Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kakek 90 Tahun Hidup Sendiri di Rumah Nyaris Roboh di Bintan, Desa Akui Terkendala Status Lahan
Oleh : Harjo
Senin | 27-04-2026 | 16:08 WIB
kakek-90.jpg Honda-Batam
Lim Keng (90), warga Desa Sebong Lagoi, Kabupaten Bintan, saat ditemui di rumah yang kondisinya nyaris ambruk, Minggu (26/4/2026). (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Nasib memprihatinkan dialami Lim Keng (90), warga Desa Sebong Lagoi, Kabupaten Bintan, yang hingga kini hidup seorang diri di rumah yang kondisinya nyaris ambruk. Pemerintah desa mengakui kondisi tersebut telah berlangsung lama, namun upaya penanganan terkendala persoalan status lahan dan minimnya respons keluarga.

Sekretaris Desa Sebong Lagoi, Riadi, menyatakan pihak desa bersama warga sebenarnya telah berupaya membantu. Bahkan, pengajuan bantuan perbaikan rumah sempat dilakukan, namun tidak dapat direalisasikan karena lahan dan bangunan tersebut telah beralih kepemilikan.

"Warga dari tingkat RT hingga desa tidak tinggal diam. Kami sudah mengajukan bantuan, tetapi terkendala karena rumah dan lahannya sudah dijual kepada pihak lain," ujar Riadi, Senin (27/4/2026).

Menurut dia, pemerintah desa juga telah berkomunikasi dengan anak Lim Keng yang diketahui masih berada di wilayah Bintan. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas terkait penanganan orang tuanya yang sudah lanjut usia dan membutuhkan perawatan intensif.

"Anaknya ada di Bintan. Terakhir kami komunikasi sekitar dua bulan lalu, tetapi belum ada respons lanjutan. Kami tidak mengetahui kendalanya," katanya.

Riadi menambahkan, secara kondisi fisik Lim Keng sudah sangat rentan. Ia mengalami penurunan penglihatan, kesulitan berjalan, serta gangguan komunikasi akibat faktor usia, sehingga tidak memungkinkan lagi hidup tanpa pendampingan.

Pemerintah desa juga telah berkoordinasi dengan pemilik lahan saat ini. Meski pemilik tidak mempermasalahkan Lim Keng tetap tinggal di lokasi tersebut, kondisi bangunan yang nyaris runtuh dinilai membahayakan keselamatan.

"Pemilik lahan tidak keberatan, tetapi melihat kondisi usia dan kesehatan beliau, jelas sudah tidak memungkinkan tinggal sendiri di rumah seperti itu," tegas Riadi.

Sebagai solusi, desa sempat menawarkan pemindahan Lim Keng ke fasilitas sosial seperti Rumah Bahagia Bintan. Namun, keputusan tersebut masih menunggu persetujuan pihak keluarga.

"Kami sudah menawarkan agar beliau tinggal di Rumah Bahagia Bintan, tetapi pihak keluarga belum memberikan kepastian. Meski begitu, kami akan terus berupaya mencarikan solusi terbaik," tambahnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi rumah Lim Keng sangat memprihatinkan. Struktur bangunan rapuh, bahkan bagian plafon harus disangga kayu agar tidak roboh. Dalam kondisi fisik yang terus menurun, Lim Keng tetap bertahan hidup sendiri dengan bantuan terbatas dari anaknya yang sesekali datang.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait perlindungan lansia dan peran keluarga dalam memastikan kehidupan yang layak bagi orang tua. Di tengah keterbatasan kewenangan akibat status lahan, pemerintah desa berharap ada kepedulian lebih besar dari keluarga maupun pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret sebelum terjadi risiko yang lebih fatal.

Editor: Gokli