Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 Tegaskan Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup di Era Digital
Oleh : Redaksi
Rabu | 27-05-2026 | 12:28 WIB
Atip-Latipulhayat.jpg Honda-Batam
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, saat membuka puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen, Senin (25/5/2026). (Kemendikdasmen)

BATAMTODAY.COM, Depok - Ratusan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di Depok, Jawa Barat, sebagai bentuk komitmen menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Festival yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) itu berlangsung pada 22-26 Mei 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Bojongsari, Depok.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 sekaligus upaya memperkuat pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan pelestarian bahasa daerah tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan semata, melainkan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan.

"Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, maka lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan," ujar Atip saat membuka puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar penting dilakukan agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu mereka.

Atip juga menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menilai bahasa daerah harus masuk ke dalam ekosistem digital agar tetap relevan di masa depan.

"Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda," katanya.

Ia menjelaskan, pengembangan teknologi berbasis Large Language Model (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia dapat digunakan secara luas di berbagai platform digital dan teknologi AI.

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional merupakan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang telah dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Hafidz, program tersebut melibatkan berbagai tahapan, mulai dari koordinasi lintas instansi, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan di sekolah, hingga festival berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi. "Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman," ujarnya.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 mengusung tema "Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa" dengan menghadirkan 137 peserta terbaik tingkat provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi di Indonesia.

Para peserta merupakan siswa sekolah dasar dan menengah yang sebelumnya mengikuti program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing.

Selain menampilkan pertunjukan bahasa daerah melalui tembang, pidato, dongeng, dan seni pertunjukan kreatif, festival tersebut juga menjadi ruang pertemuan lintas budaya bagi generasi muda Indonesia.

Salah seorang peserta, Rahmi Oktavia, mengaku bangga dapat tampil membawakan Tembang Tradisi Onduo dalam festival nasional tersebut. "Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu ini, kami bisa melestarikan bahasa daerah masing-masing sekaligus belajar toleransi," ujarnya.

Rahmi juga mengajak generasi muda agar tidak malu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, penggunaan bahasa ibu di lingkungan rumah dan masyarakat menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga warisan budaya tetap hidup.

"Dengan terus menuturkannya, kita ikut menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup," pungkasnya.

Editor: Gokli