Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Lonjakan Harga Plastik dan Persoalan Sampah
Oleh : Redaksi
Rabu | 15-04-2026 | 09:08 WIB
1504_galon-isi-ulang-2026.jpg Honda-Batam
Galon isi ulang. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kenaikan harga bahan baku plastik, baik di pasar global maupun domestik, dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan berbagai sektor industri. Lonjakan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik.

Dampaknya, industri manufaktur, kemasan, hingga pelaku usaha makanan dan minuman termasuk UMKM harus menanggung beban biaya produksi yang meningkat. Harga kemasan plastik pun ikut melonjak signifikan.

Di sisi lain, pemerintah pusat dan daerah juga dihadapkan pada persoalan sampah yang terus meningkat. Seiring pertumbuhan penduduk dan konsumsi, volume sampah plastik menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah plastik tercatat sekitar 9-10 juta ton pada 2019 dan terus meningkat menjadi 10,8 juta ton pada 2020, 11,6 juta ton pada 2022, 12 juta ton pada 2023, hingga diproyeksikan mencapai 12,4 juta ton pada 2025. Dalam lima tahun, peningkatan tersebut mencapai sekitar 20-30 persen.

Namun, kapasitas pengelolaan sampah dinilai belum sebanding. Dari total 524 tempat pembuangan akhir (TPA), baru sekitar 25 persen yang dikelola, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.

Dalam kondisi tersebut, kemasan guna ulang seperti galon isi ulang mulai dilirik sebagai alternatif. Selain lebih stabil dari sisi harga, penggunaan kemasan ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menambah timbunan sampah plastik.

Praktisi komunikasi sekaligus Dosen Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas, menyebutkan bahwa konsumen masih cenderung memilih galon guna ulang untuk kebutuhan sehari-hari, baik di rumah maupun tempat kerja.

"Selain mempertimbangkan aspek keamanan dan higienitas, konsumen kini juga semakin peduli terhadap dampak lingkungan," ujar Andre Donas dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Temuan ini sejalan dengan hasil survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG). Peneliti senior PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap galon guna ulang berbahan polikarbonat semakin meningkat.

Survei yang dilakukan pada sejumlah organisasi media, perusahaan, dan instansi pemerintah di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang menunjukkan penggunaan galon guna ulang mencapai 89,36 persen, sementara galon sekali pakai hanya 5,32 persen.

"Alasan utama penggunaannya karena dinilai aman, praktis, tidak menambah sampah, serta minim keluhan selama digunakan dalam jangka panjang," jelas Aan.

Sementara itu, lonjakan harga plastik di Indonesia tercatat mencapai 50 hingga 100 persen hingga April 2026. Kondisi ini mendorong sejumlah pelaku usaha mulai beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, melakukan pendampingan kepada UMKM untuk menggunakan kemasan berbasis bahan alami. Program ini mencakup pembelian kolektif langsung dari produsen lokal guna menekan biaya distribusi, serta pemanfaatan bahan seperti mendong, pandan, dan serat kelapa.

"Kami mendorong penggunaan kemasan berbasis kearifan lokal sebagai alternatif pengganti plastik, mengingat ketersediaannya yang melimpah di DIY," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati.

Editor: Gokli