Bogor (IPB), GIZ Indonesia, dan Emil Salim Institute (ESI), berkolaborasi memperkuat literasi kebijakan sekaligus memperluas ruang partisipasi generasi muda dalam mendukung percepatan transformasi ekonomi hijau nasional.

“Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 menempatkan transformasi ekonomi hijau sebagai salah satu agenda prioritas, sekaligus sebagai motor penggerak pembangunan nasional,” ucap Nizhar.

Pendekatan ini dinilai tak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan hidup serta keadilan sosial sebagai fondasi pembangunan jangka panjang Indonesia, mengingat adanya ancaman nyata krisis planet ganda (triple planetary crisis) yang tengah dihadapi dunia dan Indonesia.

Generasi muda dianggap berpotensi besar dalam mendorong implementasi ekonomi hijau melalui inovasi teknologi, kewirausahaan hijau, advokasi kebijakan, serta penguatan gerakan berbasis komunitas dengan mengusung Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kegiatan Green Economy Goes to Campus ini dirancang sebagai platform strategis untuk mendiseminasikan arah kebijakan nasional, memfasilitasi dialog kebijakan, serta memperkuat kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas pemuda, dan mitra pembangunan.

Ketua Dewan Pembina ESI Profesor Emil Salim menekankan bahwa pembangunan ekonomi hijau harus dibangun di atas pemahaman terhadap ekosistem sebagai satu kesatuan yang hidup dan saling terhubung.

"Alam bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek kehidupan. Karena itu, pembangunan harus memahami ekosistem sebagai sesuatu yang hidup dan saling bergantung," ujar dia.

Emil Salim berpendapat bahwa generasi muda perlu memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus mampu melihat keterkaitan antara manusia, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan dalam mendukung pembangunan Indonesia di masa depan.

"Perguruan tinggi berperan strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, serta pembentukan kepemimpinan masa depan," ucap dia.

Sumber: ANTARA

Editor: Yudha