Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Mendag Optimistis Industri Tekstil RI Kian Kompetitif, Ekspor TPT Tembus USD 11,98 Miliar
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 17-04-2026 | 11:08 WIB
Indo-Intertex-2026.jpg Honda-Batam
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, saat kunjungan ke pameran Indo Intertex 2026 di Jakarta International Expo, Kamis (16/4/2026). (Kemendag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Perdagangan, Budi Santoso, optimistis kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional akan terus tumbuh positif di tengah dinamika perdagangan global. Menurutnya, kekuatan ekosistem tekstil Indonesia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi modal utama untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun internasional.

Optimisme tersebut disampaikan saat kunjungan ke pameran Indo Intertex 2026 di Jakarta International Expo, Kamis (16/4/2026). "Ekosistem tekstil dan produk tekstil kita sangat baik. Mulai dari bahan baku, industri manufaktur, distribusi, desainer, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semuanya tersedia dan berjalan dengan baik," ujar Budi.

Ia menjelaskan, performa ekspor TPT Indonesia menunjukkan tren konsisten. Sepanjang 2025, nilai ekspor tercatat mencapai USD 11,98 miliar dengan surplus sebesar USD 2,81 miliar. Capaian tersebut mencerminkan daya saing produk tekstil nasional di pasar global.

"Ekspor kita cukup kuat. Jika kualitas terus ditingkatkan dan daya saing terjaga, kita dapat mengendalikan impor sekaligus bersaing dengan produk asing," katanya.

Untuk memperluas pasar ekspor, Budi menekankan pentingnya optimalisasi berbagai perjanjian dagang internasional yang telah dimiliki Indonesia, termasuk dengan Amerika Serikat. Ia menyebut total ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar USD 30 miliar dengan surplus USD 18,11 miliar pada 2025, terbesar dibandingkan mitra dagang lainnya.

"Kita harus menjaga dan memaksimalkan pasar AS sebagai salah satu tujuan utama ekspor," ujarnya.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Budi menilai industri tekstil nasional tetap tangguh dan adaptif. Ia menyebut pelaku usaha mampu mempertahankan daya saing berkat kelengkapan ekosistem industri dalam negeri.

"Secara global semua terdampak, tetapi pelaku usaha kita justru mampu berkompetisi karena ekosistem kita lebih lengkap dibanding negara lain," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Danang Girindrawardana, menekankan pentingnya inovasi untuk menjaga daya saing industri. Ia menyebut pelaku usaha perlu fokus pada efisiensi bahan baku dan modernisasi teknologi produksi.

"Pengendalian impor saat ini sudah berjalan baik. Penegakan hukum terhadap impor ilegal menjadi dorongan positif bagi industri tekstil nasional," ujar Danang.

Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menambahkan bahwa penyelenggaraan Indo Intertex 2026 mendapat respons tinggi dari pelaku industri. Hingga hari kedua, jumlah pengunjung telah melampaui 10 ribu orang, setelah sebelumnya mencapai sekitar 14 ribu pengunjung.

"Partisipasi internasional juga cukup besar. Delegasi dari enam negara ASEAN hadir dalam pameran ini," kata Jemmy.

Sebagai pameran tekstil dan garmen berskala internasional, Indo Intertex menjadi ajang strategis bagi pelaku industri untuk memperluas jaringan bisnis, menjalin kemitraan, serta mendorong pertumbuhan sektor TPT nasional di pasar global.

Editor: Gokli