Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pemerintah Subsidi Motor Listrik Rp 5 Juta Mulai Juni, Kuota Awal untuk 100 Ribu Unit
Oleh : Redaksi
Kamis | 07-05-2026 | 18:48 WIB
Menkeyu-Purbaya.jpg Honda-Batam
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Kementerian Keuangan RI)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap sejumlah detail insentif kendaraan listrik yang rencananya mulai dikucurkan pada Juni 2026. Ia menyiapkan kuota awal untuk 100 ribu motor listrik dengan subsidi sebesar Rp 5 juta per unit.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan insentif untuk 100 ribu mobil listrik melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Besaran insentif PPN ini berbeda-beda tergantung jenis baterai kendaraan listrik tersebut.

Ia mengatakan saat ini masih menghitung kebutuhan anggaran untuk program tersebut.

"Nanti anggarannya kita hitung dan kita siapkan," ujar Purbaya dalam konferensi pers Hasil Rapat Berskala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Purbaya berharap implementasi insentif kendaraan listrik bisa dimulai pada awal Juni agar ikut mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.

Menurut dia, tujuan utama program ini bukan sekadar memberikan subsidi kendaraan listrik, tetapi juga mendorong orang berpindah dari mobil berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke listrik. Dengan begitu, dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.

"Jangan dilihat subsidinya, tapi tujuan utamanya kita lebih tahan ekonomi dari sisi energi," ujar Purbaya.

Purbaya sebelumnya pernah mengatakan mobil listrik yang menggunakan baterai nikel bakal mendapat insentif diskon pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP sebesar 100 persen. Model yang tak pakai nikel tetap mendapat diskon PPN tetapi jumlahnya lebih kecil.

"Kalau mobil yang pakai baterai nikel, PPN-nya ditanggung 100 persen. Kalau yang nonnikel di bawah itu," kata Purbaya, Kamis (7/5/2026).

Menurut Purbaya strategi ini untuk meningkatkan pemanfaatan nikel yang jumlahnya melimpah di Indonesia. Dia ingin mematahkan argumen di pemberitaan The Economist yang mengatakan mimpi penguasaan nikel Indonesia hancur karena China lagi tidak memakai baterai berbahan itu.

"Karena kita akan mendukung hilirisasi nikel di sini, supaya nikel kita dipakai betul," ucap dia.

"Saya mau hidupin mimpi itu lagi. Saya mau memastikan mimpi kita hidup terus," katanya.

Mobil listrik di Indonesia saat ini didominasi merek China yang kebanyakan menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) seperti Aion, BYD, Chery, DFSK, Geely, GWM, Jaecoo. Dari kubu Jepang, misal Lexus dan Toyota, juga memakai LFP untuk mobil listrik yang dijual di dalam negeri.

Sementara baterai nikel seperti jenis Nickel Manganese Cobalt (NMC) lebih banyak dipakai di model mobil listrik BMW, Hyundai, Kia, Mercedes-Benz, Mini dan Volvo.

Sumber: CNN Indonesia

Editor: Yudha